BANTUL – Kementerian Agama (Kemenag) RI menyayangkan tindakan pembubaran ibadah yang terjadi di Gereja Misa Sejahtera (GMS) Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (24/5/2026). Kemenag mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas insiden tersebut.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menilai aksi anarkis itu semestinya bisa dihindari. Ia meminta semua pihak mengedepankan musyawarah dan pendekatan persuasif demi menjaga kerukunan umat beragama.
“Kami menyesalkan terjadinya kembali aksi pembubaran ibadah jemaah gereja. Tindakan semacam ini semestinya bisa dihindari melalui pendekatan yang lebih persuasif dan mengedepankan musyawarah,” ujar Thobib di Jakarta, Kamis (28/5/2026) dikutip dari laman resmi Kemenag RI.
Thobib menegaskan, Kemenag mendukung penuh proses hukum terhadap pelaku pembubaran. Menurutnya, kekerasan dan tindakan anarkis tidak bisa dibenarkan dalam bentuk apa pun.
“Kami mendukung langkah penegak hukum untuk melakukan tindakan sesuai ketentuan perundang-undangan terhadap setiap aksi anarkisme dan tindak kekerasan,” tegasnya.
Imbau Patuhi Aturan Pendirian Rumah Ibadah
Lebih lanjut, Thobib mengimbau seluruh umat beragama untuk mematuhi regulasi pendirian rumah ibadah sebagaimana diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006.
“Bagaimanapun sampai saat ini, itulah regulasi yang berlaku untuk dijadikan pedoman bersama bagi semua umat beragama,” tuturnya.
Ia juga mengajak semua elemen masyarakat saling menghormati kebebasan beragama dan menjauhi tindakan kekerasan. “Ke depan, musyawarah harus dikedepankan dalam menyelesaikan perbedaan pandangan,” lanjut Thobib.
Polisi Masih Dalami Kasus
Sementara itu, Kapolres Bantul AKBP Bayu Puji Hariyanto pada Selasa (27/5/2026) mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terkait peristiwa tersebut.
“Masih kami dalami dan mohon doanya, dari penyelidik dan penyidik sedang bekerja,” kata Bayu kepada wartawan.
Peristiwa pembubaran ibadah di GMS Bantul ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah unggahan menyebut aksi tersebut dilakukan oleh sekelompok massa.
Penulis : Angga Saputra






