Tiga puluh tahun lebih sudah berlalu sejak Alanis Morissette mengguncang industri musik dengan album Jagged Little Pill. Namun, gebrakan perempuan asal Kanada itu masih terasa hingga kini, bukan hanya karena penjualan 30 juta kopi di seluruh dunia, melainkan karena keberaniannya merobek pakem bahwa perempuan tak boleh marah di depan publik.
Bagi yang sempat hidup di era 90-an, nama Morissette adalah fenomena. Lagu-lagu seperti “Ironic,” “You Oughta Know,” dan “Hand in My Pocket” menjadi semacam himpunan rahasia bagi mereka yang merasa janggal dengan dunia. Namun di balik kesuksesan masif itu, seorang kritikus pernah melabelnya sebagai “wanita kulit putih yang marah” dalam sampul majalah Rolling Stone.
Sekarang, di saat usianya menginjak 41 tahun (wawancara 2015), Morissette justru melihat label tersebut dengan kepala tegak.
“Saya menggunakan kisah hidup saya sebagai studi kasus untuk menggambarkan hal-hal yang saya ingin bagikan. Apakah itu tentang sembuh dari kecanduan, ketenaran, dan masa kecil,” ujarnya kepada music-news.com pada Rabu (8/7/2015).
Fenomena Jagged Little Pill
Tak ada yang menduga album yang dirilis pada 13 Juni 1995 itu akan meledak seperti bom. Saat itu, Morissette masih berusia 21 tahun dan baru saja pindah ke Los Angeles untuk bekerja dengan produser Glen Ballard.
Jagged Little Pill dengan cepat terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya salah satu album terlaris sepanjang masa. Morissette membawa pulang tujuh Grammy Awards sepanjang kariernya, termasuk empat di antaranya langsung pada 1996 untuk kategori Album Rock Terbaik, Lagu Rock Terbaik, dan Penampilan Vokal Rock Wanita Terbaik.
Namun kesuksesan itu bahkan masih membuatnya tak percaya hingga dua dekade kemudian.
“Saat itu saya benar-benar mengalami perubahan cara pandang dalam hidup,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Emosi Perempuan
Yang membedakan Morissette dari musisi alternatif 90-an lainnya adalah keberaniannya menulis lirik yang telanjang. “You Oughta Know” yang penuh amarah, “You Learn” yang mengajak pendengar merangkul pengalaman pahit, hingga “Torch” yang ditulis sebagai refleksi kesedihan saat berpisah dengan aktor Ryan Reynolds.
Bagi sebagian pengamat, emosi yang ditumpahkan Morissette adalah bentuk perlawanan halus terhadap budaya yang kerap meredam suara perempuan.
“Para pria yang menyuruh kita untuk ‘diam’ atau ‘oh dia hanya sedang menstruasi’ secara rutin meremehkan, bahkan merusak, makna memiliki emosi tanpa merasa malu karenanya,” tulis seorang kritikus dalam esainya tentang kemarahan perempuan dalam musik.
Morissette sendiri tak pernah mengklaim sebagai pejuang. Ia hanya jujur.
Dari Ottawa Hingga Panggung Dunia

Lahir di Ottawa, Ontario, pada 1 Juni 1974, Alanis Nadine Morissette adalah anak dari pasangan guru sekolah militer. Masa kecilnya dihabiskan berpindah dari Kanada ke Jerman (1977-1980) sebelum kembali ke Ottawa. Di sanalah ia mulai bermain piano pada usia enam tahun.
Pada usia 14 tahun, Morissette sudah menandatangani kontrak rekaman dan merilis album dance-pop pertamanya yang membuatnya dijuluki “Debbie Gibson-nya Kanada”. Tapi ia tak ingin berhenti di sana.
Setelah lulus SMA, ia pindah ke Toronto, lalu ke Los Angeles. Di sinilah pertemuan dengan Glen Ballard mengubah segalanya.
Kini, lebih dari 60 juta keping album telah terjual di seluruh dunia. Morissette telah membintangi film (Dogma, Jay and Silent Bob Strike Back), tampil di Sex and the City dan Curb Your Enthusiasm, serta menginspirasi musikal panggung yang digarap oleh Diablo Cody.
Namun bagi mereka yang tumbuh dengan “Ironic” di diskman dan rasa marah yang tak tahu hendak ke mana, Alanis Morissette tetaplah suara yang membisikkan: kamu tak sendirian merasa aneh.
Angga Saputra







