PURWOKERTO – Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto, hiruk-pikuk takbir Idul Adha 1447 H/2026 M terdengar khusyuk. Namun yang menarik perhatian pada Rabu (27/5/2026) bukan hanya jumlah hewan kurban, 13 ekor terdiri dari 2 sapi dan 11 kambing, melainkan siapa yang memegang pisau penyembelihan.
Sebagian besar proses penyembelihan hingga pengolahan daging dilakukan langsung oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di bawah pengawasan petugas.
Ini bukan sekadar ritual keagamaan. Bagi Lapas Purwokerto, Idul Adha kali ini dirancang sebagai kelas praktik keterampilan sosial dan vokasional.
“Kami melihat momen kurban sebagai laboratorium hidup. Warga binaan belajar menyembelih sesuai syariat, menguliti, memotong, hingga mengemas daging higienis. Ini bekal nyata bagi mereka keluar nanti,” ujar Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Aliandra Harahap, di sela kegiatan.
Kepala Lapas menambahkan bahwa pelibatan WBP dalam kurban merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian dan kemandirian berbasis keagamaan. Tahun ini, antusiasme warga binaan tinggi. Beberapa dari mereka bahkan mengaku baru pertama kali bertindak sebagai juru sembelih halal.
Satu hewan kurban juga diserahkan ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas IIA Purwokerto sebagai simbol sinergi antarsatuan kerja.
Setelah daging diolah, pembagian ke masyarakat sekitar menjadi puncak kegiatan. Namun yang membedakan: warga binaan sendiri yang ikut mengantarkan daging ke rumah-rumah warga.
“Saya merasa berguna lagi. Selama ini masyarakat lihat saya sebagai ‘narapidana’. Hari ini saya lihat senyum mereka saat terima daging dari tangan saya,” cerita seorang warga binaan yang enggan disebut namanya, dengan mata berbinar.
Warga sekitar pun merespons positif. “Biasanya kami takut. Sekarang lihat langsung masakan dari mereka (WBP) bersih dan tertib. Jadi sadar, mereka juga manusia biasa yang sedang belajar,” ujar Siti, warga Kelurahan Pasir Kidul.
Dengan pendekatan ini, Lapas Purwokerto mengirim pesan: tembok penjara tidak menghalangi seseorang untuk belajar memberi, berkurban, dan bersiap menjadi warga negara yang lebih baik.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra







