BANYUMAS – Wakil Bupati Banyumas sekaligus Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG), Dwi Asih Lintarti, meninjau langsung kondisi siswa MAN 2 Banyumas pascaperistiwa dugaan keracunan makanan, Rabu (12/8/2026).
Data sementara mencatat sebanyak 165 siswa dilaporkan mengalami gejala pusing, mual, dan diare usai mengonsumsi menu MBG, Senin (10/8/2026) lalu. Hingga Rabu pagi, jumlah yang terdata melalui Google Form bertambah menjadi 219 orang, terdiri atas siswa dan tenaga pendidik.
“Dari jumlah itu, 165 siswa mengalami keluhan sakit. Sebanyak 61 orang dinyatakan sembuh, sementara 104 siswa masih dalam kondisi sakit. Sisanya 54 orang tidak mengalami keluhan,” ujar Dwi Asih di lokasi peninjauan.
Sayur Berlendir & Ayam Berbau Jadi Temuan Awal
Dalam penanganan awal, tim menemukan sejumlah catatan terkait kondisi menu makanan, khususnya sayur pokcoy jagung yang dilaporkan berlendir serta ayam woku yang berbau kurang sedap.
Namun, Dwi Asih menegaskan temuan itu masih bersifat awal dan belum dapat dijadikan kesimpulan final.
“Kita masih menunggu hasil pemeriksaan dan uji sampel. Jangan sampai kita mendahului hasil laboratorium. Yang terpenting sekarang adalah memastikan anak-anak yang sakit mendapat penanganan dan terus dipantau,” tegasnya.
Langkah Cepat: Pendataan hingga Pemantauan
Satgas MBG bersama jajaran terkait telah bergerak cepat melakukan sejumlah langkah, antara lain:
· Pendataan korban dan populasi berisiko
· Konseling serta sosialisasi kepada penderita
· Pemantauan kondisi siswa secara berkelanjutan
· Kunjungan ke SPPG Mersi 2 bersama Camat, Kapolsek, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas
· Pengambilan sampel makanan untuk uji laboratorium
“Kami ingin penanganan cepat, tapi tetap berdasarkan data dan pemeriksaan objektif,” tambahnya.
Jenguk Siswa, Beri Dukungan Moral
Usai meninjau, Dwi Asih bersama rombongan Forkopimcam dan OPD terkait menyempatkan diri menjenguk salah satu siswa yang masih dirawat. Kunjungan itu untuk melihat langsung kondisi siswa sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga.
Dwi Asih menekankan, keselamatan dan kesehatan penerima manfaat adalah prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG.
“Program MBG harus memberi manfaat. Makanan yang diberikan harus aman, layak, bergizi, dan memenuhi standar kesehatan,” katanya.
Koordinasi Lintas Sektor Terus Digencarkan
Dwi Asih menambahkan, koordinasi lintas sektor akan terus dilakukan sembari menunggu hasil uji sampel dari laboratorium.
“Kami akan terus memantau perkembangan kasus ini. Mudah-mudahan anak-anak yang masih sakit segera pulih. Dari hasil pemeriksaan nanti, kita bisa mendapatkan gambaran jelas sehingga langkah selanjutnya bisa tepat sasaran,” pungkasnya.
Pewarta : Alri Johan
Editor: Angga Saputra







