INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

RAHMAH EL-YUNUSIYAH, PEREMPUAN YANG MEMBELAI FAJAR

RAHMAH EL-YUNUSIYAH, PEREMPUAN  YANG MEMBELAI FAJAR

Mikhail Adam.

Minggu, 21 Juni 2026

Mikhail Adam (Peneliti Ekopol di Nusantara Centre).

Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Rahmah el-Yunusiyah, adalah tokoh keempat dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.

Di Padang Panjang, kota kecil yang bertengger di lereng Bukit Barisan, fajar selalu datang dua kali. Pertama, dari ufuk timur seperti biasa. Kedua, dari sebuah rumah kayu sederhana yang jendelanya jarang tertutup, karena di situlah seorang perempuan muda bernama Rahmah El-Yunusiyah menyalakan api kecil yang kelak berubah menjadi matahari bagi kaum perempuan Nusantara.

Orang-orang Minangkabau menyebutnya padusi sakti: perempuan yang langkahnya senyap, tetapi kata-katanya mengguncang adat dan mimbar. Lahir pada 29 Oktober 1900, tetapi sejarah seperti menunggu hingga ia berusia 23 tahun untuk benar-benar membuka buku tentang dirinya. Ini tahun ketika ia mendirikan Diniyah Puteri, sekolah perempuan pertama di Nusantara yang tidak hanya mengajarkan membaca, berhitung, dan agama, tetapi juga keterampilan hidup, kemandirian, dan keberanian untuk menjadi manusia utuh.

Padang Panjang awal abad ke-20 adalah kota yang riuh oleh persilangan: kereta api kolonial menderu, pergerakan kaum muda berdebat, dan gempa bumi 1926 meruntuhkan dinding-dinding. Semua seolah mengingatkan manusia bahwa sejarah tidak pernah diam di tanah vulkanik.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Rahmah seperti mendengar suara masa depan memanggilnya. “Bangunlah perempuanmu,” kata suara itu. Mungkin datang dari angin yang menuruni Gunung Marapi, atau dari doa panjang ibunya. Atau dari kenangan tentang kakaknya, Zainuddin Labay El-Yunusy, sang pendidik yang lebih dulu melawan ketertinggalan.

Di Padang Panjang, sistem adat matrilineal bertemu kolonialisme. Perempuan memiliki posisi sosial kuat dalam garis keturunan, tetapi akses pendidikan tetap sempit. Mereka menjadi pemilik rumah, tetapi bukan pemilik masa depan.
Rahmah melihat itu sebagai kontradiksi yang menyakitkan: perempuan diagungkan secara adat, tetapi disempitkan secara intelektual. Kaum perempuan terkunci oleh sistem kolonialisme. Baginya, keterbelakangan bukan nasib, melainkan strategi penjajahan.

Dan, ia memutuskan untuk menentangnya. Untuk Memperjuangkan kaumnya.
Ketika Rahmah mendirikan Diniyah Puteri pada 1923, banyak yang mengernyit.
“Perempuan belajar tinggi untuk apa? Apakah tidak cukup mereka di rumah?” Rahmah hanya tersenyum, menatap sawah yang berkilat setelah hujan, seolah di sana ia melihat helaian masa depan: perempuan-perempuan yang berpikir, memimpin, dan berdiri setara di hadapan dunia.

Sekolah itu dimulai dari surau kayu kecil. Dindingnya sederhana, tetapi visinya luas seperti langit. Rahmah memperkenalkan kurikulum yang jauh mendahului zamannya: pendidikan agama, keterampilan hidup, kesehatan, kepemimpinan, bahkan ketahanan mental.

Ia seolah tahu bahwa penjajahan tidak hanya menguasai tanah, tetapi juga kepala dan tubuh. Diniyah Puteri berkembang cepat. Saat gempa besar 1926 menghancurkan sebagian kota, Rahmah membuka kembali sekolah hanya dalam tiga bulan, menjadikannya pusat pemulihan sosial. Di situ, sejarah mencatat bahwa perempuan bisa menjadi pilar saat dunia runtuh.

Rahmah menghadapi Belanda, Jepang, pergolakan lokal, konflik pemikiran, dan politik muda Republik. Namun sejarah seperti melindunginya. Ia tidak memegang senjata, tetapi sekolahnya melahirkan generasi yang kemudian menjadi perawat perang, guru darurat, dan pejuang kemerdekaan.

Jika revolusi Indonesia memiliki dada, maka Rahmah memompa sebagian keberaniannya. Dari suara nurani Rahmah menghasilkan suara jernih dan futuristik: “Jika ingin membangun bangsa, bangunlah perempuan. Karena dari rahim dan akalnya, masa depan dilahirkan.” Kata-kata itu seperti mantra yang menembus waktu. Memandu sejarah, memandu langkah Republik muda. Pada 1955, pemerintah Mesir di bawah Presiden Gamal Abdel Nasser mengundang Rahmah dalam Konferensi Asia–Afrika bidang pendidikan Islam.

Ia hadir bukan sekadar tamu; ia adalah inspirasi. Al-Azhar, universitas Islam tertua di dunia, terkesan oleh model pendidikan Diniyah Puteri yang memadukan ilmu agama dan keterampilan modern. Di Kairo, Rahmah berdiri di depan para ulama besar, bukan hanya sebagai tamu kehormatan, tetapi sebagai cermin masa depan. Mereka kemudian menyatakan: pendidikan perempuan harus menjadi bagian dari sistem Al-Azhar.

Dan, tokoh Rahmah menjadi perempuan pertama di dunia yang menerima gelar kehormatan dari Al-Azhar. Saat itu, Nusantara mungkin belum sepenuhnya sadar, tetapi dunia telah menobatkannya sebagai pemimpin peradaban. Pada akhir hayatnya, Rahmah berjalan pelan. Tetapi sekolahnya berdiri tegar, melampaui zaman yang berganti-ganti seperti cuaca. Ia wafat pada 26 Februari 1969, namun kota Padang Panjang tetap memiliki dua fajar: satu di langit, satu lagi di Diniyah Puteri.

Setiap pagi, seragam para murid berkibar seperti teks-teks yang belum selesai ditulis.
Seolah Rahmah berbisik: “Jangan biarkan masa depanmu gelap. Jika dunia gelap, jadilah cahaya itu.” Sejarah Indonesia sering menempatkan perempuan sebagai catatan kaki. Rahmah El-Yunusiyah membalik halaman itu. Ia bukan hanya guru. Ia bukan hanya pendiri sekolah. Ia adalah insinyur sosial yang membentuk ulang hubungan perempuan dengan pendidikan. Dia adalah insinyur yang membangun peradaban.

Ia melawan kolonialisme tanpa senjata, menantang patriarki tanpa mikrofon, dan mengubah kebijakan pendidikan global tanpa birokrasi. Nama Rahmah El-Yunusiyah dalam dunia pendidikan seperti revolusi sunyi. Tak dikenali, tak digali. Warisannya semerbak wangi, tetapi hanya sedikit yang menghayatin. Padahal, di hati perempuan Indonesia, ia adalah pintu yang dibuka dengan penuh keberanian.

Dan, dalam ingatan peradaban, ia adalah bukti bahwa perubahan besar sering dimulai oleh seseorang yang tahu betul bahwa dunia dapat dirawat, asal ada keberanian untuk membelai satu fajar baru. Kita membutuhkan tokoh-tokoh sepertinya lebih banyak.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Ada 27 Kecelakaan KA hingga Juni 2026, KAI Daop 5 Purwokerto: Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Selanjutnya

Tolak PKL Kembali ke Jalan Vihara, 100 Warga Purwokerto Wetan Teken Petisi dan Pasang Spanduk Protes

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Tolak PKL Kembali ke Jalan Vihara, 100 Warga Purwokerto Wetan Teken Petisi dan Pasang Spanduk Protes

Tolak PKL Kembali ke Jalan Vihara, 100 Warga Purwokerto Wetan Teken Petisi dan Pasang Spanduk Protes

Minggu, 21 Juni 2026

RAHMAH EL-YUNUSIYAH, PEREMPUAN  YANG MEMBELAI FAJAR

RAHMAH EL-YUNUSIYAH, PEREMPUAN YANG MEMBELAI FAJAR

Minggu, 21 Juni 2026

Ada 27 Kecelakaan KA hingga Juni 2026, KAI Daop 5 Purwokerto: Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Ada 27 Kecelakaan KA hingga Juni 2026, KAI Daop 5 Purwokerto: Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Minggu, 21 Juni 2026

Selanjutnya
Tolak PKL Kembali ke Jalan Vihara, 100 Warga Purwokerto Wetan Teken Petisi dan Pasang Spanduk Protes

Tolak PKL Kembali ke Jalan Vihara, 100 Warga Purwokerto Wetan Teken Petisi dan Pasang Spanduk Protes

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com