BANYUMAS – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas mengintensifkan program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) sebagai langkah strategis menekan angka kehamilan di kalangan pelajar yang masih memprihatinkan. Sepanjang tahun 2025, tercatat 435 kasus kehamilan anak usia sekolah di wilayah Banyumas.
Hal ini mengemuka dalam rapat koordinasi BRUS yang digelar di Aula Kemenag Banyumas, Rabu (5/8). Kepala Kantor Kemenag Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaduddin, S.Ag., M.Pd., memimpin langsung rapat tersebut dan memberikan arahan tegas kepada seluruh jajaran pegawai.
Tiga Kunci Kinerja Ala John Maxwell
Dalam sambutannya, Ibnu mengutip filosofi kepemimpinan John Maxwell yang menekankan tiga hal fundamental bagi aparatur negara, khususnya di lingkungan Kemenag:
“Pertama, We know the way – kita harus benar-benar paham aturan, SOP, dan landasan hukum setiap langkah kerja. Tidak cukup hanya hafal, tetapi harus memahami maknanya,” ujar Ibnu.
“Kedua, We go the way – kita sudah melangkah dan melaksanakan tugas sesuai aturan. Namun yang masih menjadi tantangan kita semua adalah poin ketiga, yaitu We show the way – kita belum cukup mampu menampilkan teladan dan hasil kerja nyata kepada masyarakat luas,” tambahnya.
Patuh Aturan, Bijak di Lapangan
Ibnu menegaskan bahwa setiap pelaksanaan kegiatan wajib merujuk pada Surat Keputusan terbaru dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Ia mencontohkan, narasumber manasik haji harus memiliki sertifikat resmi.
“Meski di lapangan sering ditemui kondisi tidak ideal – seperti adanya tokoh agama yang sangat dihormati dan berilmu namun belum memiliki sertifikat – penyelesaian harus dilakukan dengan bijaksana. Tetap berpegang pada aturan namun menghargai kearifan lokal,” jelasnya.
Optimalisasi Media Sosial untuk Glorifikasi Kinerja
Terkait publikasi, Kepala Kantor mengingatkan agar jajaran tidak hanya berhenti pada laporan sederhana di grup percakapan. Ia mendorong pemanfaatan seluruh kanal media yang tersedia, mulai dari akun resmi TikTok, Facebook, Instagram, YouTube, hingga media massa dan koran.
“Satu kegiatan yang kita laksanakan bisa diolah menjadi berbagai bentuk informasi. Jika satu berita disebarkan oleh dua puluh lima orang, dan masing-masing membagikannya di empat platform media sosial, dampaknya akan sangat luas,” paparnya.
“Segala biaya, waktu, dan tenaga yang sudah dikeluarkan negara harus bisa dilihat manfaatnya oleh masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan glorifikasi – bukan memuji diri sendiri, melainkan menampakkan segala prestasi dan hasil kerja yang sudah kita upayakan bersama,” tegas Ibnu.
Laporan Capaian vs Rencana
Ibnu juga membedakan secara tegas antara capaian nyata dengan rencana kerja. “Hal yang sudah terlaksana dan memiliki hasil nyata layak disampaikan kepada publik, sedangkan rencana yang belum terwujud belum bisa dilaporkan sebagai capaian,” jelasnya.
Di akhir sambutan, Ibnu memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah menunjukkan kinerja baik dan mengajak semua pihak untuk terus bersinergi, saling melengkapi, serta menjaga kebersamaan dalam menjalankan amanah.
“Mari kita pastikan setiap langkah kita benar, setiap hasil kita bermanfaat, dan setiap kerja keras kita bisa menjadi teladan bagi masyarakat yang kita layani,” pungkasnya.
Program BRUS sendiri merupakan inisiatif Kemenag Banyumas yang menyasar remaja usia sekolah dengan pendekatan keagamaan dan pendidikan karakter, guna mencegah pernikahan dini dan kehamilan di luar nikah yang masih menjadi persoalan serius di kabupaten tersebut.
Penulis: Angga Saputra








