Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Di satu kurun waktu yang tak jelas data kalendernya, di hamparan hutan raya bernama Hutan Hujan Tropis, di area lembah yang terhampar padang rumputnya, ada dua kelompok penghuni yang jalan hidupnya tak serupa sama sekali.
Kawanan Pertama: Homo Homini Lupus
Itulah serigala. Mereka jujur dalam kebuasan. Kalau lapar, langsung menerkam. Kalau berebut kekuasaan, langsung bertarung dengan taring terlihat jelas. Penduduk rimba tahu betul: siapa yang menggeram keras, itulah yang harus diwaspadai. Tidak ada sandiwara, tidak ada topeng. Bahayanya terang benderang di siang hari.
Kawanan Kedua: Homo Homini Socius
Itulah manusia. Mereka belajar hidup bersama. Membangun lumbung untuk dimakan bersama, membangun pagar untuk melindungi semuanya. Mereka sadar: hutan ini bukan milik siapa yang paling kuat, melainkan milik semua yang tinggal di dalamnya. Dengan kesadaran itulah mereka menguasai api, menumbuhkan akal budi, dan menjadi pelindung yang dipercaya seisi rimba.
Namun waktu berjalan panjang. Garis batas antara dua dunia itu perlahan lenyap. Dua sifat itu tak lagi berdiri terpisah, melainkan menyatu dalam persilangan yang aneh dan mengerikan.
Maka lahirlah makhluk baru: Homo Lupus Socius.
Bukan serigala yang jujur dengan kebuasannya. Bukan pula manusia yang setia pada janji bersama. Ia adalah perpaduan yang membawa kebingungan sejauh mata memandang.
Ia tidak lagi melolong, melainkan belajar mengembik sehalus domba. Setiap kali berbicara, suaranya lembut dan penuh kata manis: “Semua ini demi hutan kita”, “Ini anugerah untuk kalian semua”, “Kita jalan bersama tanpa ada yang tertinggal”. Padahal di balik kata-kata itu, taringnya tetap terasah tajam, disembunyikan rapi di balik senyum yang tak pernah lepas dari wajah.
Ia memakai selimut berbulu putih yang tampak suci. Di atasnya tertulis berbagai nama indah: gotong royong, kemajuan, kesejahteraan rakyat. Namun di balik kain itu, cakarnya terus bekerja mencengkeram apa saja yang bisa diambil.
Ia makan apa saja yang ada di hutan ini. Makan isi lumbung warga, makan uang yang dikumpulkan untuk jalan dan sumur, makan harapan yang ditanamkan sejak lama. Dan ketika ada yang bertanya, ia menjawab tenang: “Ini semua demi pertumbuhan kalian. Ini nutrisi agar hutan ini makin subur.”
Ia pandai berganti rupa secepat kilat. Pagi hari tampak seperti saudara yang siap mendengarkan keluh kesah. Siang hari berubah menjadi pedagang yang mengurus urusan besar. Sore hari tampak seperti orang suci yang memberi nasihat. Tak ada yang tahu mana wajah aslinya, mana yang sekadar pementasan.
Setiap kali bulan purnama naik tinggi, mereka mengadakan pesta besar di tengah lapangan hutan. Spanduk berwarna-warni terpasang rapi di setiap jalan masuk, bertuliskan janji-janji yang manis di lidah. Musik terdengar meriah, pidato mengalir penuh haru. Sementara itu, di sudut-sudut lain, keranjang pemberian untuk anak-anak dan orang tua perlahan-lahan dikosongkan.
Penghuni rimba yang lain hanya bisa berdiri terpaku. Harimau pun bimbang, buaya pun diam mematung. Kalau hendak menegur, diserang dengan tuduhan: “Kamu ingin merusak persatuan hutan ini?” Kalau membiarkan saja, maka sedikit demi sedikit apa yang menjadi milik bersama akan habis tak bersisa.
Mereka kini menguasai hutan ini bukan dengan raungan yang menggetarkan bumi, melainkan dengan janji yang halus. Bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan aturan yang dibuat-buat untuk kepentingan sendiri.
Dan bagaimana nasib penghuni hutan yang lain?
Burung-burung yang dulu terbang bebas kini sayapnya terasa berat. “Katanya kita semua akan naik bersama, mengapa sarang kita semakin sempit dan pakan semakin sulit dicari?” tanya mereka sambil menatap langit yang mulai tertutup awan kelabu.
Semut-semut yang bekerja siang malam mengangkut butiran gandum kini tubuhnya semakin kurus. “Katanya hasil kerja keras kita akan dibagi rata, mengapa hanya sedikit saja yang sampai ke perut kita?”
Para petani yang menanam benih dengan keringat sendiri melihat ladangnya makin subur, namun perutnya sendiri sering kali kosong. “Ke mana pergi hasil panen yang berlimpah ini?”
Di antara pepohonan yang mulai rimbun namun hati yang mulai gersang, terdengar bisik-bisik yang pelan namun berat maknanya:
“Kalau begini terus, mungkin lebih baik hutan ini terbakar saja sekalian…”
“Biar semua topeng dan sandiwara hangus bersama apinya. Biar dari abu yang bersih, kita bisa menanam kembali apa yang benar-benar milik kita.”
Itu bukan ucapan yang lahir dari kebencian semata. Itu adalah suara yang lahir dari perut yang terlalu lama menahan lapar, dari hati yang terlalu sering dibohongi.
Hati-hati: Taring Tak Selalu Terlihat
Hutan ini tidak membutuhkan lebih banyak serigala yang terang-terangan menerkam. Sebab bahaya mereka mudah dikenali.
Hutan ini juga tidak membutuhkan sekumpulan domba yang hanya tahu diam dan menelan semua kenyataan tanpa berani bertanya.
Apa yang benar-benar kita butuhkan adalah penjaga sejati. Penjaga yang taringnya ada untuk melindungi yang lemah, bukan untuk mengoyak hak orang lain. Penjaga yang senyumnya tulus menyapa, bukan untuk menutupi keinginan mengambil milik orang lain.
Karena makhluk yang paling berbahaya di hutan ini bukanlah yang paling buas. Melainkan yang pandai menyembunyikan kebuasan di balik suara yang paling lembut, janji yang paling manis, dan penampilan yang paling suci.
Bahaya terbesar bukanlah ketika kita diserang secara terang-terangan. Melainkan ketika kita sudah tidak mampu lagi membedakan: siapa kawan yang siap berbagi, dan siapa lawan yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
Dan saat kita sudah kehilangan kemampuan membedakan keduanya… itulah saat di mana pesta pora mereka akan berlangsung selamanya.
Ajibarang, 21 Juli 2026







