PEKALONGAN — Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan, menyoroti ancaman perubahan demografi terhadap penerimaan mahasiswa baru (PMB) di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Hal itu disampaikannya dalam Forum Admisi UIN se-Jawa-Madura bersama Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Amin Suyitno, di Working Space Kafe Garwo UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan, Kamis (10/9/2026).
Forum tersebut diikuti para rektor UIN se-Jawa-Madura beserta tim admisi masing-masing kampus. Dari UIN Saizu, hadir pula Kepala Pusat Promosi dan Informasi Mahasiswa Baru (PPIMB) Dr. Sumiarti.
Dalam forum yang dimoderatori Rektor UIN Gus Dur Pekalongan, Prof. Zaenal Mustaqim, itu, Prof. Ridwan memaparkan data bahwa rata-rata jumlah anak dalam keluarga Indonesia pada 2024 hanya 2,6, turun drastis dibandingkan sekitar lima anak pada 1970. Fenomena regrouping atau penggabungan sekolah dasar di sejumlah daerah, menurutnya, menjadi gambaran nyata dari perubahan demografi tersebut.
“Artinya, jumlah calon mahasiswa dari tahun ke tahun semakin sedikit. Ini adalah sebuah fakta ketika kita ingin menaikkan jumlah pendaftar, padahal di saat yang sama angka kelahiran semakin kecil,” jelasnya.
Selain faktor demografi, Prof. Ridwan menyoroti pergeseran orientasi calon mahasiswa dari pendidikan akademik ke vokasi. Menurutnya, perubahan itu perlu direspons PTKIN dengan menjadikan pengembangan program studi vokasi sebagai kebijakan strategis.
“Perubahan zaman ini menjadi tantangan sekaligus sinyal agar kita bersiap, salah satunya dengan menjadikan pengembangan prodi vokasi di PTKIN sebagai kebijakan strategis,” katanya.
Ia juga menyoroti fenomena meningkatnya jumlah pendaftar yang tidak sebanding dengan jumlah calon mahasiswa yang melakukan registrasi. Menurutnya, hal itu perlu dikaji melalui riset karena dipengaruhi berbagai variabel. Tim admisi, lanjut dia, tidak hanya bertugas meningkatkan jumlah pendaftar, tetapi juga meyakinkan calon mahasiswa akan keunggulan PTKIN melalui penguatan social trust.
Menanggapi hal itu, Prof. Amin Suyitno menyampaikan bahwa pengembangan program studi di PTKIN saat ini diarahkan pada tiga varian, yakni akademik, profesi, dan vokasi. Ia menegaskan rektor memiliki keleluasaan mengusulkan program studi baru dengan tetap memperhatikan relevansi dan benchmark pasar.
“Dalam PMA tentang prodi, rektor punya keleluasaan untuk mengusulkan prodi baru. Kita perlu mengembangkan dengan memperhatikan epistemologi dan benchmark pasar,” ungkapnya.
Terkait Fakultas Kedokteran, Prof. Amin mendorong PTKIN memanfaatkan peluang pengembangannya sebagai bagian dari penguatan identitas UIN. Sementara untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU), ia mengingatkan perguruan tinggi memenuhi seluruh standar yang dipersyaratkan, mulai dari dosen hingga infrastruktur.
Secara khusus, Prof. Amin menilai persoalan penurunan pendaftar yang disampaikan UIN Saizu perlu diriset, termasuk keterkaitannya dengan perubahan demografi.
“Untuk UIN Saizu Purwokerto, betul penurunan pendaftar dan demografi harus diriset. Saya setuju sudah ada statuta rektor boleh mendirikan pusat,” tegasnya.
Forum ditutup dengan kesepahaman bahwa persoalan admisi PTKIN membutuhkan respons bersama dan berbasis data. Pertukaran gagasan antara rektor, tim admisi, dan Dirjen Pendis diharapkan melahirkan strategi baru dalam menghadapi perubahan demografi, tren pilihan pendidikan, serta dinamika penerimaan mahasiswa baru.
Pewarta: Alri Johan
Editor: Angga Saputra







