Andreas Fafandreo
Seniman Independen
Beberapa waktu lalu saya menulis surat kepada wali kelas anak saya. Surat itu saya tulis tidak karena sebuah kemarahan, melainkan sebab kegelisahan yang semakin lama semakin sulit saya abaikan.
Sebagai orang tua, saya melihat anak saya belajar dengan sungguh-sungguh. Ia menghabiskan waktu membaca materi, mengerjakan latihan, dan berusaha memahami pelajaran yang diajarkan di sekolah. Saya percaya banyak orang tua lain juga melihat hal yang sama pada anak-anak mereka.
Namun di tengah usaha itu, ada kenyataan yang terasa pahit. Karena ada saja anak yang memperoleh nilai tinggi bukan karena memahami pelajaran lebih baik, melainkan karena memiliki bocoran soal dan menggunakan contekan saat ujian berlangsung.
Mungkin bagi sebagian orang, ini dianggap hal biasa. Dianggap sebagai kenakalan anak-anak. Cuma cara agar nilai tidak jelek. Tetapi sesungguhnya persoalan ini jauh lebih serius daripada angka yang tercetak di rapor.
Yang dipertaruhkan bukan cuma nilai. Yang dipertaruhkan adalah makna pendidikan itu sendiri.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang di mana usaha, kejujuran, dan kemampuan memperoleh penghargaan yang layak. Anak-anak diajarkan bahwa kerja keras akan membuahkan hasil, bahwa integritas adalah sesuatu yang bernilai, dan bahwa keberhasilan harus diraih melalui cara-cara yang benar.
Namun pesan itu nampaknya menjadi kabur manakala kami, para orang tua murid melihat kenyataan yang jauh berbeda.
Bayangkan, seorang anak yang belajar berhari-hari untuk menghadapi ujian harus mempelajari banyak materi, yang mungkin tidak akan keluar dalam soal. Ia berusaha memahami konsep, bukan menghafal jawaban.
Lalu pada hari ujian, beberapa anak melihat dengan mata kepala mereka sendiri ada teman yang hanya menghafal jawaban soal bahwkan sampai membawanya ke dalam kelas, tetapi memperoleh nilai yang sama, bahkan lebih tinggi.
Dalam situasi seperti itu, luka terbesar kita bukan lagi kalah peringkat.
Luka terbesarnya adalah ketika muncul pertanyaan di dalam hati seorang anak:
“Apakah kejujuran masih layak dipertahankan?”
Pertanyaan itulah yang seharusnya membuat kita semua khawatir.
Karena ketika seorang anak mulai meragukan nilai kejujuran, sesungguhnya pendidikan sedang kehilangan salah satu tujuan utamanya.
Kita sering berbicara tentang pentingnya membangun generasi unggul. Kita berlomba-lomba meningkatkan nilai akademik, angka kelulusan, dan prestasi sekolah. Namun sering kali kita lupa bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya.
Kecerdasan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan orang-orang yang pandai mencari celah. Mereka mungkin mampu menjawab soal ujian, namun akan miskin solusi saat menghadapi permasalahan, dan parahnya, dalam jangka panjang, mereka belum tentu mampu menjaga amanah ketika kelak memegang jabatan, mengelola perusahaan, atau mengurus kepentingan publik.
Karena itu saya selalu merasa bersyukur ketika ada guru yang berani melakukan evaluasi ulang secara objektif. Tes mendadak, remedial yang benar-benar menguji kemampuan, atau bentuk penilaian lain yang membuat setiap anak harus mengandalkan dirinya sendiri.
Dalam situasi seperti itulah kemampuan yang sesungguhnya terlihat.
Tidak jarang hasilnya sangat berbeda dengan ujian sebelumnya. Ada nilai yang turun drastis. Ada pula anak-anak yang selama ini tampak biasa saja ternyata menunjukkan pemahaman yang luar biasa.
Dari sana kita belajar satu hal penting: kebenaran mungkin bisa tertunda, tetapi tidak mudah disembunyikan selamanya.
Tentu tulisan ini bukan untuk menyalahkan guru, sekolah, ataupun orang tua tertentu. Namun, dunia pendidikan kita sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Ada tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi yang datang dari berbagai arah. Anak-anak ingin berprestasi. Orang tua ingin melihat hasil terbaik. Sekolah ingin menunjukkan capaian yang membanggakan.
Namun justru karena itulah kita perlu kembali mengingat tujuan awal pendidikan.
Sekolah bukan pabrik nilai.
Sekolah adalah tempat membentuk manusia.
Jika yang kita kejar hanya angka, maka bocoran soal akan selalu menemukan tempatnya. Contekan akan selalu dianggap solusi. Dan kejujuran perlahan akan dianggap sebagai sikap yang merugikan.
Tetapi jika yang kita bangun adalah karakter, maka setiap bentuk kecurangan harus dipandang sebagai kegagalan bersama yang perlu diperbaiki.
Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh berapa banyak anak yang mendapatkan nilai sempurna.
Masa depan bangsa ditentukan oleh berapa banyak anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras lebih berharga daripada jalan pintas, bahwa integritas lebih penting daripada pujian sesaat, dan bahwa keberhasilan sejati adalah keberhasilan yang diraih dengan cara yang benar.
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak dibangun oleh orang-orang yang berhasil saja. melainkan dibangun oleh orang-orang yang berhasil DENGAN CARA YANG BENAR.






