BANYUMAS – Sebanyak 50 santri perwakilan dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Banyumas mendapat bekal khusus dalam dunia digital. Mereka mengikuti Pelatihan Media Digital yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) setempat bersama Baznas Kabupaten Banyumas, Senin (20/7/2026), di MAN 2 Banyumas.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan generasi pesantren yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam mengelola konten di tengah gempuran era digital.
Pelatihan yang berlangsung penuh antusiasme ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaduddin, M.Pd. Turut hadir dalam pembukaan tersebut Ketua Baznas Banyumas Hj. Khasanatul Mufidah, Ketua IV Baznas KH. Abdul Qodir, serta jajaran pejabat Kankemenag Banyumas.
Kehadiran para tokoh ini menegaskan sinergi kuat antara Kementerian Agama dan Baznas dalam mencetak santri yang adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya di bidang teknologi informasi.
Dalam laporannya, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kankemenag Banyumas, H. Faisal Reza, menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali para santri dengan keterampilan dasar pengelolaan media digital. Mulai dari pemahaman tren media sosial, hingga teknik membuat konten kreatif yang bernilai edukasi.
“Santri masa kini tidak cukup hanya mengandalkan penguasaan kitab kuning. Mereka harus punya kecakapan digital agar bisa menyampaikan nilai-nilai Islam yang damai melalui medium yang dekat dengan masyarakat, yaitu internet. Kami berharap peserta bisa menjadi pelopor media digital di lingkungan pesantren masing-masing,” tegas Faisal Reza di hadapan para peserta.
Hadir sebagai fasilitator utama, Direktur MediaMorphosis, Rujito, M.Sos, bersama Edi Aprilianto dari Tim Media Baznas Banyumas. Mereka membawa materi yang aplikatif, mulai dari perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, pembuatan desain grafis, hingga produksi video pendek sebagai sarana dakwah yang kekinian.
Menurut Rujito, teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) kini menjadi pisau bermata dua. Namun, bagi santri, hal itu justru harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas syiar Islam.
“Jangan biarkan ruang digital hanya dikuasai oleh konten negatif. Santri harus tampil sebagai kreator. Mereka punya bekal akhlak dan ilmu yang kuat. Tinggal bagaimana mengemasnya dengan pendekatan komunikasi yang tepat. Teknologi hanyalah alat, yang terpenting nilai dan etika tetap menjadi fondasi,” ujar Rujito dalam sesi pemaparannya.
Para peserta tidak hanya duduk mendengarkan teori. Mereka juga diajak praktik langsung membuat visual dan memproduksi video pendek menggunakan perangkat sederhana. Pendekatan hands-on ini dipilih agar ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan begitu kembali ke pondok.
Antusiasme terlihat sepanjang sesi diskusi. Para santri aktif bertanya seputar strategi membangun branding media pesantren, cara menjangkau audiens yang lebih luas, hingga etika berkomentar di ruang publik digital.
Melalui kegiatan ini, Kankemenag dan Baznas Banyumas optimis akan lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga adaptif terhadap teknologi. Dengan bekal literasi digital yang mumpuni, diharapkan mereka mampu menjadi penggerak dakwah digital yang menyejukkan serta menyebarkan konten positif yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pesantren dan media digital bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan bisa bersinergi untuk kemajuan dakwah Islam di Indonesia.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra








