INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Jejak Legenda: Perjalanan Karier Fariz RM, Musisi Multi-Genre yang Karyanya Abadi

Jejak Legenda: Perjalanan Karier Fariz RM, Musisi Multi-Genre yang Karyanya Abadi

Fariz Rustam Manaf/Fariz RM (instagram @fariz_rm_official).

Minggu, 19 April 2026

Musisi legendaris Indonesia, Fariz RM, tak bisa dilepaskan dari sejarah inovasi musik pop, jazz, dan rock Tanah Air. Perjalanan panjangnya yang dimulai sejak usia belia telah melahirkan karya-karya abadi yang melintas generasi.

Dari Young Gipsy Hingga Debut Gemilang

Perjalanan musik Fariz RM dimulai saat usianya baru 12 tahun. Saat itu, ia membentuk band bernama Young Gipsy yang membawakan aliran blues dan rock. Bakat mudanya sudah terlihat jelas, meski industri musik Indonesia saat itu belum sekompetitif sekarang.

Puncak pengenalannya sebagai musisi dewasa terjadi pada tahun 1980 melalui album Sakura. Yang istimewa, album tersebut diproduseri dan dimainkan sendiri oleh Fariz—sekaligus menunjukkan kemampuannya sebagai multi-instrumentalis sejak awal karier.

Mengapa Fariz RM Begitu Berpengaruh?

Keunggulan utama Fariz RM terletak pada kemampuannya memadukan berbagai genre musik—pop, jazz, dan rock—dalam satu aransemen yang harmonis. Album Sakura menjadi bukti nyata: lagu-lagu seperti “Sakura” dan “Selangkah ke Seberang” tidak hanya hits, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam sejarah musik Indonesia.

Menariknya, “Selangkah ke Seberang” kembali mendapatkan napas baru ketika dibawakan ulang oleh White Shoes & The Couple Company beberapa tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa karya Fariz RM tetap relevan lintas masa.

Aransemen yang kaya dan segar memberikan warna baru di industri yang saat itu didominasi musik Melayu dan pop sederhana. Fariz tidak sekadar bernyanyi, ia juga memainkan gitar, piano, dan keyboard—menghasilkan musik yang kompleks namun mudah dinikmati.

Kesuksesan Beruntun: Panggung Perak hingga Living in the Western World

Setelah Sakura, Fariz RM tidak berhenti. Album Panggung Perak (1981) melanjutkan tren inovatifnya, memperkuat posisinya di puncak industri musik Indonesia.

Puncak komersial lainnya diraih melalui album Living in the Western World (1988), yang berhasil memenangkan penghargaan Penjualan Album Terbanyak dari BASF Awards 1989. Album ini melahirkan hits besar seperti “Barcelona”, “Iman dan Godaan”, serta “Lepas Kontrol”.

Lagu-lagu tersebut hingga kini masih akrab di telinga pencinta musik Tanah Air, bahkan kerap dinyanyikan ulang oleh musisi muda.

Kolaborasi Lintas Generasi dan Multi-Instrumentalisme

Salah satu sisi lain dari Fariz RM adalah kemampuannya berkolaborasi. Bersama Neno Warisman, ia melahirkan single “Nada Kasih” yang membuktikan bahwa karyanya tetap relevan lintas generasi. Ia mampu beradaptasi dengan berbagai karakter vokal tanpa kehilangan kualitas aransemen khasnya.

Tak heran jika ia disebut sebagai multi-instrumentalis handal. Keahlian memainkan gitar, piano, dan keyboard membuat setiap lagunya memiliki nuansa unik yang sulit ditiru. Ia bukan hanya penyanyi, tetapi juga komposer dan arranger utuh.

Warisan Abadi: Lagu yang Tak Lekang oleh Waktu

Hingga kini, lagu-lagu Fariz RM seperti “Sakura”, “Selangkah ke Seberang”, “Barcelona”, dan “Terlambat” masih diputar di berbagai stasiun radio, platform streaming, hingga acara-acara nostalgia. Lagu-lagu itu telah menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia dan terus menginspirasi musisi-musisi muda.

Fariz RM telah meninggalkan warisan berharga bagi industri musik Tanah Air. Bukan hanya karena popularitasnya, tetapi karena konsistensi dan kualitas musiknya yang tinggi. Namanya tetap diingat, dan karyanya tetap didengarkan lintas generasi, sebuah bukti keabadian seorang legenda.

Angga Saputra

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Klinik Hukum BMS TV Perluas Layanan, Libatkan Mahasiswa dan Sapa Masyarakat Lebih Santai

Selanjutnya

10 Buku Best Seller di Gramedia Purwokerto: Novel Masih Primadona, dari “Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati” hingga “Sang Alkemis”

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Bupati Sadewo Lepas Kontingen Pramuka Banyumas Menuju Pesta Siaga Jateng 2026

Bupati Sadewo Lepas Kontingen Pramuka Banyumas Menuju Pesta Siaga Jateng 2026

Jumat, 8 Mei 2026

ABK KM ULI JAYA 02 Meninggal saat Melaut, Tim SAR Evakuasi dari Perairan Nusakambangan

ABK KM ULI JAYA 02 Meninggal saat Melaut, Tim SAR Evakuasi dari Perairan Nusakambangan

Jumat, 8 Mei 2026

Satlantas Banyumas “Menyapa” Komunitas Ojol, Tekankan Keselamatan Bersama di Jalan

Satlantas Banyumas “Menyapa” Komunitas Ojol, Tekankan Keselamatan Bersama di Jalan

Jumat, 8 Mei 2026

Selanjutnya
10 Buku Best Seller di Gramedia Purwokerto: Novel Masih Primadona, dari “Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati” hingga “Sang Alkemis”

10 Buku Best Seller di Gramedia Purwokerto: Novel Masih Primadona, dari "Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati" hingga "Sang Alkemis"

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 

Rahasia Mati: Jalan Pulang yang Tak Pernah Salah Alamat

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com