Rasa bingung yang berkepanjangan dan kemalasan saat bekerja sering dianggap sepele oleh banyak orang. Padahal, dua kondisi ini bisa menjadi sinyal awal dari stres berat hingga gangguan kejiwaan yang serius.
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD Banyumas, dr. Taufik Hidayanto, Sp.KJ, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka generasi muda yang mengalami gejala stres atau gangguan kejiwaan. Meskipun usia pasien bervariasi, kata dia, cukup banyak yang berada di rentang usia 20 hingga 30 tahun, termasuk mahasiswa dan fresh graduate.
“Mereka datang dengan keluhan beragam, mulai dari gejala fisik hingga gangguan perasaan. Ketika seseorang mengalami kondisi tak terduga dalam aktivitas sehari-hari, lalu pikirannya berpacu kencang, itu bisa menjadi gejala awal stres,” ujarnya.
Gejala Stres: dari Fisik hingga Psikis
Menurut Taufik, gejala stres bisa terbagi dalam dua kategori utama. Dari sisi perasaan, penderitanya akan merasa tidak tenang, mudah emosi dan marah, malas, tidak produktif, hingga bingung dan sulit berpikir jernih.
Sementara dari sisi fisik, gejalanya lebih beragam dan sering disalahartikan sebagai penyakit lain. Keluhan yang umum muncul antara lain:
· Pusing dan nyeri kepala
· Tenggorokan terasa tidak nyaman
· Tengkuk kencang dan punggung pegal
· Jantung berdebar-debar dan sesak napas
· Gangguan pencernaan seperti maag, perut begah, mual, hingga asam lambung naik
· Mudah lelah, lemas, pegal, kram, hingga tremor
· Telapak tangan dan kaki dingin atau basah
· Kesemutan dan frekuensi buang air kecil meningkat
“Keluhan fisik ini sering membuat pasien bolak-balik berobat ke dokter penyakit dalam, dokter saraf, atau dokter jantung, padahal akar masalahnya ada pada kesehatan jiwa,” jelasnya.
Bisa Berujung Psikotik Akut
Taufik menekankan bahwa gejala stres tidak boleh diabaikan, terutama jika sudah memengaruhi dua aspek penting dalam hidup seseorang: fungsi peran dan fungsi sosial.
Fungsi peran terganggu ditandai dengan penurunan performa kuliah, semangat kerja yang hilang, atau kebingungan menjalankan aktivitas sehari-hari. Sedangkan fungsi sosial yang bermasalah terlihat saat seseorang mulai menarik diri, sulit bersosialisasi, dan lebih memilih menyendiri.
“Kalau sudah tidak bisa menjalankan fungsi peran dan sosial, itu indikasi kuat. Segera konsultasi ke psikolog, dokter kesehatan jiwa, atau psikiater,” tegasnya.
Jika dibiarkan, stres berkepanjangan bisa berkembang menjadi psikotik akut—yang oleh masyarakat awam sering disebut “gila” atau “edan”. Pada tahap ini, penderitanya sudah kehilangan kemampuan menilai realitas dengan benar.
“Apa yang dirasakan, dilihat, dan didengar sudah berbeda dari kenyataan. Perilakunya menjadi aneh: bicara sendiri, ngelantur, marah-marah tanpa sebab, mondar-mandir, hingga susah tidur,” paparnya.
Cegah Stres dengan Perkuat Kepribadian
Taufik menjelaskan bahwa stres muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak diinginkan, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Untuk mencegahnya, kunci utamanya adalah memperkuat kepribadian dan strategi menghadapi masalah.
“Kuatkan kepribadian dengan cara-cara sehat. Saat ini banyak orang gemar healing, olahraga rutin, melakukan hobi, atau memperkuat ibadah. Itu semua efektif sebagai benteng melawan stres,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa informasi mengenai kesehatan mental kini mudah diakses melalui internet, tetapi tetap perlu diimbangi dengan konsultasi profesional jika gejalanya sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Tentang Stres dan Kesehatan Jiwa:
· Stres ringan hingga sedang masih bisa diatasi dengan manajemen diri
· Segera cari bantuan bila gejala berlangsung lebih dari 2 minggu
· Jangan ragu konsultasi ke psikolog atau psikiater
· Dukungan keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh dalam pemulihan
Penulis : Angga Saputra






