PURWOKERTO – Harga sejumlah bahan pokok di Pasar Wage, Purwokerto, terus berfluktuasi dalam sepekan terakhir. Kondisi ini dirasakan langsung oleh pedagang maupun konsumen, termasuk mahasiswa perantau yang harus mengatur pengeluaran bulanan secara mandiri.
Berdasarkan pantauan, harga beras saat ini bertahan di kisaran Rp15.000 per kilogram. Telur dibanderol Rp25.000 per kilogram setelah sebelumnya sempat mengalami kenaikan signifikan. Sementara itu, minyak goreng dijual seharga Rp23.000–Rp24.000 per liter.
Gula pasir tercatat naik dari Rp16.000 menjadi Rp16.500 per kilogram. Sebaliknya, harga bawang merah relatif stabil dan bawang putih justru menunjukkan tren penurunan. Adapun harga ayam meningkat dari Rp35.000 menjadi Rp38.000 per kilogram.
“Harganya tidak menentu. Kalau sekarang relatifnya lagi naik terus,” ujar seorang pedagang ayam di Pasar Wage yang namanya engggan disebutkan, Senin (4/5/2026).
Mahasiswa Merasakan Tekanan Pengeluaran
Fluktuasi harga tersebut turut berdampak pada mahasiswa yang tinggal di perantauan. Ghefira, seorang mahasiswi kos di Purwokerto, mengaku perubahan harga cukup terasa, terutama pada kebutuhan pokok seperti beras, telur, dan minyak goreng.
“Sebagai anak kos yang sudah dijatah bulanan, tentu sangat terasa. Harganya lebih mahal dari sebelumnya,” tuturnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Ghefira mengaku lebih sering memasak daripada membeli makanan jadi. Ia juga membuat daftar belanja agar tidak impulsif serta memprioritaskan kebutuhan utama. Keuntungan lain, jarak rumahnya yang dekat dengan orang tua memudahkannya mengambil stok bahan pokok saat persediaan di kos menipis.
Selepas Belanja dan Kurangi Jajan
Kartika, mahasiswi lainnya, menilai bahwa harga yang tidak menentu cukup berpengaruh terhadap pengeluaran bulanannya. “Pengeluaran jadi lebih besar,” jelasnya.
Ia mengaku mulai lebih selektif saat berbelanja. Kartika mengurangi pengeluaran kecil seperti camilan dan minuman di luar. Ia juga mulai membatasi pemakaian bahan tertentu seperti cabai yang harganya kerap melonjak.
“Awalnya memang sulit, tetapi lama-lama jadi terbiasa. Hidup hemat penting supaya kebutuhan bulanan tetap terpenuhi,” tambahnya.
Strategi sederhana seperti memasak sendiri, disiplin berbelanja, dan menekan pengeluaran nonprioritas menjadi kunci bagi mahasiswa perantau untuk tetap bertahan di tengah dinamika harga bahan pokok. (Putri Najma Aulia A.)









