INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Delapan Satu

Sebuah renungan Dirgahayu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81

Delapan Satu
Senin, 17 Agustus 2026

Rangga Sujali
Kolumnis, Budayawan asal Banyumas

Dikisahkan negeri tua para rahayatnya asyik bernostalgia. Kagum dengan kehebatan leluhur, dari dongeng sang dhalang yang hanya tahu sekuku-hitam. Pun hanya kulit yang jauh dari daging, apa lagi sungsum sari kehidupan. Terpukau, terpana, lalu menepuk dada. “Leluhur kami yang paling.. bla.. bla.. bla.. Lihat saja bukti peninggalan sejarah yang terserak dari ujung ke ujung pulau..”

Minum kopi arabica, dijarinya terselip kretek dengan tar tinggi dan saus impor. Menatap, menentang langit, seperti tengah mabuk kecubung. Duduk bersila jumawa, badan diluruskan, pundak ditegakkan. Gagah, limbung, menyeringai, tak bernyali. Sedikit tahu seolah paham betul. Miris. Literasi dari media online, tak jelas betul sumbernya. Ditambah “wisik” hasil halusinasi karena kenyang perut, tidur nyenyak, dan visualisasi sesat. Sempurna.

Lalu di seberang sana, tuan-tuan imperialis terpingkal. Bukti sejarah mana yang kalian baca? Kitab dan artefak sudah kami angkut dan amankan, di tempat yang kalian tak mampu menjangkau. Yang kami sisakan terlalu jauh dari akal pikir. Kami bayar para punggawa dan cendikia untuk mengarang cerita. Tentang saudara tua yang datang membawa tawaran kemakmuran dunia dan kejayaan di surga. Fatamorgana. Kami terbahak, terpingkal melihat pandir kalian dengan hemat akal dan miskin pikir, seolah mencerna alur yang kami buat.

14 abad kami tanamkan chipset program di otak-otak kecil yang jarang dipakai. Efek ekstasi luar biasa. Saling bunuh sambil tertawa, meratapi kesedihan dengan menari cha-cha, saling menghisap darah saudara. Tak kenal lagi etika-norma. Terus saja ke barat, hingga lupa darat. Lanjutkan memaki sambil onani.

Lambat-laun, merangsek, mencuci otak, memasukkan faham baru. Budaya luhurmu terkikis habis. Kepercayaan dan keyakinan yang bahkan kadang membuta, dengan tawaran keindahan surgawi, meluluh-lantakan tatanan adab. Keagungan Tuhan yang dulu di posisi tak tergapai akal, kini diajak bertransaksi.

Satu hal, kami gagal membuka key word yang dipasang di artefak. Kakek-moyang kalian selangkah lebih maju karena ketulusan akal Budi, pengetahuan tentang DNA/RNA, penyimpanan data dan daya, serta pengetahuan tentang keenergian. Kami mengaku kalah. Tapi kami pintar mengubah perilaku anak-cucunya. Kalian sibuk belajar tentang sesuatu yang kami kemas menjadi komoditas. Seolah kami selangkah lebih maju, padahal kami belajar banyak dari keutamaan negeri kaya-raya. Swargantara yang gemah Ripah loh jinawi, yang hari ini kami buat lumpuh dengan isu-isu. Memanfaatkan euforia sebuah teknologi kecil bernama gadget.

Yaa.. Hari ini dewamu gadget yang tahu segala. Dengan mudah menyelesaikan beberapa masalah. Menebar isu yang seolah benar adanya. Merusaki moral sedari kecil. Sistimatis dan terstruktur. Dan kalian hanya menunduk, seperti bayi dielus bokongnya, dinina-bobo. Tak kunjung terjaga bahwa suatu ketika, isi otak kalian sudah beda. Tampilan kalian tampak indah. Tapi lupa keluhuran Budi para pendiri. Kalian lupa dengan Sangkan paraning dumadi.

Wangsamu luhur, luruh-lantak. Tak mudah memang membuat peradaban baru. Tapi keseriusan kami berhasil menjerumuskan kalian.

Entah, limbung, penuh kegalauan. Swargantara, Nusantara, hingga Indonesia Raya, tak kunjung tegak berdiri. Jauh dari kedaulatan ekonomi, sosial dan budaya, menikmati sebagai bangsa yang terjajah. Ekonomi, negeri kaya ini menjadi sapi penghasil daging Wagyu terbaik, yang sewaktu-waktu bisa disembelih. Agama, leluhur mengajarkan agama luhur yang kemudian dimarjinalkan. Bahasa, lupakan bahasa ibu, cukup pelajari Bahasa Inggris, Arab, dan China. Tiga inti kedaulatan tak lagi tegak. Keberpihakan seperti memakai tangga, yang besar dielus, yang kecil diinjak, tak kunjung berkeadilan. Kemakmuran hanya untuk segelintir orang di lingkaran kekuasaan. Menebar raja-raja kecil nan rakus hingga pelosok desa.

Aku berusaha berteriak, tapi tetap saja serak-parau.. “MERDEKA..”

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

RUU Sisdiknas Dinilai Neoliberal dan Diskriminatif, Guru Non-ASN Terancam Tersingkir

Selanjutnya

416 Narapidana Lapas Purwokerto Terima Remisi HUT Ke-81 Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

416 Narapidana Lapas Purwokerto Terima Remisi HUT Ke-81 Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas

416 Narapidana Lapas Purwokerto Terima Remisi HUT Ke-81 Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas

Senin, 17 Agustus 2026

Delapan Satu

Delapan Satu

Senin, 17 Agustus 2026

RUU Sisdiknas Dinilai Neoliberal dan Diskriminatif, Guru Non-ASN Terancam Tersingkir

RUU Sisdiknas Dinilai Neoliberal dan Diskriminatif, Guru Non-ASN Terancam Tersingkir

Minggu, 16 Agustus 2026

Selanjutnya
416 Narapidana Lapas Purwokerto Terima Remisi HUT Ke-81 Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas

416 Narapidana Lapas Purwokerto Terima Remisi HUT Ke-81 Kemerdekaan, 2 Langsung Bebas

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com