BANYUMAS – Di tengah gempuran budaya populer, budayawan asal Banyumas, NasSirun PurwOkartun, terus bergerilya mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda. Upaya terbarunya dilakukan melalui “Pentas Dongeng Babad Banyumas” yang digelar di Bale Babad Banyumas, rumah budaya miliknya di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Jumat (14/8) lalu .
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 10.30 WIB itu diikuti puluhan siswa-siswi SD Mandirancan. Dengan didampingi guru pendamping, anak-anak diajak menyelami kisah kepahlawanan leluhur Banyumas melalui dongeng yang diselingi nyanyian ceria .
Pria yang akrab disapa Kang Nass itu sengaja mengemas sejarah dalam bentuk pertunjukan interaktif agar mudah dicerna. “Saya ingin, sejak dini anak-anak Banyumas mengenal leluhurnya. Bukan hanya mengenal tokoh Bawor saja. Namun para leluhur yang bisa menjadi teladan kehidupan. Menjadi role model mereka ke depannya,” ujarnya, Jumat .
Keteladanan tersebut diwujudkan dalam sosok Raden Baribin yang pantang menyerah, Raden Katuhu yang memaksimalkan potensi diri, dan Jaka Kaiman yang bertanggungjawab .
Upaya ini merupakan lanjutan dari kerja keras Kang Nass menerjemahkan naskah kuno “Serat Babad Banyumas” yang ditulis pada masa Bupati Adipati Mertadiredja I (1816-1826) . Naskah berhuruf Jawa dengan tembang Macapat itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2019 dan diterbitkan dengan judul “Babad Banyumas Mertadiredjan” pada 2020 . Ia juga menyadurnya menjadi buku anak seperti “Dongeng Banyumas” dan “Serial Bacaan Babad Banyumas” yang diluncurkan 2023 .
“Babad Banyumas Kuwe, Babade awake dhewek…” lantun anak-anak riang, menandakan benih kecintaan pada sejarah tanah kelahiran mulai tertanam.
Pewarta : Yoga Cokro
Editor : Angga Saputra






