Namanya mungkin belum setenar tokoh nasional, tetapi langkahnya di desa-desa mulai meninggalkan jejak. Lisa Nugrahaeni Dwiyanti, Ketua Umum Srikandi Boedantara, bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di panggung megah. Ia lebih sering terlihat di tengah ibu-ibu kelompok wanita tani, mendampingi pembuatan kompos, atau menyemangati pemuda desa yang enggan merantau.
Di kantornya di Jakarta, perempuan yang akrab disapa Lisa ini berbicara lugas. Baginya, budaya bukan sekadar tarian dan upacara adat. Budaya adalah cara hidup yang harus menghidupi.
“Budaya kita mengajarkan gotong royong, resik, lan migunani. Itu yang kami implementasikan. Kami ingin perempuan menjadi soko guru ekonomi keluarga, pemuda kembali bangga membangun desanya sendiri,” ujarnya.
Dari Panggung ke Dapur, dari Dapur ke Pasar
Srikandi Boedantara, sayap perempuan Partai Boedaya Nusantara (Boedantara), memilih jalan berbeda. Mereka tidak berhenti pada seremonial pelestarian budaya. Lisa menegaskan, budaya harus dibawa masuk ke dapur, ke pasar, dan ke pundi-pundi keluarga.
Di bawah kepemimpinannya, Srikandi membina UMKM perempuan untuk mengolah produk lokal dengan nilai budaya. Jamu tradisional, batik tulis, anyaman, hingga kuliner desa didampingi agar naik kelas dan menembus pasar digital.
“Perempuan desa itu punya keterampilan warisan leluhur. Tugas kami memastikan keterampilan itu bernilai ekonomi,” kata Lisa.
Tidak hanya UMKM, Srikandi juga menguatkan Kelompok Wanita Tani (KWT). Lahan pekarangan didorong menjadi lumbung pangan sekaligus sumber pendapatan. Hasil tani tidak sekadar dikonsumsi, tetapi diolah menjadi produk bernilai jual.
Sampah Jadi Berkah, Ibu-Ibu Punya Tabungan
Program yang paling menyita perhatian adalah Gerakan Sampah Berdaya Beli. Lisa bercerita, sampah plastik dikumpulkan, dipilah, lalu diolah menjadi kerajinan, ecobrick, dan bahan baku UMKM. Sampah organik diubah menjadi sabun cuci piring, kompos, magot, hingga pakan ternak.
Hasilnya bukan sekadar mengurangi tumpukan sampah. Ibu-ibu kini memiliki tabungan dari sampah.
“Ibu-ibu kini punya tabungan dari sampah. Satu kilo plastik, satu ember kompos, itu ada nilainya. Ini adalah pelestarian budaya resik desa sekaligus peningkatan pendapatan keluarga. Budaya lestari, ekonomi menguat, keluarga sejahtera,” tegas Lisa.
Pemuda Desa, Jangan Merantau Dulu
Lisa juga menyoroti nasib pemuda desa. Srikandi Boedantara membuka ruang bagi pemuda-pemudi desa untuk menjadi wirausaha budaya. Mereka diajak melihat potensi desa sendiri.
“Ekonomi kreatif bisa dibangun dari desa. Tidak harus selalu merantau ke kota. Kalau desanya maju, kenapa harus pergi?” ujarnya.
Target ke Seluruh Indonesia
Ke depan, Srikandi Boedantara akan memperluas gerakan ini ke seluruh DPC dan DPAC se-Indonesia. Targetnya ambisius: setiap desa memiliki Bank Sampah Srikandi dan KWT binaan.
Lisa ingin memastikan bahwa pelestarian budaya tidak berhenti di panggung seremonial. Budaya harus hidup, bernafas, dan menghidupi.
“Boedaya lestari, ekonomi mandiri, perempuan berdaya. Itu bukan slogan, itu kerja nyata,” pungkasnya.
Boedaya Lestari, Ekonomi Mandiri, Perempuan Berdaya!
Boedantara – Bersatu Untuk Rakyat!








