Ada cerita haru di balik rencana prosesi Banyumas Mantu 2026. Di antara 30 pasangan yang mengikuti pernikahan massal di Rita Supermall Purwokerto, Jumat (4/9/2026), Suwardi (64) dan Kartini (49) menjadi pusat perhatian sebagai peserta tertua.
Namun di balik usia mereka yang matang, tersimpan kisah pertemuan yang tak terduga. Berawal dari sebuah proyek renovasi rumah pada 2011, hingga akhirnya mereka akan resmi menikah di hadapan petugas KUA dan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
“Saya seneng sekali bisa menikmati layanan ini,” ungkap Suwardi dengan mata berbinar.
Berawal dari Proyek Gypsum di Rumah Mayang Sari
Kisah cinta Suwardi dan Kartini dimulai 15 tahun lalu, tepatnya pada 2011. Saat itu, Suwardi mendapat pekerjaan merenovasi bangunan milik publik figur Mayang Sari yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Kartini di belakang Unwiku Purwokerto.
Pekerjaan itulah yang mempertemukan mereka untuk pertama kalinya. Namun, benih-benih cinta baru tumbuh setelah ada peran dari seorang mak comblang yang mempertemukan keduanya secara lebih intens.
“Awalnya ketika dia ngerjain gypsum di rumah Mayang Sari,” kata Kartini sambil tersenyum mengenang momen pertama itu.
Suwardi adalah warga KelurahanTeluk, sementara Kartini tinggal di Desa Kebocoran, Kecamatan Kedungkandang, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banyumas.
Pernikahan Keempat dan Kedua, Dikaruniai 6 Anak
Pernikahan ini bukanlah pengalaman pertama bagi keduanya. Kartini mengaku baru dua kali melangsungkan pernikahan. Sebelumnya, ia harus kehilangan suami karena cerai mati.
Sementara Suwardi sudah menikah untuk keempat kalinya. Ia mengaku perceraian dengan istri sebelumnya disebabkan oleh faktor ekonomi, sementara satu pernikahannya berakhir karena sang istri meninggal dunia.
“Faktor ekonomi, yang satu karena meninggal dunia,” ungkap Suwardi singkat.
Suwardi sendiri sudah menjalani masa duda selama 7 bulan sebelum akhirnya memutuskan menikah lagi dengan Kartini.
Meski berasal dari latar belakang pernikahan yang berbeda, keduanya kini memiliki total 6 anak,masing-masing 3 anak dari pernikahan sebelumnya. Kabar baiknya, seluruh anak dari kedua belah pihak memberikan restu atas pernikahan ini.
“Keluarga dan anak-anak menyetujui,” ujar Kartini dengan lega.
Daftar Nikah Massal Lewat Status WhatsApp
Kartini mengaku awalnya mengetahui program Banyumas Mantu dari status WhatsApp seorang teman. Tanpa pikir panjang, ia langsung menginformasikannya kepada anak sulungnya, yang kemudian menguruskan seluruh administrasi pendaftaran.
“Saya senang sekali dengan pernikahan ini, kan bisa lancar,” ungkap Kartini bersyukur.

Program nikah massal yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyumas ini tidak hanya meringankan biaya pernikahan, tetapi juga memberikan kepastian hukum bagi pasangan yang sebelumnya telah menikah secara agama namun belum tercatat negara.
Sebanyak 30 pasangan terpilih mengikuti pernikahan massal Banyumas Mantu 2026 yang digelar bersamaan dengan Banyumas Wedding Expo di Rita Supermall Purwokerto. Dari 199 pendaftar, panitia melakukan kurasi ketat hingga menetapkan 30 peserta dengan rentang usia paling ekstrem: dari 17 tahun hingga 64 tahun.
Pasangan Suwardi dan Kartini menjadi yang tertua, sementara peserta termuda masing-masing berusia 18 dan 17 tahun.
Puncak angkaian acara yang berlangsung 4 September 2026 ini juga dimeriahkan oleh 60 vendor pernikahan yang mengisi 48 booth, menjadikannya ajang promosi ekonomi kreatif sekaligus momen sakral bagi puluhan pasangan.
Pewarta : Alri Johan
Editor : Angga Saputra







