Spanyol resmi menjadi juara dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu (extra time) di final Piala Dunia 2026. Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-105 memastikan La Roja mengangkat trofi di MetLife Stadium, New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Argentina yang gagal mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih empat tahun lalu di Qatar 2022. Bagi Lionel Messi, laga ini menjadi penutup emosional karier Piala Dunianya, diakhiri dengan air mata di atas lapangan hijau.
Babak Pertama: Spanyol Dominan, Argentina Bertahan Mati-matian
Babak pertama berjalan sengit dengan kedua tim bermain hati-hati. Spanyol tampil lebih dominan dengan penguasaan bola mencapai 53 persen, sementara Argentina hanya mampu menguasai 45 persen.
Lamine Yamal yang aktif bergerak dari sisi kanan dan Marc Cucurella dari sektor kiri berkali-kali merepotkan lini belakang Argentina. Spanyol mencatatkan tiga tembakan tepat sasaran, namun semuanya berhasil diamankan kiper Argentina, Emiliano Martinez, yang tampil gemilang di bawah mistar.
Sebaliknya, lini serang Argentina belum menemukan ritme terbaik. Hingga turun minum, skuad asuhan Lionel Scaloni tidak sekalipun mencatatkan tembakan tepat sasaran ke gawang Spanyol yang dikawal Unai Simon.
Masalah Cedera di Kubu Argentina
Argentina harus kehilangan dua bek tengahnya di babak pertama. Cristian Romero ditarik keluar karena cedera pada pertengahan babak, sementara tandemnya, Lisandro Martinez, juga harus keluar lebih dini akibat masalah fisik. Bek gaek Nicolas Otamendi pun dimasukkan untuk menggantikan salah satu dari mereka.
Babak Kedua: Gempuran Spanyol, Kegemilangan Martinez
Memasuki babak kedua, Spanyol langsung menggempur. Hanya satu menit berjalan, Alex Baena melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, tetapi kembali diamankan Emiliano Martinez.
Pada menit ke-64, giliran Dani Olmo yang melepaskan tendangan keras. Martinez kembali sigap menepisnya. Tiga menit berselang, sundulan Ferran Torres menyambut umpan Lamine Yamal juga gagal menembus kiper Argentina tersebut.
Pedri (77′), Pau Cubarsi (78′), Aymeric Laporte (81′), hingga Ferran Torres (87′) bergiliran mengancam. Namun, hingga peluit panjang babak kedua dibunyikan, skor tetap 0-0. Penampilan gemilang Emiliano Martinez menjadi tembok kokoh yang menahan gempuran La Roja sepanjang 90 menit.
Extra Time: Gol Ferran Torres Tentukan Sejarah
Babak perpanjangan waktu berlangsung dramatis. Pada menit ke-96, Nico Williams mencetak gol untuk Spanyol, tetapi wasit menganulirnya karena dianggap terjadi pelanggaran terlebih dahulu.
Mikel Merino hampir membawa Spanyol unggul andai sundulannya tidak melenceng tipis dari gawang Argentina.
Namun, akhirnya kebuntuan pecah pada menit ke-105. Ferran Torres berhasil merobek gawang Argentina memanfaatkan umpan matang dari Nico Williams. Skor 1-0 untuk Spanyol.
Argentina mencoba bangkit dan mulai berani menyerang, tetapi hingga extra time selesai, skor tetap bertahan. Spanyol resmi menutup pertandingan dengan kemenangan 1-0.
Air Mata Messi dan Akhir Perjalanan Sang Juara Bertahan
Kekalahan ini menjadi penutup menyakitkan bagi perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026. Setelah tampil gemilang sepanjang turnamen, Albiceleste harus mengakui keunggulan Spanyol di babak yang paling krusial.
Bagi Lionel Messi, laga ini menjadi momen yang sangat emosional. Sang kapten menutup perjalanan Piala Dunia dengan air mata setelah gagal mempersembahkan trofi terakhir untuk negaranya. Meskipun demikian, Messi tetap meninggalkan warisan besar sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Spanyol Juara Dunia Kedua Kalinya
Kemenangan ini menjadi gelar juara dunia kedua bagi Spanyol setelah sebelumnya meraihnya pada 2010. Ferran Torres, Nico Williams, dan seluruh skuad La Roja merayakan sejarah di tengah lapangan MetLife Stadium, sementara Argentina harus menerima kenyataan pahit sebagai runner-up.
Pada akhirnya, sepak bola mengajarkan bahwa bahkan tim terbaik pun bisa tumbang. Argentina kalah bukan karena kehilangan semangat, tetapi karena di lapangan selalu ada hari ketika kemenangan memilih pihak lain. Air mata Messi bukan tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa ia telah memberikan segalanya hingga peluit terakhir.
Tim Redaksi








