Mikhail Adam (Peneliti Ekopol di Nusantara Centre).
Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Dewantara, adalah tokoh kedua dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Dari pendidikanlah revolusi Indonesia bermula. Terutama dari Dewantara. Nama kecilnya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Sebuah nama yang membawa warisan darah biru, gelar, dan jarak dengan orang kebanyakan. Tetapi sejarah mencatatnya bukan sebagai bangsawan Jawa, melainkan sebagai Ki Hajar Dewantara. Seorang guru bangsa yang mengajarkan arti merdeka jauh sebelum republik itu sendiri lahir.
Awal abad ke 20, Kolonialisme Belanda menancapkan penjajahan tidak hanya berwujud pajak, penguasaan sumber daya alam, dan militer. Ia hadir ke dalam kurikulum dan penundukkan pikiran. Sekolah-sekolah modern berdiri megah untuk anak-anak Eropa dan segelintir elite pribumi, sementara jutaan anak bumiputra dibiarkan buta huruf, dibiasakan tunduk, dan dilatih untuk patuh.
Soewardi muda menyadari kenyataan pahit yang mendera bangsanya, sekolah-sekolah itu bukan untuk semua orang. Bangsanya masih dipandang setengah manusia. Pada titik inilah, ia menyadari belenggu penindasan yang terburuk adalah pembodohan. Rakyat dibiarkan tidak berpendidikan. “Penjajahan,” katanya nyaris teatrikal, “bekerja paling efektif ketika ia menguasai pikiran.”
Bagi Soewardi, maka perlawanan pun harus dimulai dari sana. Dia meniti jalan yang lebih panjang, lebih sunyi, dan sering kali diremehkan dalam meniti kemerdekaan: pendidikan.
Soewardi belia adalah pembaca yang gemar menjelajahi ilmu pengetahuan dan penulis gelisah yang menelusuri lorong kesadaran. Ia menulis bukan untuk mengamini pidato kekuasaan, tetapi untuk mengkoreksinya. Tahun 1913, ketika pemerintah kolonial hendak merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda di tanah jajahan, ia menulis esai yang kelak melegenda: _Als Ik Een Nederlander Was_ (Seandainya Aku Seorang Belanda).
Sebuah tulisan yang sederhana, tetapi berhasil mempermalukan penjajah. Dengan tenang dan logika jernih, ia bertanya: seandainya aku orang Belanda, apakah aku tega merayakan kemerdekaanku di negeri yang masih kujajah? Apakah pantas meminta bangsa terjajah membayar pesta kemerdekaan penjajahnya?
Kolonialisme tidak menyukai cermin tempat ia melihat wajah jahanamnya sendiri. Soewardi dan dua rekannya dalam Tiga Serangkai bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo dibuang ke Belanda. Namun pengasingan seperti _university of life_ penting dalam hidupnya. Di negeri yang membuangnya, ia mempelajari filsafat pendidikan, mengikuti perdebatan tentang demokrasi, dan mengamati bagaimana sekolah-sekolah modern membentuk masyarakat itu sendiri. Ia belajar bahwa pendidikan dapat menjadi alat pembebasan atau sebaliknya, alat penjinakan.
Ia pulang ke tanah air dengan keyakinan yang matang. Seseorang yang telah mengambil keputusan hidup yang menggetarkan. Kepulangannya dari pembuangan, ia menanggalkan gelar kebangsawanannya. Raden Mas ia lepaskan, seolah membuang mantel lama yang tak lagi berguna. Ia memilih nama Ki Hajar Dewantara, Sang guru yang menuntun jalan.
Sebuah pilihan simbolik yang sekaligus politis. Di tengah masyarakat yang masih terbelah oleh garis keturunan dan struktur kolonialisme, ia menyatakan: perjuangan bangsa tidak membutuhkan gelar, hanya keberanian dan keteguhan moral.
Baginya, kemerdekaan politik tidak akan bertahan tanpa kemerdekaan berpikir. Dan pendidikan adalah jalan yang menuntun sebuah bangsa meraih kemerdekaan dan martabatnya.
Tahun 1922, Yogyakarta menjadi saksi sejarah langkah Ki Hajar mendirikan Perguruan Taman Siswa. Ia seperti penanda janji suci sekaligus ikhtiar tak henti untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya. Ia penyataan politik yang tenang di muka sejarah: bahwa bangsa terjajah berhak mendidik dirinya sendiri, dengan nilai-nilai dan tujuannya sendiri.
Ki Hajar menolak pendidikan kolonial yang hirarkis dan diskriminatif. Ia menolak gagasan bahwa murid adalah bejana kosong yang harus diisi. Bagi Ki Hajar, anak-anak memiliki kodrat alam. Potensi dan kecenderungan yang harus dihormati. Pendidikan bukan soal memaksakan keseragaman, melainkan menciptakan ruang agar manusia tumbuh dengan utuh.
Kata “taman” bukan kebetulan. Bagi Ki Hajar, pendidikan bukan pabrik, melainkan kebun bunga. Anak-anak bukan mesin yang harus diseragamkan, tetapi benih yang memiliki kodrat masing-masing. Tugas pendidik bukan memaksa tumbuh, melainkan merawat dan menutun setiap bunga mekar secara sempurna.
Di Taman Siswa, bahasa ibu dihormati, kearifan budaya dijaga, dan sejarah bangsa diceritakan dari sudut pandang yang lama dibungkam. Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa, melainkan hak kemanusiaan.
Pemerintah kolonial mencurigai Taman Siswa sejak awal. Sekolah ini mengajarkan bahasa sendiri, sejarah sendiri, dan jati diri. Ini membuat penjajah Belanda merasa terancam. Mereka menerbitkan aturan-aturan untuk membatasi, termasuk ordonansi sekolah liar yang berupaya membungkam sekolah-sekolah nasional. Namun Ki Hajar tidak mundur. Ia melawan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan keteguhan moral, solidaritas, dan dukungan rakyat.
Dari pengalaman itulah lahir filosofi yang kelak menjadi suluh kebangsaan:
Ing ngarso sung tulodo. Di depan, memberi teladan.
Ing madyo mangun karso. Di tengah, membangun kehendak.
Tut wuri handayani. Di belakang, memberi semangat dan dorongan.
Ini bukan sekadar prinsip pedagogis, melainkan filosofi membangun bangsa. Ajaran yang dibahasakan dalam versi revolusioner oleh Bung Karno dengan “samenbundeling van alle revolutionaire krachten,” menyatupadukan seluruh elemen revolusioner yang dipimpin oleh ide. Republik ini berdiri dengan satu ide besar untuk membangun peradaban yang adiluhung, permai, dan paripurna dengan nilai-nilai Pancasila.
Ki Hajar sendiri, menolak pemimpin yang gemar memerintah dari atas menara. Ia percaya pemimpin sejati tahu kapan harus tampil, kapan harus mendampingi, dan kapan harus mundur agar yang dipimpin tumbuh dengan kakinya sendiri. Sebuah gagasan yang terasa sederhana, tetapi radikal, bahkan hingga hari ini.
Tahun 1945, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Ki Hajar tidak bersorak paling keras. Ia justru mengingatkan: kemerdekaan hanyalah pintu gerbang. Apa yang terjadi setelahnya jauh lebih menentukan. Ia menerima amanah sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia yang pertama, membawa gagasan-gagasannya ke dalam negara yang baru lahir dan masih rapuh.
Baginya, republik bukan sekadar bentuk pemerintahan, melainkan proyeksi kebudayaan dan peradaban. Dan baginya, pendidikan adalah komponen mendasar yang menopang semuanya. Negara boleh berganti kabinet, undang-undang boleh direvisi, tetapi watak bangsa dibentuk perlahan, di ruang kelas, di rumah, di percakapan sehari-hari. Pendidikanlah yang menentukan daya tahan dan masa depan bangsa Indonesia.
Ki Hajar Dewantara percaya bahwa anak-anak Indonesia tidak boleh dididik untuk menjadi bayangan bangsa lain. Mereka harus tumbuh sebagai diri sendiri, berakar pada budaya, tetapi terbuka pada dunia. Nasionalisme, dalam pandangannya, bukan kebencian pada yang asing, melainkan keberanian mencintai tanpa merasa rendah diri.
Ia menolak pendidikan yang menjadikan anak sekadar alat ekonomi. Ia menolak sekolah yang mengorbankan nurani demi keterampilan teknis semata. Baginya, pendidikan harus menumbuhkan manusia yang berbudaya, berempati, dan berani bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Ia wafat pada 1959, ketika republik masih mencari bentuknya. Tetapi revolusi yang ia mulai tidak pernah benar-benar selesai. Revolusi itu tidak tercatat sebagai pertempuran, ia tidak memiliki tanggal peringatan, tidak diiringi parade, dan jarang disebut dalam pidato politik. Revolusi itu bekerja diam-diam, dari generasi ke generasi, melalui tangan-tangan guru yang setia dan anak-anak Indonesia yang berani bertanya.
Ki Hajar seperti memberikan pesan kepada anak-anak sejarah, kepada masa depan, bahwa pendidikanlah yang melahirkan revolusi, pendidikanlah yang menjelmakan kembali Indonesia selayaknya mimpi para pendiri bangsa, dan pendidikanlah yang membawa Indonesia menuju peradaban gemilang dan keemasan.(*)








