Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Ada kabar besar yang terdengar seperti sindiran paling kejam dari nasib.Kabar yang beredar cepat menyebutkan adanya kenaikan gaji hingga 300 persen. Angka yang begitu megah, terdengar seperti kemenangan besar bagi kesejahteraan rakyat kecil.
Seorang Guru Tidak Tetap (GTT) yang gajinya sehari-hari hanya tiga ratus ribu rupiah sempat berbinar mendengarnya. Di dalam hati ia mulai berhitung kecil-kecilan. “Kalau saja gajiku naik sebanyak itu, mungkin menjadi sembilan ratus ribu rupiah. Hidup pasti lebih lega.”
Namun mimpi itu runtuh seketika.Ternyata kenaikan fantastis itu bukan untuk guru, melainkan untuk para hakim. Harapan yang sempat tumbuh hanya berakhir dengan kata “maaf” dan klarifikasi berita yang salah dan sulit dipahami.
Lagi-lagi, rakyat kecil hanya menjadi penonton di panggung kesejahteraan negeri sendiri. Angka besar itu lewat di depan mata, tetapi tak pernah menyentuh isi dompet mereka. Gajinya tetap sama: tiga ratus ribu rupiah. Dan mimpi yang baru lahir itu mati sebelum sempat tumbuh dewasa.
Dulu ia bingung karena tidak punya uang.Sekarang ia makin bingung karena melihat keadilan terasa begitu mahal dan jauh dari jangkauan.
Mungkin inilah tragedi paling sunyi zaman ini: rakyat kecil diajak ikut bersorak atas kemajuan, padahal kemajuan itu hanya mampir di halaman rumah orang-orang tertentu. Biaya hidup terus naik tanpa pernah ikut rapat kabinet, sementara kesejahteraan berjalan terseok-seok di depan pintu kelas.
Harga beras naik.Listrik naik. Biaya sekolah naik.Bensin naik. Nilai rupiah melemah.
Tetapi gaji orang kecil tetap disuruh kuat, sabar, dan bersyukur.Dan yang paling menguras tenaga batin, justru sesuatu yang dibungkus dengan nama-nama indah: ibadah, walimah, tasyakuran, dan silaturahmi.
Suatu malam, guru itu duduk termenung di meja makan. Matanya tertuju pada tumpukan undangan yang makin hari makin menggunung. Nikahan.Khitanan. Tujuh bulanan.Syukuran menempati rumah.Iuran RT. Sumbangan tetangga sakit.
Acara kunjungan calon haji dan kepulangan haji. Patungan perpisahan sekolah. Di dalam kepalanya terdengar suara cekikikan panjang seperti kuntilanak dalam sandiwara radio zaman dulu. Namun ia sadar, hantu itu bukan tinggal di pohon beringin.
Hantu itu tinggal di dalam amplop-amplop undangan yang menumpuk di meja makan. Hantu yang menertawakan kemiskinannya.Semuanya disakralkan sebagai tradisi. Dibungkus kata-kata mulia: guyub rukun, mempererat silaturahmi, berbagi kebahagiaan, dan mencari berkah. Padahal jika kita kembali kepada ajaran agama maupun kearifan orang-orang tua dahulu, makna syukuran sebenarnya sangat sederhana dan penuh ketulusan.
Dalam tradisi Islam, walimah yang dicontohkan Rasulullah SAW bukanlah panggung kemewahan. Ketika Fatimah Az-Zahra menikah dengan Ali bin Abi Thalib, pesta mereka sangat sederhana. Hidangannya hanya makanan pokok seadanya, kurma, dan susu. Nabi bahkan mengingatkan agar walimah tidak menjadi beban. Intinya jelas: berbagi kebahagiaan, bukan mempertontonkan kemampuan ekonomi.
Begitu pula tradisi tasyakuran masyarakat dahulu. Orang tua zaman dulu mengadakan syukuran sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan, bukan sebagai ajang pengembalian modal. Orang datang membawa doa dan ketulusan. Tuan rumah berharap keberkahan, bukan keuntungan.
Tidak ada daftar tamu yang diam-diam dicatat untuk menghitung siapa menyumbang berapa. Tidak ada standar amplop yang membuat orang miskin harus menahan malu.
Namun kini banyak perayaan berubah menjadi transaksi sosial. Gaji tetap tiga ratus ribu rupiah. Undangan datang sepuluh lembar dalam sebulan.
Kalau satu amplop harus diisi lima puluh ribu rupiah, maka habislah seluruh gaji hanya untuk menjaga hubungan sosial. Beras di dapur mulai habis, listrik terancam diputus, tetapi seseorang tetap harus terlihat murah hati agar dianggap manusia yang pantas.
Pilihan yang tersedia pun sama-sama menyiksa.Kalau tidak datang, dicap memutus silaturahmi. Kalau datang tanpa amplop, dianggap tidak tahu adat.
Kalau memberi sedikit, jadi bahan bisik-bisik.Kalau memberi terlalu banyak, anak sendiri mungkin besok tidak bisa jajan sekolah. Akhirnya banyak orang hidup bukan demi kebutuhan primer, melainkan demi menjaga citra sosial agar tetap terlihat “mampu”. Isi dompet menjerit, tetapi wajah harus tetap tersenyum.
Ironis sekali. Hari ini orang miskin tidak cukup hanya bertahan hidup. Mereka juga diwajibkan tampil seolah hidupnya baik-baik saja. Sosiolog dan ekonom kerakyatan Mubyarto pernah mengingatkan:
“Kemiskinan yang paling berat bukan kekurangan materi, melainkan budaya yang memaksa orang hidup di luar kemampuannya demi gengsi.”
Dan memang benar. Di negeri ini, gengsi sering kali lebih mahal daripada harga kebutuhan pokok.
Ahmad Tohari juga pernah menulis dengan getir bahwa nilai kebahagiaan masyarakat telah terbalik. Dulu orang bahagia karena bisa berbagi sedikit. Sekarang orang merasa bahagia jika terlihat mewah, dan berbagi pun dihitung sebagai investasi sosial yang harus kembali.
Ki Hajar Dewantara bahkan sejak lama mengingatkan bahwa kebudayaan sejati adalah kebudayaan yang memerdekakan manusia, bukan yang membelenggunya dengan aturan-aturan palsu.Sayangnya, kita justru bergerak ke arah sebaliknya.
Kita makin percaya bahwa kebahagiaan harus terlihat mahal. Harus megah. Harus bisa dipamerkan. Bahkan syukur kepada Tuhan pun perlahan berubah menjadi pertunjukan sosial. Pajak dipungut di mana-mana: dari gaji, kendaraan, listrik, dan belanja kebutuhan hidup. Namun pajak yang paling menguras justru pajak sosial bernama gengsi.
Negeri ini kaya raya. Alamnya melimpah ruah. Tetapi isinya perlahan dikuras oleh biaya hidup yang tak masuk akal, oleh ketimpangan kesejahteraan, dan oleh budaya sosial yang memaksa orang miskin terus berpura-pura kuat.
Rakyat kecil diminta terus tersenyum. Diminta terus bersyukur.Diminta terus berbagi.
Padahal di balik senyum itu ada perut lapar yang ditahan. Ada pendidikan anak yang tertunda. Ada mimpi-mimpi kecil yang perlahan mati—dikubur hidup-hidup di bawah tumpukan undangan dan tuntutan sosial.
Kapan kita berani kembali kepada makna kebersamaan yang sesungguhnya?
Bahwa silaturahmi itu indah tanpa harus membuat orang lain susah.Bahwa syukuran itu mulia tanpa harus berubah menjadi arena gengsi. Bahwa ibadah seharusnya mendekatkan manusia pada ketulusan, bukan pada utang dan tekanan sosial.
Kita perlu kembali belajar dari cara Nabi dan cara orang-orang tua dahulu: hidup sederhana, berbagi secukupnya, dan mencari berkah tanpa harus memamerkan kemewahan. Karena sejatinya hidup bukan untuk bersaing kemewahan dengan siapa pun, saudara atau tetangga.
Dan kebahagiaan sejati tidak hanya lahir dari tebalnya amplop, melainkan dari hati yang tenang, rasa cukup, dan kemampuan untuk hidup jujur tanpa harus berpura-pura kaya. Sementara berita media sosial terus saja mengabarkan kondisi perekonomian negara baik-baik saja. Hal itu menjadi persoalan yang seolah tak berujung atau entah dimana ujung akhirnya.Entah kapan berakhirnya.
Ajibarang, 29 Mei 2026






