Lirik lagu “Matraman” milik The Upstair kembali menggema di linimasa media sosial. “Demi trotoar dan debu yang berterbangan, ku bersumpah. Demi celurit, mistar, dan batu terbang pelajar, ku ungkapkan.”
Gema lagu itu bukan tanpa sebab. Hampir sepekan lalu, bentrok antara warga Matraman dengan kelompok warga perantauan mengguncang ketenangan Jakarta Timur. Satu nyawa melayang. Ribuan komentar bernada kecaman membanjiri kolom komentar di YouTube, TikTok, hingga X. Pihak korban pun mendesak aparat segera mengamankan pelaku pembunuhan.
Tapi di balik peristiwa berdarah itu, ada pertanyaan menggelayut di benak publik: seperti apa sebenarnya Matraman?
Dari Pasukan Mataram Hingga Gereja Tua
Kampung Matraman yang kini dikenal sebagai pusat buku terbesar di Asia Tenggara, dengan toko buku Gramedia sebagai ikonnya, ternyata menyimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui.
Nama Matraman diduga kuat berasal dari kata “Mataraman”, merujuk pada basis pasukan Sultan Agung dari Kasultanan Mataram saat menyerang Batavia pada 1629. Pasukan berkekuatan besar ini membangun kubu pertahanan di kawasan yang masih berupa semak belukar dan rawa-rawa.
Penelusuran sejarawan Rachmat Ruhiat dalam buku Asal Usul Nama Tempat di Jakarta menyebut, kubu pasukan Mataram itu dibangun bersama pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung) yang saat itu masih bagian dari Kesultanan Mataram.
Serangan kedua Sultan Agung ke Batavia itu gagal. VOC memutus jalur suplai makanan dari Tambun, Bekasi, hingga Cirebon. Pasukan Mataram yang kalah akhirnya memilih berbaur dengan masyarakat dan menetap di kawasan tersebut yang kemudian dikenal sebagai Kampung Matraman.

Dua Kubu yang Tak Pernah Damai
Namun, jejak sejarah menyisakan luka yang diwariskan turun-temurun. Hingga periode 1990-an, Matraman dikenal sebagai kampung angker dengan tawuran berdarah antara dua kubu: warga Palmeriam dan Bearland.
Palmeriam, yang dipercaya berasal dari kata “Monggo, Paman” (silakan, paman) yang diucapkan seorang pangeran Mataram kepada pamannya saat menyerahkan wilayah itu, dihuni kaum Betawi dan pendatang. Sementara Bearland, yang berada di seberang jalan, merupakan bekas benteng kavaleri Belanda, posko pasukan berkuda, dan tangsi tentara.
Dua wilayah yang hanya terpisahkan oleh Jalan Matraman Raya ini kerap terlibat konflik karena masalah sepele. Berebut lahan “putaran” atau menjadi “pak ogah” sering menjadi pemicu.
Kepala Dinas Perhubungan DKI akhirnya mengambil langkah drastis: menutup putaran jalan di Matraman Raya dan memasang pagar besi pemisah. Upaya ini terbukti menekan angka tawuran.
Jejak Belanda yang Tak Terhapus
Di Matraman, jejak kolonial Belanda masih terlihat jelas. Gereja tua Santo Yosef (sekarang kompleks sekolah Marsudirini) dan Rumah Sakit Santo Carolus berdiri sebagai saksi sejarah. Rumah sakit itu dibangun pemerintah Belanda setelah wabah kolera tahun 1629 yang merenggut ribuan nyawa.
Bahkan Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen ikut menjadi korban wabah tersebut. Ia dimakamkan di halaman gereja kompleks gedung Staadhuis (sekarang Museum Sejarah DKI Fatahillah) sebelum jasadnya dipindahkan ke pemakaman De-oude Hollandsche kerk yang kini menjadi Museum Wayang.
Konon, banjir besar yang melanda Batavia saat itu disebabkan ulah pasukan Mataram yang membendung dan mengotori Sungai Ciliwung sebagai strategi perang.
Kini, berdasarkan Keputusan Gubernur DKI No 1227 Tahun 1989, Kecamatan Matraman membawahi enam kelurahan: Pisangan Baru, Utan Kayu Selatan, Utan Kayu Utara, Kayu Manis, Pal Meriam, dan Kebon Manggis.
Wilayah seluas 21,66 kilometer persegi ini telah bertransformasi menjadi simpul transportasi sibuk dengan akses rel kereta api dan halte TransJakarta. Kepadatan penduduk dan persaingan ruang ekonomi masih menjadi tantangan. Tak heran gesekan antarwarga kerap muncul.
Pertikaian antara Palmeriam dan Bearland barangkali adalah warisan sejarah yang tak pernah benar-benar usai. Satu wilayah adalah bekas permukiman tentara Mataram, sementara lainnya adalah benteng tentara kompeni. Sejarah dua kubu yang saling berhadapan itu terlanjur membekas dalam DNA sosial masyarakatnya.
Musik The Upstair barangkali hanya pengingat: bahwa di balik kesibukan kota dan tumpukan buku di toko terbesar se-Asia Tenggara, masih ada cerita tentang trotoar, debu, dan pertumpahan darah yang terus berulang.
Angga Saputra






