INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

NYORE: Menjemput Senja dengan Makanan dan Cerita

NYORE: Menjemput Senja dengan Makanan dan Cerita

Suasana sore di tepi jalan Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, saat sekelompok remaja menjalani ritual Nyore, menghabiskan waktu bersama sebelum magrib. (Dok. Redaksi)

Sabtu, 1 Agustus 2026

Senja baru saja menurunkan rona jingganya ke permukaan sawah yang mulai mengering. Di pinggiran Mina Padi, Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, suara gemericik air dari saluran irigasi berpadu dengan tawa kecil sekelompok remaja yang duduk melingkar di atas tanah sedikit basah. Bungkusan rames masih utuh di tengah lingkaran. Tumbler-tumbler warna-warni berserakan seperti kelopak bunga kertas. Seekor burung pipit terbang rendah, lalu hinggap di pematang sawah seolah ingin ikut menyaksikan pemandangan sore yang lain dari biasanya.

Seorang di antara mereka mengangkat ponsel, mengarahkan lensanya ke barat, dan merekam detik-detik saat matahari perlahan tenggelam di balik bukit. Zidane, 14 tahun, berteriak di sela suara angin sore, “Makannya nanti, kalau semua sudah selesai. Ini tugas motret bergiliran!” Ia dan empat sahabatnya sedang menjalani ritual yang mereka beri nama: NYORE.

Bagi mereka, nyore bukan sekadar waktu makan atau sekadar cemilan. Ia adalah ruang bernama kebersamaan. Di sela kesibukan sekolah, pekerjaan rumah, dan hiruk-pikuk dunia maya, sore menjadi jendela kecil untuk melepas penat. Kent, sohib Zidane, menjelaskan dengan gaya khas anak zaman sekarang, “Mungkin sih kalau orang biasa menikmati senja, kalau kami biasa nyebutnya Nyore.”

Menikmati Senja dengan Rasa dan Rupa

Di kalangan anak-anak SMP ini, nyore bukanlah aktivitas asal-asalan. Ada kode etik tak tertulis: semua makanan harus dikumpulkan dulu, difoto, lalu baru disantap bersama. Ponsel bukan sekadar alat, tapi juga saksi bisu setiap pertemuan. Mereka mengabadikan setiap momen seperti tawa, ledekan, bahkan rebutan lauk terakhir, seolah seluruh rangkaian itu adalah pesta kecil yang pantas diingat.

Warung rames langganan mereka menjual seporsi nasi lengkap dengan lauk seharga Rp5.000, tarif khusus pelajar. Cukup untuk membuat kantong siswa remaja lega, juga cukup untuk mengisi perut sebelum adzan magrib berkumandang. Kent dan kawan-kawan mengaku hafal semua menu warung itu: sayur tempe mendoan, tempe bacem, sayur lodeh, dan sambal terasi yang membuat lidah bergoyang.

Setiap hari, kecuali hujan mengguyur terlalu deras, mereka akan berkendara roda dua menuju salah satu titik favorit: Mina Padi, Times (yang mereka singkat dari Tikungan Mesra), Serongan, atau Curug Cipendok. Lokasi-lokasi itu sengaja dipilih karena dekat rumah dan mudah dijangkau.

“Kami tak berani jauh-jauh karena kan belum punya SIM,” ujar Kent sambil tertawa kecil, seolah menyadari absurditas mereka yang masih duduk di kelas 7 SMP sudah mahir menjelajah jalanan pedesaan.

Para Ibu Pun Ikut Bersorak

Ternyata, nyore bukan monopoli anak muda. Juga bukan bermakna Nyore dalam bahasa Jawa Banyumasan sebagai aktivitas makan malam yang dilakukan sebelum waktu shalat Maghrib.

Di lokasi yang sama, di waktu yang hampir bersamaan, terlihat pula rombongan ibu-ibu muda yang tak kalah heboh. Mereka datang dengan kantong plastik berisi takjil instan, siomay, cilok, dan aneka camilan ringan yang mudah dijumpai di warung pinggir jalan. Yuni, warga asli Cilongok, mengaku hampir tak pernah absen dari rutinitas ini.

“Nyore-nya kita nggak makan berat, beli jajanan kayak siomay, cilok. Kadang bertiga, pernah juga berlima. Hampir setiap hari sih, asal cuaca mendukung,” tutur Yuni sambil menyuap cilok ke mulutnya, matanya menyipit bahagia.

Berbeda dengan anak-anak yang nekat ke mana saja, ibu-ibu ini lebih selektif. Mereka menghindari medan yang terlalu ekstrem seperti Bukit Jati Sewit Kasegeran karena lebih memilih kenyamanan daripada petualangan. Namun, tempat seperti Kalisat di Kaliori atau Bukit Pule di Sinyalangu justru masuk dalam daftar favorit mereka. Di sana, mereka bisa duduk santai sambil bercerita tentang anak, suami, dan resep masakan terbaru yang gagal atau berhasil.

Senja yang Merangkul Semua

Fenomena nyore menarik bukan karena makanannya. Ia menjadi titik temu lintas generasi di ruang publik yang sederhana. Anak-anak muda datang membawa gawai dan ambisi meregangkan otot setelah belajar. Para ibu datang untuk sekadar “keluar dari dapur”, menikmati angin sore tanpa agenda domestik yang mengikat. Mereka tidak saling mengenal, tapi berada dalam denyut yang sama: menghentikan waktu sejenak sebelum gelap datang.

Di sore itu, langit perlahan berubah dari jingga ke ungu. Bungkusan rames mulai terkoyak, cilok terakhir lenyap ditelan, dan gelak tawa semakin renyah. Aroma bumbu kacang siomay bercampur dengan wangi tanah basah dan dedaunan kering. Tak ada yang terburu-buru. Karena bagi mereka, nyore bukan soal kapan selesai, tapi soal dengan siapa senja itu dihabiskan.

Pedagang Siomay yang Tersenyum

Namun, nyore tak hanya tentang para penikmatnya. Di balik keramaian itu, ada denyut ekonomi kecil yang ikut bergerak. Di sekitar lokasi favorit para nyore mania, seorang pedagang siomay bernama Taufik tersenyum sumringah. Senja dengan langit cerah sore itu menyelimuti jiwanya. Lapaknya sederhana, gerobak dorong dengan panci berisi siomay dan tahu tapi rezekinya mengalir deras.

“Alhamdulillah kalau lagi ramai kayak gini ya lumayan dapat 200 ribu,” katanya. Dia menambahkan , “Tapi kalau tak ada yang Nyore, dagangan cuma laku 40 ribuan saja.”

Ia hafal betul pola pengunjung: menjelang magrib, rombongan anak muda dan ibu-ibu berdatangan, dan itu adalah saat-saat paling membahagiakan baginya. Apalagi jika akhir pekan tiba, Jumat atau Sabtu sore, omzetnya bisa melonjak dua kali lipat.

Ia tak peduli siapa yang datang entah itu remaja dengan tumbler atau ibu dengan gendongan bayi, yang penting mereka semua menyebut aktivitas itu dengan satu nama: Nyore. Dan Taufik adalah salah satu pemasok kebahagiaan mereka.

Satu hal yang pasti: di Cilongok, sore bukanlah akhir hari. Ia adalah pembuka cerita, dan nyore adalah judulnya. Di setiap suapan nasi, di setiap cilok yang dicocol saus, dan di setiap tawa yang meledak di tepi sawah, ada semacam perlawanan kecil terhadap rutinitas yang melelahkan. Ada kesadaran bahwa kebahagiaan kadang tak perlu mahal. Cukup dengan Rp5.000, teman sejati, dan senja yang merah menyala di ufuk barat.

Angga Saputra 

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Enam Pemuka Lintas Agama Pimpin Doa Kebangsaan di Monas, Wujud Persatuan di HUT ke-81 RI

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

NYORE: Menjemput Senja dengan Makanan dan Cerita

NYORE: Menjemput Senja dengan Makanan dan Cerita

Sabtu, 1 Agustus 2026

Enam Pemuka Lintas Agama Pimpin Doa Kebangsaan di Monas, Wujud Persatuan di HUT ke-81 RI

Enam Pemuka Lintas Agama Pimpin Doa Kebangsaan di Monas, Wujud Persatuan di HUT ke-81 RI

Sabtu, 1 Agustus 2026

G10T dan 171 Alsintan Bantuan Presiden Prabowo untuk Banyumas, Petani: Satu Pompa Masih Bergiliran

G10T dan 171 Alsintan Bantuan Presiden Prabowo untuk Banyumas, Petani: Satu Pompa Masih Bergiliran

Sabtu, 1 Agustus 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com