FOKUS UTAMA– Kemunculan seorang pria yang mengaku sebagai ‘Sultan Nusantara’ tengah menggemparkan publik Banyumas, Jawa Tengah. Melalui sebuah majelis agama, pria tersebut berhasil mengumpulkan sejumlah jamaah. Namun, ironisnya, beberapa jamaah justru melaporkannya ke polisi atas dugaan penipuan.
Selain diduga melakukan penipuan dengan berbagai dalih, ‘Sultan Nusantara’ ini juga kerap mengklaim dirinya sebagai keturunan langsung Sultan Hamid II dari Pontianak, Kalimantan Barat. Tak hanya itu, ia juga meyakini bahwa Sultan Hamid II masih hidup dan menetap di Belanda.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Sultan Hamid II yang disebut-sebut sebagai ‘datuk’ dari sang pengaku sultan tersebut?
Profil Sultan Hamid II: Sultan Pontianak Sekaligus Perancang Garuda Pancasila
Dikutip dari berbagai sumber, Sultan Hamid II lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie pada 12 Juli 1913. Ia adalah Sultan Pontianak ke-7 dan menjabat sebagai satu-satunya Presiden Negara Kalimantan Barat sejak 1946 hingga pembubarannya pada 1950.
Putra sulung Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini memiliki darah campuran Melayu-Arab. Menariknya, ia dibesarkan oleh dua warga negara Inggris, Salome Catherine Fox dan Edith Maud Curteis, hingga usia 12 tahun. Karena didikan tersebut, Hamid II fasih berbahasa Inggris selain bahasa Melayu dan dialek Pontianak.
Simpati kepada Belanda dan Karir Militer
Pada masa Revolusi Nasional Indonesia, Sultan Hamid II dikenal bersimpati kepada Belanda yang berupaya menerapkan sistem federal di Indonesia. Ia memandang Republik Indonesia yang kesatuan sebagai bentuk dominasi Jawa.
Hamid II juga seorang kolonel di Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Ia menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan (KMA) Breda, Belanda.
Masa Pendudukan Jepang
Saat Jepang menduduki Hindia Belanda pada 10 Maret 1942, Hamid II ditahan selama tiga tahun di kamp penjara Jawa karena kedekatannya dengan Belanda. Kebenciannya kepada Jepang semakin mendalam setelah 28 kerabat dan mentornya, Nona Curteis, tewas dibunuh. Ayah serta dua saudara laki-lakinya juga dieksekusi dalam insiden Pontianak.
Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, Hamid II dibebaskan sekutu dan langsung diangkat Belanda menjadi kolonel.
Perancang Lambang Negara Garuda Pancasila
Salah satu warisan terbesar Sultan Hamid II yang masih melekat hingga kini adalah rancangan lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sebagai sosok yang dekat dengan Belanda dan memiliki pemahaman mendalam tentang heraldik (ilmu tentang lambang), ia dipercaya merancang simbol negara yang kita kenal sekarang.
Kontroversi dan Kudeta APRA
Sultan Hamid II terlibat dalam konspirasi dengan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling untuk mengorganisir kudeta anti-Republik di Bandung dan Jakarta pada 1950 melalui Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Ia sempat ditahan pada 5 April 1950 setelah bukti keterlibatannya terungkap.
Akhir Hidup Sultan Hamid II
Sultan Hamid II menikah dengan Didie van Delden, seorang wanita Belanda, dan dikaruniai dua anak yang kini tinggal di Belanda. Ia wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta.
Hingga kini, klaim keturunan dan pernyataan ‘Sultan Nusantara’ bahwa Sultan Hamid II masih hidup jelas bertentangan dengan fakta sejarah. Sementara itu, laporan dugaan penipuan oleh para jamaah masih terus diproses oleh pihak kepolisian. (Angga Saputra)






