Mantan Bupati Banyumas periode 2008–2013, Drs. H. Mardjoko, M.M., menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di kediamannya, Grumbul Kalirajut, Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Sabtu (28/3).
Pementasan ini digelar dalam rangka ulang tahun-nya yang ke-80 sekaligus sebagai upaya melestarikan Wayang Gagrag Banyumasan.
Mardjoko menegaskan, pertunjukan bukan sekadar hiburan, melainkan tanggung jawab moral menjaga budaya lokal.
“Wayang Banyumasan harus terus hidup. Ini bagian dari identitas Banyumas,” ujarnya.
Lakon “Babad Kali Serayu”
Pertunjukan mengangkat lakon “Babad Kali Serayu”, kisah sejarah Sungai Serayu sebagai nadi kehidupan masyarakat Banyumas. Dalang Panji Laksono, yang dikenal konsisten membawakan gaya Banyumasan, tampil membawakan cerita dengan iringan gending, dialog ngapak, hingga sulukan khas Banyumas.

Jejak Leluhur
Mardjoko juga menautkan pementasan dengan kisah leluhurnya, Kiai Sucang (Lurah Notog, 1790) dan Eyang Singalani (Demang Rempoah, 1890). Keduanya disebut pernah berkeinginan menggelar wayang, namun tak terwujud karena keterbatasan ekonomi.
“Keinginan itu tidak pernah tercapai karena uangnya habis untuk mensejahterakan rakyat,” ungkapnya.
Regenerasi Dalang
Ketua Pepadi Banyumas, Sriyono, menilai pementasan ini sebagai bukti komitmen Mardjoko mengangkat kembali gagrag Banyumasan. Ia menekankan pentingnya regenerasi dalang muda. Pepadi bahkan telah membuka pendidikan pedalangan bagi anak usia 8–11 tahun.
“Dalang sepuh banyak yang angkat tangan. Tapi anak-anak dan remaja justru semangat. Ini yang sedang kami dorong,” kata Sriyono.
Identitas Banyumas
Menurut Sriyono, gagrag Banyumas memiliki kekhasan unik: dialek ngapak, iringan, sulukan, hingga gaya Onto Petona. Keberadaan dalang muda seperti Panji Laksono (25 tahun) dan dalang anak usia 10 tahun yang pernah juara nasional, menjadi harapan baru bagi kelestarian tradisi.
Catatan Redaksi: Pementasan wayang kulit di kediaman Mardjoko menegaskan bahwa pelestarian budaya bisa lahir dari inisiatif personal. Di tengah gempuran budaya populer, panggung wayang Banyumasan kembali hadir sebagai penanda identitas dan warisan sejarah Banyumas.
Angga Saputra








