BANYUMAS – Pemerintah Kabupaten Banyumas mencatat sebanyak 15.458 anak masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) per Maret 2026. Data tersebut masih berupa data mentah dan akan diverifikasi ulang.
Untuk menangani persoalan ini, Bupati Banyumas menandatangani komitmen bersama lintas sektor di Pendopo Si Panji, Kamis (23/4/2026). Acara ini melibatkan Forkopimda, perbankan, perguruan tinggi, camat, kepala desa, dan pemangku kepentingan pendidikan.
Bupati: Data Masih Perlu Diverifikasi
Bupati Banyumas menegaskan bahwa penanganan ATS tidak bisa dilakukan secara sektoral. Dibutuhkan kerja sama semua pihak.
“Masih banyak residu data yang belum dibersihkan, sehingga perlu dilakukan verifikasi langsung di lapangan,” ujarnya.
Dari hasil verifikasi di Kecamatan Tambak, misalnya, data awal menunjukkan 423 anak tidak sekolah. Namun setelah divalidasi, angka riil hanya 170 anak. Artinya, ketepatan data menjadi kunci utama kebijakan intervensi.
Program “Pasti Sekolah” dan Intervensi Nonformal
Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, Amrin Ma’ruf, menyampaikan bahwa program ini merupakan prioritas daerah melalui program “Pasti Sekolah” yang menargetkan akses pendidikan bagi seluruh anak di Banyumas.
Hasil verifikasi nantinya akan menentukan bentuk intervensi, baik melalui:
· Pendidikan formal, maupun
· Pendidikan nonformal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)
“Semua anak harus menjadi prioritas agar bisa menikmati layanan pendidikan, namun dengan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi mereka,” jelas Amrin.
Pendekatan Jemput Bola, Belajar di Balai Desa Tetap Terdaftar di Sekolah Induk
Pemkab Banyumas juga akan menerapkan pendekatan jemput bola. Guru mendatangi lokasi belajar yang telah ditentukan, sementara siswa tetap terdaftar secara administratif di sekolah induk.
Contohnya di Watuagung, Kecamatan Tambak, sebanyak 140 anak akan mengikuti pembelajaran formal dengan sistem kelompok belajar (pokjar) di balai desa, namun tetap terdaftar di sekolah induk.
Melalui komitmen bersama ini, pemerintah berharap verifikasi data bisa dipercepat sehingga penanganan ATS tepat sasaran dan berkelanjutan. (Alri Johan)








