Prof. Yudhie Haryono PhD
Penikmat Sastra
Engkau menulis pengakuan yang melankolis, “kasih sayang ke cucu lebih besar daripada ke anak.” Satu frasa yang kuulang-ulang saat pulang. Satu tesa menggelitik yang mengingatkanku pada senyummu. Bidadari sorga sejak kecilnya. Manusia termulia yang tak menyadari kasihku padanya.
Kreta malam. Purwojaya berlari. Di atas rel yang berdetak dihentak tak henti-henti, teronggok buku. Berserak sisa makanan modern: mie instan. Replika mental warga Indonesia: instan, inlander, mendendam, melupa dan miopik. Entah milik siapa.
Kubuka, hanya ada tulisan, “jadilah manusia yang tenang di saat orang lain menuduh kamu ini dan itu. Sesungguhnya, orang yang bermasalah dengan hati akan selalu heboh walaupun kita berdiam diri.”
Kawanku, apa kabarmu? Di umur yang menjulang ini, aku ingin jadi kopimu, yang ikhlas mengendap di bawah gelas bagi kepedihanmu; yang tekun hangatkan kesedihan dan sakitmu. Biarkan kasih ragaku, memeluk perih jiwamu; yang setia dan suci seperti sepeda kawan kecil sekolahmu.
Rasanya sudah lama sekali. Ya seperti seribu bulan tak minum teh di gerbong kereta. Teh yang menghangatkan tubuhku saat duduk di sampingmu. Untuk mudik dan sungkem keluarga. Sebelas tahun ini memang ekonomi indonesia buruk sekali. Bahkan gelap. Isinya cuma sogok dan korupsi; nyolong dan nipu. Istana isi penghuninya penghisap darah rakyat saja.
Semua bisnis mati dan tak bisa disehatkan. Joko dan Wowo memang hanya membawa duka sambil menabur “bala.” Yang tidak bersamanya, ekonominya sekarat. Begitulah isi dompet kami sehingga tak mampu lagi liburan berkereta.
Kasih. Walau begitu, hukum semesta memberikan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan, karena semesta tahu apa yang terbaik untuk kita. Sebaliknya, jika kita tak tahu hal itu, hina dinalah nasibnya.
Kasih. Sampai di kotamu saat pagi. Dan, gerimis pagi adalah sapaan, mendung tebal adalah jamuan. Dingin hati dan semesta adalah pelukan. Bangun, kasihku! Hari sudah siang. Belajar, bekerja dan berdoalah agar kekalahan tak menghadang.
Kau tahu, kerja raksasa kita itu perang kejeniusan: meluruskan cara berindonesia sejak dari pikiran! Jika tak memahaminya, mari ingat paradigma kuno yang menyatakan: saat anda tidak punya kejeniusan, nasib anda cuma jadi pengemis dan penjual bahan mentah ke oligark.
Suatu kali. Dalam khayalku, Aku telah mencumbumu di atas perahu; dengan nasib yang tak sempat ditakdirkan gerimis kepada sungai yang menjadikannya banjir. Di sini, nasib sering lebih perih dari ikan yang ditangkap nelayan, pun hatiku.
Di senja yang tua, kerjaku melambat. Tanpa target. Merasa dunia baik-baik saja. Sambil berpikir umur masih seribu tahun. Itu, sesungguhnya ciri warga negara kita juga. Syukurnya, beberapa sadar bahwa tidak semua orang ikut senang, saat kita bahagia; tidak semua orang ikut berduka, saat kita sedih. Terkadang justru kegagalan kita adalah apa yang mereka tunggu. Dan, kebahagian kita adalah apa yang mereka tak kehendaki.
Di sunyi kereta, Aku berharap ini perjalanan mudikku yang terakhir. Setelah itu, mati. Aku sudah “cukup” hidup di dunia ini. Aku sudah “bosan” tinggal di alam ini. Plz, untuk semua kawan dan handai taulan, mohon maaf salahku lahir batin. Juga kepadamu: biar kubawa rindu ini ke haribaanNya.(*)







