INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Renungan Jumat

Jumat, 26 Maret 2021

Hutang Rasa

Jika kita baca dongeng Yunani dan kitab-kitab suci, manusia adalah teladan, amat dekat dengan yang maha akbar. Menurut Homeros, para dewa ikut sibuk intervensi dan memihak dalam Perang Troya — seperti penghuni negeri tetangga.  

Di zaman sesudah itu, di abad ke-16, Michelangelo melukis manusia dan Tuhan begitu akrab di langit-langit Kapela Sistina di Vatikan: Tuhan mirip lelaki tua yang ganteng dengan lengan berotot menjangkau Adam. Bahkan karya itu mengandung cerita lebih. “Neurosurgery”, sebuah jurnal ilmiah, dalam nomor Mei 2010 memuat hasil penelaahan dua pakar anatomi syaraf yang menemukan bahwa Michelangelo melukiskan sel otak dan syaraf mata manusia dalam gambar tubuh Tuhan. 

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Keyakinan akan kehebatan itu tak terbatas di Eropa. Di Jawa abad ke-18, Yasadipura I menulis “Serat Cabolek” tentang perjalanan Bhima yang  berhasil menemui Dewa Ruci di tengah lautan. Kesimpulannya: manusia “tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dhéwé saking kang dumadi…” (manusia ditakdirkan lebih dari semua makhluk). Dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, Pramoedya Ananta Toer meneruskan keyakinan yang sama: baginya,  manusia, dengan ilmu dan teknologinya, “lebih agung” ketimbang sekitarnya. 

Visualisasi dan aneka penggambaran tentang manusia sungguh luar biasa.

Keluarbiasaannya itu yang kemudian menjadi arogan. Lupa Sangkan paraning dumadi. Benar, besar, menang. Termasuk ketika berhubungan dengan alam dan lingkungannya. “Mengaku” kecil kepada penciptanya, tapi kerap hanya lips service. Hamung lamis. Bagaimana dia bisa mengakui kemahaan sang pencipta, sementara dia lupa menghargai segala yang dicipta. 

Mudah mengaku salah dan bertaubat kepada yang tidak kelihatan, tapi enggan meminta maaf dan terus mengulang kejahatan kepada sesama. Yang diotaknya, “tuhan pasti memaafkan.” Tak perlu hirau tentang banyak rasa yang terluka. 

Kalkulasi pahala dan dosa, surga dan neraka, untung dan rugi, hanya itu yang dihafal dan diingat. Lalai bahwa ada hutang rasa yang belum terbayar.

Penulis: Rangga Sujali

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Musim Kemarau Diprediksi Mei Mendatang

Selanjutnya

BREAKING NEWS: Pemerintah Larang Mudik Lebaran 2021

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

Mau Makan di Stasiun? KAI Daop 5 Purwokerto Pastikan Aman dan Higienis

Mau Makan di Stasiun? KAI Daop 5 Purwokerto Pastikan Aman dan Higienis

Selasa, 10 Maret 2026

Dana BOS Madrasah dan BOP RA Mulai Dicairkan, Bisa untuk Bayar Gaji Guru Honorer

Dana BOS Madrasah dan BOP RA Mulai Dicairkan, Bisa untuk Bayar Gaji Guru Honorer

Senin, 9 Maret 2026

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 

Anak-anak Kita Tidak Baik-Baik Saja

Senin, 9 Maret 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Senin, 23 Februari 2026

SMPN 10 Purwokerto Minta Ganti Dapur MBG, FMP2M Soroti Menu Monoton dan Dugaan Selisih Anggaran

SMPN 10 Purwokerto Minta Ganti Dapur MBG, FMP2M Soroti Menu Monoton dan Dugaan Selisih Anggaran

Selasa, 3 Maret 2026

Selanjutnya

BREAKING NEWS: Pemerintah Larang Mudik Lebaran 2021

MBELING

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com