Lampu di Gedung Kesenian Soetedja belum sepenuhnya menyala. Di balik layar, Evan Bastian memegang kendali atas bunyi-bunyi yang akan menentukan denyut malam nanti. Ia tidak ingin musiknya sekadar mengiringi. Ia ingin musik itu berbicara.
Pukul 19.30 WIB nanti, Rabu (21/10/2026), Sanggar Seni Samudra akan membuka Banyumas Aesthetic Soetedja dengan Kembang Mangsan Peralihan, sebuah tafsir baru atas kisah Surti, lengger yang selama ini lebih sering dikenang lewat luka daripada cintanya.
Pementasan ini bukan pertama kalinya. Tahun lalu, naskah karya Jarot C. Setiyoko itu diproduksi sanggar yang sama. Antusiasme penonton melampaui kapasitas gedung. Namun kali ini, tim produksi memilih jalan lain: tidak mengulang, tetapi menafsir ulang.
“Pementasan Kembang Mangsan Peralihan merupakan karya yang luar biasa, dengan orisinalitas naskah, penggarapan, dan musik yang dibalut nuansa klasik,” ujar Fajar Sukron Said, pimpinan produksi yang akrab disapa Bangbeng, Selasa (20/10/2026).
Bangbeng tidak sedang berbicara tentang nostalgi. Ia berbicara tentang bagaimana sebuah karya yang lahir dari proses kreatif sendiri justru bisa merangkul generasi muda, bukan menjauhkannya.
Naskah Sama, Pengalaman Berbeda
Sutradara Setyo Wibowo menegaskan bahwa kesamaan naskah tidak berarti kesamaan pertunjukan. Detail alur, intensitas konflik, dan tata penyajian diperiksa kembali. Ia menyebut timnya telah menyiapkan original soundtrack dan memperbaiki alur cerita dengan lebih teliti.
“Kami telah menyiapkan original soundtrack dan alur cerita kami perbaiki dengan detail,” kata Setyo.
Di pusat kisahnya, Surti berdiri di antara dua dunia: lingkungan sosial yang menghinanya sebagai lengger, dan cinta yang ia simpan untuk seorang laki-laki dari kalangan rakyat biasa. Pertentangan antara stigma, harga diri, dan ketulusan itulah yang hendak didekatkan kepada penonton, bukan lewat ceramah, melainkan lewat permainan dramatik dan musik.

Dua Lagu, Tiga Lapisan Emosi
Evan Bastian menjelaskan bahwa komposisi tidak diposisikan sebagai latar bunyi semata. Musik adalah bahasa dramatik yang menuntun suasana dan memperdalam makna adegan.
“Menurut saya, musik merupakan salah satu unsur pendukung yang cukup penting untuk membangun nuansa dan atmosfer pementasan,” jelas Evan.
Dua lagu orisinal disiapkan: Kesaksian Kupu-Kupu dan Bunga di Antara Sembilu. Keduanya menghadirkan lapisan emosi Surti dimulai dari kelembutan, luka batin, hingga keteguhan perasaan. Evan memastikan musik tidak mendominasi. Kehadirannya diatur proporsional agar perasaan para tokoh dapat berbicara lebih kuat.
Ada komitmen lain yang ia sisipkan: produksi teater lokal didorong menghasilkan karya sendiri, bukan meniru tanpa menghargai pencipta.
Gratis untuk Masyarakat
Kembang Mangsan Peralihan dipentaskan di Gedung Kesenian Soetedja, kawasan Karanganyar, Purwokerto Kidul, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Berdasarkan poster acara, penonton dapat menyaksikan pertunjukan tanpa biaya tiket masuk dan memperoleh e-sertifikat.
Malam ini, Surti akan kembali berdiri di panggung. Kali ini, ia tidak sendirian, ada musik yang belum pernah ada, dan penonton yang datang bukan untuk mengenang, tetapi untuk mendengar ulang.
Angga Saputra






