BANYUMAS – Sebanyak lima perupa menghadirkan perspektif berbeda tentang dunia anak-anak dalam pameran seni rupa bertajuk “Cikal” yang berlangsung di Rumah Literasi Merdeka, Purwokerto, sejak 25 Juli hingga 1 Agustus 2026.
Mengusung tema dunia anak, pameran ini menampilkan beragam karya mulai dari lukisan hingga patung berbahan clay (tanah liat). Kelima seniman yang terlibat adalah Ghufron Najib, Risna Utami, Sinung Rubianto, Pupung Pursita, dan Dien Yodha.
Ghufron Najib mengangkat kehidupan anak-anak desa dengan aktivitas sehari-hari yang sarat keceriaan dan nuansa religius. Sementara Risna Utami menampilkan gaya naif dengan warna-warna cerah yang merekam keseharian anak lintas generasi.
Berbeda dengan keduanya, Sinung Rubianto—mantan ilustrator berbagai media anak—menghadirkan dunia anak berdasarkan pengalaman dan imajinasinya sendiri. Ia mengolah realitas kehidupan menjadi cerita visual yang ringan dan dekat dengan perspektif anak.
“Imajinasi anak adalah cara paling tulus untuk melihat dunia,” ujar Sinung saat ditemui di sela-sela pembukaan pameran, Jumat (24/7) sore.
Pupung Pursita memilih media clay untuk mengekspresikan karakter dunia anak melalui karya tiga dimensi yang unik. Adapun Dien Yodha melengkapi pameran dengan karya ilustratif yang memadukan gaya realis dan pop art.
Pembukaan pameran dihadiri oleh aparat pemerintah, seniman, pegiat seni, aktivis sosial, serta masyarakat umum.
Ruang Dialog Kreatif
Ketua Komunitas Rumah Literasi Merdeka, Andy Ismerdeka, mengatakan pameran “Cikal” diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal bentuk, warna, dan keindahan sekaligus mengembangkan imajinasi mereka.
“Cikal menjadi pameran yang mengenalkan bentuk, warna, dan keindahan, menyasar imajinasi anak-anak. Sungguh pas pameran ini mengiringi peringatan Hari Anak,” kata Andy.
Pelukis asal Yogyakarta, Lully Tutus, yang hadir pada pembukaan menilai “Cikal” bukan sekadar ajang memamerkan karya seni, tetapi juga ruang dialog kreatif antarseniman.
“Pameran ini bukan sekadar presentasi visual, namun juga ruang dialog antarperupa yang berani membedah batas-batas kreativitas,” ujarnya.
Lully pun mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut. “Saya ucapkan selamat dan sukses untuk pameran ‘Cikal’, karena semua berawal dari cita-cita yang besar, dimulai dari hal yang terkecil, dan dimulai dari saat ini,” tuturnya.
Pameran “Cikal” terbuka untuk masyarakat umum dan masih dapat dikunjungi di Rumah Literasi Merdeka, Purwokerto, hingga 1 Agustus 2026.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






