Dunia musik Indonesia kembali berduka. Doddy Keswara Katamsi, musisi gaek yang dikenal sebagai roker sekaligus vocal coach legendaris, menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 13.15 WIB di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).
Ia berpulang di usia 59 tahun setelah beberapa minggu menjalani perawatan medis intensif. Mendiang menderita komplikasi penyakit jantung dan ginjal. Kondisi kesehatannya sempat menurun drastis, membuat proses penanganan semakin sulit.
Rocker yang Tak Pernah Kehilangan Stamina
Rambut gondrong. Karakter vokal yang khas. Siapa tak kenal Doddy Katamsi?
Nama Doddy sudah melegenda di kancah musik rock nasional. Ia adalah pria serba bisa yang sukses di dua dunia sekaligus: panggung musik dan ruang pendidikan vokal.
Karier bermusiknya bukan kaleng-kaleng. Selepas menempuh studi di SMA 8 Bukit Duri, Jakarta, Doddy membentuk band Seedz. Pada 1987, Seedz melanglang buana dengan membawakan lagu-lagu Scorpions.
Selepas dari Seedz, ia bergabung dengan Brawijaya Band bentukan alumni Pangudi Luhur. Tak butuh waktu lama, ia kembali mencuri perhatian lewat band barunya, Whizzkid.
Di tengah kesibukan bersama Whizzkid, Doddy masih menyempatkan diri melanjutkan studi di UNAS, mengambil jurusan Hubungan Internasional. Namun nyatanya, dunia tarik suara lebih memanggil jiwanya.
Kebolehannya dalam bernyanyi dilirik band legendaris Elpamas. Ia pun didapuk menggantikan Baruna Priyotomo sebagai vokalis. Bergabung dengan Elpamas semakin melambungkan namanya di kancah musik rock nasional.
Di Balik Layar: Pencetak Bintang
Selain sebagai pelaku seni, Doddy Katamsi dikenal luas sebagai vocal coach terkemuka. Deretan artis ternama pernah dibimbingnya melalui Bengkel Vokal Dokat.
Sebut saja Ari Lasso, Ariel Noah, Once Mekel, Nicky Astria, Atiek CB, Tantri Kotak, Astrid, Bams Samson, dan masih banyak lagi. Nama-nama besar itu merupakan hasil didikan tangannya.
Kepada Harian Disway, Doddy pernah menyebut bahwa kemampuan mengajarnya berasal dari sang ibu.
“Ibu adalah guru vokal pertama saya. Sebagai penyanyi klasik, Ibu sangat disiplin, keras, tanpa tawar menawar. Pitch tidak boleh meleset sedikitpun,” ujar putra dari maestro seriosa Pranawengrum Katamsi itu.
Didikan sang ibu membentuk Doddy menjadi vocal coach terkemuka. Metode dan teknik yang diajarkan terinspirasi dari sosok sang Ibu. Sekian lama belajar, ia mampu memadukan teknik vokal klasik dan kontemporer. Hasilnya, ia mahir membawakan semua genre musik.
“Vocal coach yang baik biasanya berperan dalam dua bidang, yaitu pelaku dan guru. Sebagai pelaku, dari pengalaman pentas kita akan tahu kendala-kendala dalam bernyanyi,” ungkapnya.
“Sehingga ketika berperan sebagai guru, coach bisa mengerti permasalahan muridnya. Karena dulu pernah merasakan permasalahan yang sama,” lanjutnya.
Filosofi Bernyanyi: Singing with Speech Level
Pria kelahiran Surabaya, 10 Juni 1967 itu memiliki pandangan unik tentang teknik vokal. Menurutnya, permasalahan utama para penyanyi adalah kurang bisa memaksimalkan produksi vokal dan getaran di dada.
“Singing with speech level. Bernyanyilah sesuai level berbicara. Refleks saat berbicara harus sesuai dengan refleks saat bernyanyi,” ujarnya.
“Membiasakan diri berbicara dengan getaran di dada akan membantu memaksimalkan produksi suara saat bernyanyi. Juga artikulasi yang baik saat melafalkan lirik lagu,” tambahnya.
Doddy juga menyoroti banyaknya guru vokal yang belum memahami struktur anatomi alat bunyi dan alat tubuh yang berpengaruh dalam produksi suara.
“Seperti permasalahan power. Kita harus mengajarkan teknik ‘yawn without yawning’. Bukan sembarang membuka mulut. Lidah, langit-langit lunak di belakang tekak harus mengembang seperti orang menguap. Power suara akan dapat dimaksimalkan dengan teknik itu,” jelasnya.
Untuk penguasaan nada-nada tinggi, Doddy punya resep jitu.
“Mudah. Sebenarnya hanya persoalan memindahkan getaran pita suara menuju dada. Lalu kepala. Head voice. Itu teknik utama pengambilan nada-nada tinggi,” ungkap pria yang pernah kuliah di Gunadharma namun drop out tersebut.
Melampaui Genre

Meski lebih mentereng dengan predikat rocker, Doddy ternyata juga memiliki banyak siswa di luar genre rock. Sebut saja Dide Irawan dari Hijau Daun dan Naga, vokalis Lyla.
“Semua genre musik memiliki teknik vokal dasar yang sama. Biasanya setelah siswa lulus dari tahapan produksi vokal, maka ia akan diarahkan pada genre yang cocok dengan karakter suaranya. Dari pendalaman genre itulah ada latihan khusus,” tutur vocal coach Indonesian Idol itu.
“Misalnya ingin menekuni jazz, maka vokalis harus benar-benar menekuni teknik pitch dan improvisasi. Kalau rock, penyanyi harus memaksimalkan power suara, kasar dan merdunya serta teknik pengambilan nada-nada tinggi,” tambahnya.
Kritik atas Auto Tune
Perkembangan teknologi yang pesat turut berpengaruh dalam industri rekaman. Fitur auto tune yang dapat mengatur pitch dan menyesuaikannya dengan nada lagu menjadi solusi bagi teknisi recording.
Doddy mengamati hal tersebut. Menurutnya, fitur auto tune memang bagus. Tapi jika dipakai berlebihan, akan terlihat perbedaan mencolok.
“Sebenarnya auto tune dapat dipakai untuk menyempurnakan bagian-bagian kecil saja. Vokalis harus menguasai teknik bernyanyinya dulu. Baru berani rekaman,” ungkapnya.
“Bila fitur auto tune dipakai dari awal hingga akhir, maka ketika vokalis tampil di panggung, akan timbul pertanyaan: Bagaimana bisa vokalis yang dalam kaset suaranya bagus, tapi ketika tampil live suaranya kacau?” tambah Doddy, kemudian tertawa.
Easy Going di Balik Panggung
Sekilas, pria bertubuh tambun itu tampak biasa-biasa saja dengan kesehariannya yang easy going. Namun siapa menyangka, namanya ada dalam deretan musisi legendaris Indonesia. Pun di belakang layar, ia banyak menelurkan artis-artis ternama.
Doddy Katamsi telah pergi. Namun karyanya abadi. Teknik vokalnya akan terus diwarisi para murid. Karakternya akan terus dikenang para penggemar.
Selamat jalan, Doddy Katamsi. Suaramu tak akan pernah hilang.
Angga Saputra






