Anang Fahmi ( Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto )
Saya ini orang kampung. Dulu, kalau mau ke kota, saya bertanya jalan kepada tukang becak, kepada penjual rokok di pojok gang, kepada siapa saja yang kebetulan lewat. Sekarang tidak perlu. Ada suara perempuan yang sangat sopan dari dalam telepon: “Dua ratus meter lagi, belok kiri.” Saya patuh. Saya belok kiri. Dan saya sampai.
Tapi, jujur saja, sekarang saya tidak hafal jalan mana pun. Saya sampai, tapi saya tidak tahu di mana saya. Para peneliti sudah lama mencatat hal ini: orang yang terlalu bergantung pada GPS, ingatan ruangnya pelan-pelan menyusut. Yang tidak dilatih akan mengecil. Itu hukum alam, bukan hukum teknologi.
Lalu datanglah mesin yang lebih pintar lagi. Ia bisa menulis puisi, membuat makalah, menjawab soal ujian, bahkan menghibur orang yang sedang patah hati. Ada insinyur yang sampai yakin mesin di depannya itu “seseorang”, karena mesin itu bilang takut dimatikan. Setengah abad sebelumnya, seorang sekretaris di Amerika minta bosnya keluar ruangan supaya ia bisa curhat berdua saja dengan program komputer yang sangat sederhana. Manusia memang gampang jatuh cinta. Kepada lawan jenisnya halal, kepada Tuhan wajib, kepada mesin… nanti dulu.
Pintar Itu Bukan Sadar
Di sinilah kita perlu duduk bersila sebentar. Kepintaran itu satu hal, kesadaran itu hal lain. Dalam peta yang saya pakai, manusia itu berlapis-lapis: ada tubuh, ada akal yang mengolah tanda, ada “aku” yang mengalami dan merasakan, ada pola fitrah yang dibawa sejak lahir, dan di atas semuanya ada Sumber segala kemungkinan. Mesin hari ini bekerja sangat hebat di lapis akal. Menghitung, menebak kata berikutnya, merangkum, membandingkan. Tetapi tidak ada bukti bahwa di dalamnya ada yang mengalami.
Al-Quran sudah mengingatkan dengan kalimat yang dahsyat: bukan mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada. Seseorang bisa memproses dengan sempurna tapi tidak memahami apa-apa. Itu dulu sindiran untuk manusia. Sekarang ia juga menjadi deskripsi paling jujur tentang mesin.
Maka pegangannya sederhana: kefasihan bukan bukti pengalaman, dan kecerdasan bukan ukuran martabat. Martabat manusia tidak turun satu milimeter pun hanya karena ada mesin yang lebih pintar darinya. Kalau martabat diukur dari kepintaran, sudah dari dulu kita kalah sama kalkulator.
Lalu bagaimana dengan janji “keabadian digital”, otak disalin ke komputer supaya kita tidak mati? Saya tanya balik: kalau fotokopi ijazah Anda dibakar, apakah Anda ikut terbakar? Salinan, sesempurna apa pun, bukan kelanjutan dari orang yang disalin. Yang disalin itu bayangannya, bukan orangnya.
Tangan, Pikiran, dan Tembok Kota
Nah, di titik ini saya ingin mengajak Anda sowan kepada seorang simbah dari abad keempat belas: Ibnu Khaldun. Beliau hakim, mantan menteri, pernah dipenjara, pernah dipercaya, pernah dicurigai, dan akhirnya menyepi di sebuah benteng di Aljazair untuk menulis Muqaddimah. Orang mengenalnya sebagai bapak sosiologi. Tapi jarang yang tahu, beliau memulai bukunya bukan dari negara, melainkan dari tangan.
Manusia, kata Ibnu Khaldun, tidak diberi tanduk, taring, atau kulit tebal. Sebagai gantinya ia diberi dua hal: pikiran (fikr) dan sepasang tangan. Tangan yang dibimbing pikiran membuat lembing pengganti tanduk, pedang pengganti cakar, perisai pengganti kulit. Seluruh sejarah peradaban adalah sejarah alat yang menggantikan kemampuan.
Tapi Ibnu Khaldun juga mencatat harganya. Orang kota yang berlindung di balik tembok dan menyerahkan keamanannya kepada tentara, lama-lama kehilangan keberanian dan kewaspadaan. Ketergantungan itu, katanya, “menjadi suatu sifat yang mengganti kedudukan alam.” Manusia adalah anak dari kebiasaannya sendiri.
Lembing menggantikan tanduk. Tembok menggantikan kewaspadaan. Tentara bayaran menggantikan keberanian. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, yang digantikan bukan tangan, melainkan sebagian dari pikiran itu sendiri. Pertanyaan Ibnu Khaldun tentang tembok kota harus kita ajukan ulang tentang mesin cerdas: kemampuan apa yang menyempit kalau kita berhenti melatihnya?
Empat Generasi dan Bahaya Taqlid Digital
Ibnu Khaldun punya teori yang bikin saya merinding. Kemuliaan sebuah keluarga, katanya, paling jauh bertahan empat generasi. Generasi pertama membangun dengan tangannya sendiri, jadi ia tahu betul apa yang dibangunnya. Generasi kedua belajar dari ayahnya, tapi belajar lewat cerita selalu lebih rendah daripada belajar lewat praktik. Generasi ketiga cuma meniru, taqlid. Generasi keempat mengira kemuliaan itu warisan darah, lalu meremehkan semua yang menopangnya. Dan runtuhlah ia.
Coba tempelkan teori itu ke zaman sekarang. Kalau anak-anak kita sejak kecil menyerahkan menulis, merangkum, dan menimbang kepada mesin, mereka bisa jadi generasi ketiga yang lahir terlalu cepat: pandai menyalin jawaban, tapi tidak pernah bergulat dengan pertanyaan. Taqlid digital. Kalimatnya rapi, isinya bukan miliknya.
Jalan keluarnya bukan memusuhi mesin. Itu sama konyolnya dengan menolak sendok lalu makan pakai jempol kaki. Jalan keluarnya adalah urutan: berpikir dulu, bergulat dulu, baru memeriksa jawaban mesin. Biarkan mesin jadi sparring partner, jangan jadi juru bicara yang menggantikan isi kepala kita.
Raja yang Cerdas dan Raja yang Santun
Ada satu pengamatan Ibnu Khaldun yang terasa seperti ditulis untuk para perancang teknologi hari ini. Nilai seorang pemimpin, katanya, tidak terletak pada ketampanannya, keluasan ilmunya, atau ketajaman otaknya, tetapi semata-mata pada hubungannya dengan orang yang dipimpinnya. Lalu beliau menambahkan hal yang ganjil: sifat santun justru jarang dimiliki pemimpin yang sangat cerdas, karena kecerdasannya membuat ia melihat terlalu jauh ke depan dan membebani rakyatnya melebihi kemampuan mereka.
Kecerdasan tanpa adab adalah ketajaman yang tidak lagi bersentuhan dengan manusia. Mesin sangat cerdas, tetapi tidak pernah merasakan beban yang ia letakkan di pundak orang lain. Maka adab, kejujuran, dan tanggung jawab tidak boleh ikut kita serahkan kepada mesin. Orang berhak tahu kapan ia sedang bicara dengan mesin. Keputusan tentang hidup, mati, dan kebebasan seseorang harus tetap ada pemiliknya, ada manusia yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Agensi yang kita pinjamkan kepada mesin tidak pernah benar-benar pindah tangan. Ia tetap milik kita, berikut dosanya.
Langit, Bumi, Gunung, dan Mesin
Al-Quran bercerita: amanah pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya menolak. Manusia memikulnya, dan langsung disebut “sangat zalim dan sangat bodoh.” Lho, kok dipuji sekaligus dimaki?
Karena memikul amanah artinya mampu memilih, dan yang mampu memilih benar juga mampu memilih salah. Langit, bumi, dan gunung itu sangat kuat dan sangat patuh. Mesin cerdas adalah langit, bumi, dan gunung yang baru: kuat, cepat, patuh pada perintah, tapi tidak memikul amanah. Justru karena itu, beban amanah manusia tidak berkurang. Ia bertambah. Niat yang jahat kini dibantu tenaga raksasa, niat yang baik juga.
Lee Sedol, juara Go dari Korea, pensiun setelah dikalahkan mesin. Tapi lalu ia mengajar, merancang permainan baru, dan berbicara tentang arti menjadi manusia. Ia berhenti berlomba di lapis tempat mesin unggul, lalu bekerja di lapis-lapis di atasnya.
Itulah kuncinya. Di era mesin cerdas, manusia tidak akan menang dengan menjadi lebih cepat. Manusia tetap relevan dengan menjadi lebih lebar: lebih dalam memaknai, lebih jernih menentukan arah, lebih tulus mengasihi. Mesin boleh mengambil kemenangan. Jangan biarkan ia mengambil jalannya. Kecuali, tentu saja, kita sendiri yang menyerahkannya, sambil belok kiri dua ratus meter lagi, tanpa tahu sedang menuju ke mana.






