PURWOKERTO — Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Banyumas Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Banyumas, Alun-alun Purwokerto, Selasa (20/10/2026).
Massa mahasiswa turun ke jalan menyampaikan kritik dan tuntutan terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa berbagai spanduk dan poster yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah. Sejumlah poster ditempelkan di gerbang masuk Kantor Bupati Banyumas.
Beberapa tulisan yang terpampang di antaranya “Civil Phobia”, “Shut the President’s Mouth with This”, dan “MBG Is the Most Bastard Government”. Mahasiswa juga menyampaikan kritik melalui poster bertuliskan “Ekonomi Dikebiri, Aparat Diberi Kursi, Eksekutif Tidak Berkompetensi”.
Aksi sempat diwarnai ketegangan ketika massa mahasiswa berusaha merangsek masuk ke area kantor bupati. Aksi saling dorong pun terjadi antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.
Mahasiswa berupaya menemui Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, dan Ketua DPRD Banyumas untuk menyampaikan tuntutan secara langsung. Namun, keduanya diketahui tidak berada di Banyumas saat aksi berlangsung.
Massa kemudian sempat ditemui oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspem Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Banyumas serta anggota DPRD Banyumas, Wawan Yuwanda.
“Anti fasisme, anti fasisme, anti fasisme,” teriak para massa aksi.
Mahasiswa menolak menerima tanggapan dari kedua perwakilan tersebut dan tetap meminta agar dapat bertemu langsung dengan pihak yang mereka tuju, yaitu Bupati dan Ketua DPRD. Tapi tak lama kemudian, Ketua DPRD Banyumas yang sedang ada agenda lain datang menemui para mahasiswa.
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Azza Febra Pramudika, menyampaikan orasi dalam aksi tersebut. Ia mendesak Bupati Banyumas menemui massa aksi sekaligus menyetujui berbagai tuntutan yang dibawa mahasiswa.
“Aksi hari ini sebetulnya adalah bentuk akumulasi dari kemarahan maupun kekecewaan teman-teman masyarakat maupun elemen-elemen sipil. Jadi mengambil momentum 2 tahun Prabowo-Gibran ini yang kita gunakan untuk bisa memberikan suatu tekanan-tekanan politik, tekanan-tekanan yang nantinya menghasilkan suatu perbaikan dari daerah,” katanya kepada wartawan.
Mereka menginginkan aspirasi yang disampaikan dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran mendapat respons langsung dari pemangku kebijakan.
Aksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah sekaligus mendesak adanya tanggapan atas tuntutan yang mereka sampaikan.
Angga Saputra






