BANYUMAS – Derasnya arus informasi digital kini tak hanya menuntut kecakapan teknis, tetapi juga integritas moral. Untuk menjawab tantangan itu, Tim Pengabdian Universitas Peradaban menggelar program Pendampingan Media Sekolah Berbasis Jurnalisme Profetik di MA Miftahul Huda, Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas.
Program ini bukan sekadar pelatihan menulis. Lebih dari itu, siswa diajak membangun kesadaran kritis dan karakter profetik—jujur, bertanggung jawab, serta berpihak pada kebenaran—dalam setiap konten yang mereka produksi.
Siswa Didorong Jadi Produsen Informasi Berintegritas
Ketua tim pengabdi, Aan Herdiana, menegaskan bahwa generasi muda saat ini menghadapi dua masalah sekaligus: banjir informasi dan krisis verifikasi.
“Siswa hari ini harus naik kelas, bukan hanya sebagai pengguna media, tetapi sebagai produsen informasi yang memiliki integritas. Jurnalisme profetik menjadi pendekatan yang kami tawarkan untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.
Kepala Madrasah: Ini Langkah Tepat di Era Digital
Apresiasi tinggi disampaikan Kepala MA Miftahul Huda, KH. Ulul Albab, M.Pd. Menurutnya, program ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan di tengah kompleksitas era digital.
“Di tengah derasnya arus informasi, siswa kita sering kali menjadi objek, bukan subjek. Mereka menerima begitu banyak informasi tanpa filter yang kuat. Kami berharap siswa mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dalam bermedia,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa media sekolah harus membawa pesan kebaikan dan mencerminkan akhlakul karimah. “Ini sejalan dengan visi madrasah untuk melahirkan generasi unggul, islami, dan berdaya saing,” tambahnya.
Materi Jurnalistik Disambut Antusias
Pada sesi pertama, pemateri Agung Triyatno, S.Sos., M.Si., mengupas tuntas dasar-dasar jurnalistik, mulai dari unsur 5W+1H, nilai berita, hingga struktur piramida terbalik. Tak hanya teori, peserta juga diajak memahami pentingnya akurasi, verifikasi, dan keberimbangan.
“Saya menyamakan kegiatan menulis berita ini dengan tradisi bahstul masail di pesantren. Bedanya, jurnalistik mencari data ke narasumber yang masih hidup, sedangkan bahstul masail menelusuri kitab-kitab terdahulu. Keduanya butuh ketelatenan,” jelas Agung.
Ia pun mengingatkan agar siswa tak terjebak budaya “asal posting”.
“Menjadi jurnalis itu bukan sekadar menulis, tetapi menjaga kebenaran. Setiap informasi yang kita tulis harus bisa dipertanggungjawabkan, baik secara fakta maupun secara moral. Inilah nilai utama jurnalisme profetik,” tegasnya.
Peserta pun diajak langsung menyusun berita sederhana dari peristiwa di sekitar sekolah, dengan tetap memperhatikan fakta, bahasa, dan etika publikasi.
Simulasi Liputan: Siswa Terjun Langsung ke Lapangan
Sesi kedua menghadirkan praktik peliputan langsung bersama Deswita Sri Aisya. Para siswa diajak melakukan simulasi wawancara, penggalian data di lapangan, hingga dokumentasi visual.
Pendekatan praktik ini membuat siswa lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses produksi berita. Mereka belajar menyusun pertanyaan, menggali informasi dari narasumber, serta mengemas hasil liputan menjadi konten yang menarik dan informatif.
Harapan: Gerakan Literasi Digital Berkelanjutan
Melalui program ini, siswa MA Miftahul Huda tak hanya mengasah keterampilan teknis jurnalistik, tetapi juga mendapatkan kesadaran kritis dalam bermedia. Program ini diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem media sekolah yang sehat, edukatif, dan berbasis nilai.
Ke depan, tim pengabdi Universitas Peradaban berharap model pendampingan ini dapat direplikasi di berbagai sekolah lain—sebagai bagian dari gerakan literasi digital yang lebih luas dan berkelanjutan, khususnya di kalangan santri remaja dan anak muda pada umumnya.
Pewarta: Alri Johan
Editor : Angga Saputra







