INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

DI MANA KINI NAWACITA

Senin, 18 Desember 2023

Prof. Yudhie Haryono PhD
Rektor Universitas Nusantara

Kita perlu bertanya, “apa yang sedang dilakukan presiden dengan nawacitanya di tengah empat perang bersamaan: proxy war, asimetric war, currency war dan agency war?”

Apa yang ia lakukan dengan program revolusi mental seiring sedang bertarung antara neoliberalisme (kapitalis prifate) melawan neokomunisme (kapitalis negara). Sebuah perang yang akibatnya membuat krisis (keuangan) di mana-mana. Jika lihat pernyataan pemerintah maka jelas kita baru sebatas penonton.

Belum ada langkah radikal. Belum ada terobosan. Blm ada tindakan. Maka, zaman ordeba orang waras bertanya “apa enaknya.” Sedang masa reformasi, orang waras berucap “apa adanya saja tak ada.” Coba sebutkan apa yg luarbiasa kini di zaman tidak biasa?

Jadi. Ini soal kedaulatan berbangsa dan bernegara. Ini soal lama tapi aktual. Soal genting di zaman penting. Soal kewarasan di tengah kegilaan.

Pak Presiden, tanpa menggurui pada tuan, izinkan saya mengulang kembali kesalahan-kesalahan rezim Orba dan Neo-orba yang membuat pondasi liberalisme dan neoliberalisme. Rezim yang menyembah pasar penghasil dependensia (ketergantungan) dan ketimpangan (tidak mandiri, apalagi berdaulat).

Teori ekonomi dependensia pertama kali dicetuskan Paul Baran. Dalam buku On The Political Economy Of Backwardness (1952), Baran menjelaskan berbagai faktor penyebab keterbelakangan ekonomi di negara postkolonial, terutama di Amerika Latin.

Dengan memusatkan perhatian pada hubungan kelas antara rakyat, elit internal dan investor asing, Baran melihat adanya kontradiksi antara imperialisme, proses industrialisasi dan ekonomi pembangunan umum di negara postkolonial tersebut.

Baran mengakui bahwa investasi yang dilakukan perusahaan multinasional dari negara penjajah (MNC) di negara terjajah di satu sisi dapat meningkatkan pendapatan nasional, namun di sisi lain peningkatan pendapatan di negara postkolonial tidak dinikmati oleh sebagian besar rakyat miskin tersebut karena tingginya ketimpangan dalam distribusi pendapatan.

Keuntungan yang dihasilkan oleh investasi perusahaan multinasional melalui eksploitasi sumber daya alam dan manusia (SDA&SDM) di negara postkolonial tidak dinikmati secara merata. Keuntungan ini lebih banyak dinikmati oleh segelintir elit politik saja.

Baran menyimpulkan bahwa pada dasarnya “investasi asing tidak meningkatkan kesejahteraan negara postkolonial.” Yang terjadi hanya perubahan kebiasaan sosial rakyat miskin serta perubahan orientasi dari kecukupan dan pemenuhan pasar dalam negeri menjadi orientasi produksi untuk memenuhi pasar luar negeri.

Di negara postkolonial, liberalisme dan kapitalisme telah gagal memperbaiki kesejahteraan rakyat miskin, tetapi sangat berhasil menstabilisasi semua ketimpangan ekonomi dan sosial yang melekat dalam sistem tata negara postkolonial.

Masih ingatkah kawan, dengan dialog-dialog kita menjelang pilwakot Solo kedua dulu? Saat kita bersumpah atas nama Pancasila dan rakyat miskin sepertimu untuk merubah struktur ekonomi warisan rezim begundal dan pesolek? Kok makin lupa, sepertinya.

Di tanganmu, rakyat miskin tambah miskin dan mati di lumbung padi. Kasihan. Nasib meresahkan di tengah revolusi mental dan nawacita yang makin hilang di peredaran.

Akhirnya kubertanya lagi. Ke mana kita kini bisa mencari elite yang punya dan menjalankan gagasannya? Sebab, tanpa elite yang cerdas, kepemimpinan kita defisit terobosan. Sepertinya, semua menjalankan pikiran dan gagasan impor yang tak cocok digunakan sebagai solusi bangsa ini. Terlebih Joko Widodo, gagasan dan pikirannya hanya blusukan saja.

Padahal, kepemimpinan tanpa gagasan bagaikan tubuh tanpa tulang. Gagasan itulah penegak manusia, penopang sebuah bangsa, mantapnya bumi manusia, terangnya anak semua bangsa, pendar listrik rumah kaca plus jejak langkah negara.

Kita lihat Einstein, misalnya. Dengan kecerdasan temuan Teori Relativitasnya, manusia jadi mudah mendiami planet ini. Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, John F. Kennedy, Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer. Kesemua hidup dan menghidupi peradaban dengan gagasan-gagasan dan pikiran-pikirannya.

Kini, kita sulit menemukan orang-orang yang berpikir seperti mereka. Apa bahaya? Mungkin. Sebab, yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah jabatan atau posisinya, melainkan pikiran-pikiran dan cita-citanya.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Apa Arti Kata Ndasmu?

Selanjutnya

KISAH ALKITABIYAH

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Film “Pesta Babi”, Demokrasi, dan Ketakutan Negara pada Suara Warga

Ketika Anak Jujur Harus Kalah oleh Bocoran Soal

Jumat, 19 Juni 2026

Alumnus SMA N 1 Purwokerto Yugo Deandra Terpilih Wakili Indonesia di Olimpiade Astronomi Internasional 2026

Alumnus SMA N 1 Purwokerto Yugo Deandra Terpilih Wakili Indonesia di Olimpiade Astronomi Internasional 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Cara Nobar Piala Dunia 2026 Legal Tanpa Ribet! Ini Syarat & Langkah Daftar via Bola Gembira

Cara Nobar Piala Dunia 2026 Legal Tanpa Ribet! Ini Syarat & Langkah Daftar via Bola Gembira

Kamis, 18 Juni 2026

Selanjutnya

KISAH ALKITABIYAH

Yanuar Arif Wibowo SH

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com