Malam itu, Leci Café bukan sekadar venue. Ia berubah menjadi ruang pengakuan, altar kecil tempat lirik-lirik bertemu luka, dan nada-nada menjadi pelukan. Kamis (20/8/2026), Kunto Aji menggelar konser intim “bERANI Update Kehidupan”—dan apa yang terjadi di atas panggung serta di antara kursi-kursi penonton, terasa lebih dalam dari sekadar konser. Ia seperti sesi terapi kolektif yang dibalut melodi.
Sejak senja, antrean panjang mengular di pintu masuk. Arsitektur modern Leci Café yang berdampingan dengan klasik Kedai Batavia menciptakan semacam jembatan waktu—masa lalu dan masa kini bertemu, persis seperti apa yang akan terjadi malam itu: masa lalu yang disembuhkan, masa kini yang diberanikan.
Dua pembawa acara, Gilang Ramadhan (Mas Gram) dan Umay Ambara, bertindak seperti pemandu perjalanan emosional. Purwokerto dipilih sebagai kota kelima dalam tur Urup Festival—sebuah gerakan yang lahir dari kegelisahan pandemi 2020. Bagi Kunto, kota ini bukan sekadar titik di peta. Ia adalah tempat yang tumbuh, bernapas, dan memiliki utang cerita yang ingin dilunasi lewat nada.
Ketika “Mercusuar” Menjadi Percakapan Pertama
Kunto Aji membuka malam dengan “Mercusuar” versi akustik. Hanya gitar, suara, dan keheningan yang diisi oleh pernapasan penonton. Mengenakan kaus putih bergambar kuda karya Gesang, ia seperti anak kecil yang hendak bercerita—polos, tapi sarat makna.
Di sela-sela petikan gitar, Kunto membedah proses kreatif di balik “bERANI”. Ia bercerita tentang writer’s block yang menghantuinya, hingga tawa mengalir saat mengenang proses syuting klip bersama Sal Priadi yang penuh kejutan. Tapi malam itu, Kunto tak hanya berbicara tentang musik. Ia memberikan panggung untuk mereka yang selama ini hanya berbisik.
Lima Cerita, Sejuta Keberanian
Momen paling hening sekaligus paling bergema terjadi ketika penonton diajak ke dalam zona yang lebih intim. Satu per satu, mereka naik—bukan untuk bernyanyi, tapi untuk berbagi jiwa.
· Seorang perempuan berbicara tentang tubuhnya yang pernah dirampas, namun kini ia bangkit menyandang gelar Sarjana Hukum—untuk memperjuangkan hak-hak perempuan lain.
· Yang lain bercerita tentang pertempuran sunyi dengan bipolar, tentang hari-hari yang terasa seperti lautan tanpa tepi.
· Seorang pemilik toko bunga mengaku menemukan cara memimpin timnya setelah mendengar “Urup”—seolah lagu itu adalah buku panduan kepemimpinan yang tak terduga.
· Seorang ibu menahan tangis saat berkisah tentang anaknya dengan Down syndrome—anak yang dinantikan enam tahun, dan kini menjadi alasan ia terus tersenyum.
· Dan seorang anak muda, masih terlalu muda untuk kehilangan, menceritakan bagaimana ia menjadi ayah dan ibu bagi dua adiknya setelah orang tua tiada.
Kunto Aji hanya diam mendengar. Lalu ia berkata, dengan suara yang hampir bergetar:
“Komunikasi dengan diri sendiri itu bukan hal mudah. Tapi di sinilah proses pemulihan jiwa dimulai.”
Ia mengaku, kisah-kisah itu justru menjadi bahan bakar baru untuk terus berkarya. Malam itu, batas antara musisi dan penonton runtuh. Mereka adalah pasien sekaligus penyembuh bagi satu sama lain.
Lagu, Tawa, dan Jeda Sebelum Kembali
Sebanyak sepuluh lagu dibawakan. “bERANI” dikumandangkan dua kali—seolah satu kali tak cukup untuk mengucapkan keberanian. “Jernih” dan “Pilu Membiru” ikut membawa ruangan ke zona sunyi yang nyaman.
Urup Festival yang kini memasuki tahun keempat bukan sekadar tur. Bagi Kunto Aji, ia adalah manifesto:
“Lagu adalah cara kita bicara saat kata-kata kasar tak cukup. Lirik dan nada datang untuk mewakili apa yang tak terucap.”
Penutupan datang lewat “Terlalu Lama Sendiri”. Lagu itu seperti izin untuk berhenti sejenak, bernapas, sebelum akhirnya malam usai dan setiap orang kembali ke dunianya masing-masing—dengan bekal keberanian yang segar, dan mungkin, luka yang sedikit lebih ringan.
Konser usai. Tapi gema cerita-cerita itu masih berdenyut di dinding Leci Café, dan di kepala setiap orang yang hadir.
Alri Johan







