PURWOKERTO– Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar Workshop Analisis Gender bagi puluhan dosen, Rabu (19/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat Gedung Rektorat ini diikuti oleh 35 dosen dari berbagai fakultas.
Workshop ini merupakan langkah strategis untuk mengarusutamakan perspektif gender dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, secara tegas menyampaikan bahwa pemahaman gender tidak boleh berhenti pada tataran sosialisasi semata. Menurutnya, perspektif ini harus terintegrasi secara mendalam dalam aktivitas akademik dan kebijakan kampus.
“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya berharap akan lahir lebih banyak riset dan pengabdian berbasis gender. Dosen juga harus mampu menyisipkan perspektif ini dalam kurikulum dan proses pembelajaran sehari-hari,” ujar Prof. Ridwan dalam sambutannya.
Rektor menilai dosen memiliki peran sentral dalam membentuk cara pandang mahasiswa. Oleh karena itu, penguatan kapasitas analisis gender bagi dosen menjadi fondasi penting untuk menciptakan budaya akademik yang lebih adil dan inklusif.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Saizu, Prof. Ansori, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan amanat dari Perkin Rektor yang dijalankan melalui PSGA. “Ini adalah mandat yang kami wujudkan melalui PSGA sebagai unit yang memiliki kompetensi di isu gender dan anak,” ungkapnya.
Prof. Ansori berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai pelatihan semata, tetapi melahirkan tindak lanjut nyata dalam setiap aspek Tridarma.
Pemahaman Gender Melampaui Isu Perempuan
Hadir sebagai narasumber, Dr. Zusiana Elly Triantini dan Dr. Siti Nurhidayah dari Pusat Pengarusutamaan Gender dan Hak Anak (P2GHA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keduanya memberikan pemahaman bahwa gender bukan hanya soal isu perempuan, melainkan alat analisis untuk melihat perbedaan peran, akses, dan kontrol antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai dimensi sosial.
Para dosen diajak untuk mengaplikasikan perspektif ini dalam penyusunan proposal penelitian, perancangan program pengabdian masyarakat, hingga metode pengajaran di kelas.
Ketua PSGA UIN Saizu, Dr. Ida Novianti, turut menekankan pentingnya peran strategis perguruan tinggi. “Kampus adalah tempat lahirnya pengetahuan sekaligus pembentuk cara pandang generasi muda. Melalui workshop ini, kami ingin dosen mampu membaca realitas sosial dengan kacamata kesetaraan,” jelasnya.
Workshop berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak mengidentifikasi peluang penerapan analisis gender sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.
Dengan terselenggaranya workshop ini, UIN Saizu Purwokerto terus mendorong terciptanya ekosistem kampus yang responsif gender. Harapannya, penguatan perspektif ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi menjelma menjadi praktik sehari-hari yang melahirkan riset inovatif, pengabdian yang berdampak, serta proses belajar mengajar yang ramah terhadap keberagaman.
Kampus Desa Mendunia!
Alri Johan







