INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

“Londo Ireng”: Kritik Mentalitas Kolonial, Bukan Ujaran Rasial

Menyoal kontroversi istilah yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Harlah ke-28 PKB

Prespektif Ibnu Khaldun : Membaca Ulang Tiga Era Eksploitasi Hutan Indonesia
Selasa, 28 Juli 2026

Anang Fahmi ( Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto )

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung istilah “londo ireng” dalam Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, 23 Juli 2026, menyulut perdebatan publik dalam beberapa hari terakhir. Sebagian kalangan menilai istilah tersebut berbau rasial. Namun jika ditelusuri konteksnya, pernyataan itu sesungguhnya bukan soal warna kulit atau ras, melainkan kritik terhadap mentalitas kolonial yang menempatkan kepentingan asing di atas kepentingan bangsa sendiri.

Istilah “londo” dalam khazanah budaya Jawa memang merujuk pada orang Belanda atau, secara lebih luas, pada segala sesuatu yang berbau Barat. Namun sepanjang sejarah pergerakan nasional, kata itu juga dipakai secara metaforis untuk menggambarkan sikap dan cara berpikir yang tunduk pada kepentingan kolonial. Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dikenal luas telah bergaul erat dengan pemikiran Barat, namun ia memilih untuk tidak larut di dalamnya dan tetap menjadikan kepentingan rakyat sebagai pijakan utama perjuangannya.

Pemahaman inilah yang belakangan ditegaskan kembali oleh akademisi sekaligus pengamat politik Rocky Gerung. Dalam forum RedTalks 2026 bertajuk “Suara Muda untuk Jatim Keren: Indonesia Punya Kita, Nasionalisme Tanpa Batas Generasi” di Malang Creative Center, Sabtu (25/7/2026), Rocky menyampaikan bahwa Bung Karno memahami betul pemikiran Barat, tetapi tidak menjadikan dirinya bagian dari cara pandang tersebut.

“Kita ingin menjadi ireng yang tidak menjadi londo,” ujar Rocky, seperti dikutip Warta Ekonomi. Bagi Rocky, ungkapan itu menegaskan pilihan Bung Karno untuk membawa Indonesia menempuh jalan yang berpihak pada rakyat kecil, sebuah semangat yang kemudian dikenal sebagai Marhaenisme.

Pernyataan seorang tokoh yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah, dan bukan bagian dari lingkaran kekuasaan, memberi bobot tersendiri pada pembacaan ini. Jika istilah tersebut benar-benar dimaksudkan sebagai serangan rasial, sulit membayangkan seorang pengamat independen seperti Rocky Gerung ikut menegaskan maknanya justru dari sudut pandang sejarah pemikiran kebangsaan, bukan dari sudut pandang pembelaan politik praktis.

Dengan demikian, “londo ireng” lebih tepat dipahami sebagai peringatan terhadap siapa pun, dari kalangan mana pun, yang secara mentalitas lebih mengutamakan kepentingan pihak asing ketimbang kepentingan bangsanya sendiri. Ini bukan soal identitas etnis atau warna kulit, melainkan soal loyalitas dan keberpihakan. Seorang pejabat, pengusaha, atau bahkan warga biasa bisa saja “berkulit ireng” tetapi berpikir dan bertindak seperti “londo” apabila ia menomorduakan kepentingan nasional.

Justru dari titik inilah pernyataan tersebut semestinya dibaca sebagai ajakan menyatukan, bukan memecah belah. Alih-alih menyasar kelompok tertentu berdasarkan suku, agama, ras, atau golongan, pernyataan ini mengajak seluruh elemen bangsa — apa pun latar belakangnya — untuk bersama-sama waspada terhadap pola pikir yang menempatkan kepentingan luar di atas kepentingan bersama. Semangat ini sejalan dengan warisan pemikiran kebangsaan yang telah lama hidup dalam sejarah Indonesia, jauh sebelum istilah tersebut ramai diperbincangkan pekan ini.

Kekhawatiran publik yang menganggap istilah ini berpotensi menyinggung sensitivitas rasial tentu bukan tanpa alasan. Tanpa penjelasan konteks yang memadai, frasa yang menyandingkan kata “londo” dengan warna kulit memang berisiko disalahpahami, apalagi di ruang media sosial yang cenderung memotong pernyataan menjadi kutipan pendek tanpa latar belakang. Di sinilah pentingnya penjelasan yang utuh: bahwa istilah ini bukan produk baru, melainkan gema dari cara pandang kebangsaan yang sudah mengakar sejak era pergerakan kemerdekaan.

Relevansi gagasan ini juga disorot Rocky Gerung dalam konteks generasi muda. Ia menilai anak muda saat ini sesungguhnya masih peduli terhadap kondisi bangsa, hanya saja tengah mencari arah baru di tengah kelelahan menghadapi dinamika politik yang berubah setiap periode kekuasaan. Menurutnya, partai politik bisa saja berganti wajah setiap lima tahun, tetapi semangat kebangsaan akan tetap hidup selama masyarakat menghendakinya — dan Marhaenisme dinilainya sebagai satu-satunya gagasan yang tersedia untuk menjawab kegelisahan tersebut.

Pandangan ini memberi konteks penting bagi generasi muda yang mungkin belum akrab dengan istilah-istilah lama seperti “londo” dan “marhaenisme”. Alih-alih menganggap pernyataan Presiden sebagai bentuk provokasi, ada baiknya publik, khususnya generasi muda, melihatnya sebagai pengingat historis: bahwa kemandirian bangsa dari pengaruh asing bukan wacana baru, melainkan benang merah yang menyambungkan pemikiran para pendiri bangsa dengan tantangan zaman sekarang.

Ke depan, yang dibutuhkan bukan saling tuding antara pihak yang membela dan yang mengkritik pernyataan ini, melainkan ruang dialog yang lebih luas untuk menjernihkan duduk perkara. Keterlibatan akademisi, budayawan, dan tokoh lintas latar belakang politik — sebagaimana ditunjukkan forum RedTalks 2026 di Malang — bisa menjadi contoh bagaimana sebuah istilah yang sensitif dapat dibedah secara jernih tanpa terjebak pada prasangka satu arah.

Perlu dicatat pula, Rocky Gerung sendiri dikenal sebagai figur yang kerap bersikap kritis dan independen terhadap pemerintah; pernyataannya di Malang menekankan semangat kemandirian dan Marhaenisme, bukan pembelaan langsung atas kebijakan atau pernyataan Presiden. Publik yang menilai istilah ini tetap berisiko menyinggung sensitivitas rasial juga memiliki dasar yang sah untuk didengar, dan evaluasi terhadap cara komunikasi publik ke depan tetap relevan agar pesan semacam ini tidak menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.

 

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Panitia Speedfest Minta Maaf atas Ambruknya Tribun VIP GOR Satria, Tegaskan Tanggung Biaya Korban

Selanjutnya

NEGARA PROGRESIF ADALAH NEGARA PANCASILA (Bagian 5)

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

NEGARA PROGRESIF ADALAH NEGARA PANCASILA (Bagian 5)

NEGARA PROGRESIF ADALAH NEGARA PANCASILA (Bagian 5)

Selasa, 28 Juli 2026

Prespektif Ibnu Khaldun : Membaca Ulang Tiga Era Eksploitasi Hutan Indonesia

“Londo Ireng”: Kritik Mentalitas Kolonial, Bukan Ujaran Rasial

Selasa, 28 Juli 2026

Panitia Speedfest Minta Maaf atas Ambruknya Tribun VIP GOR Satria, Tegaskan Tanggung Biaya Korban

Panitia Speedfest Minta Maaf atas Ambruknya Tribun VIP GOR Satria, Tegaskan Tanggung Biaya Korban

Selasa, 28 Juli 2026

Selanjutnya
NEGARA PROGRESIF ADALAH NEGARA PANCASILA (Bagian 5)

NEGARA PROGRESIF ADALAH NEGARA PANCASILA (Bagian 5)

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com