BANYUMAS – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto menyatakan kekecewaannya kepada Bank Indonesia (BI) atas pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai masih terus berlanjut. Dalam audiensi dengan perwakilan BI yang digelar Jum’at (19/6/2026), HMI mendesak langkah konkret dan terukur untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
Rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan paling tajam di kawasan Asia sepanjang 2026. Tekanan global, arus keluar modal, dan ketidakpastian ekonomi disebut sebagai pemicu utama yang mendorong rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.
BI Beberkan 7 Langkah Strategis
Dalam pertemuan tersebut, Bank Indonesia Purwokerto memaparkan sedikitnya tujuh langkah strategis yang tengah dijalankan untuk menstabilkan nilai tukar:
1. Intervensi pasar valuta asing melalui pasar spot, DNDF, dan NDF;
2. Penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing;
3. Pembelian Surat Berharga Negara (SBN/SBSN) di pasar sekunder;
4. Menjaga kecukupan likuiditas perbankan;
5. Pengetatan pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying;
6. Perluasan implementasi Local Currency Settlement (LCS);
7. Penguatan pengawasan transaksi valuta asing bersama otoritas terkait.
BI menyatakan langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari strategi meredam volatilitas dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
HMI: Kebijakan Belum Berdampak Signifikan
Meskipun demikian, HMI Cabang Purwokerto menilai berbagai kebijakan tersebut belum menunjukkan hasil yang nyata bagi penguatan rupiah. HMI menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan instrumen moneter, tetapi juga membutuhkan koordinasi kuat antara BI dan pemerintah dalam mengelola arus modal, menjaga fundamental ekonomi, serta meningkatkan daya tarik investasi domestik.
“Masyarakat membutuhkan langkah yang lebih konkret dan mampu mengembalikan kepercayaan,” ujar Yuniar Nur Faizam dari HMI Cabang Purwokerto dalam keterangan tertulisnya.
BI Optimistis Rupiah Kembali ke Level Fundamental
Menanggapi aspirasi mahasiswa, Bank Indonesia menyampaikan komitmennya untuk terus memperkuat kebijakan stabilisasi. BI optimistis rupiah dapat kembali bergerak menuju level fundamentalnya pada kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS, seiring penguatan bauran kebijakan moneter dan stabilitas sektor keuangan.
Komitmen ini dinilai sejalan dengan berbagai langkah yang telah ditempuh BI untuk mendorong masuknya aliran modal dan menjaga stabilitas pasar keuangan.
Ancaman Aksi jika Tak Ada Perubahan
Di akhir audiensi, HMI Cabang Purwokerto menegaskan akan terus mengawal perkembangan nilai tukar rupiah. Organisasi ini menyatakan siap mengambil langkah lanjutan berupa gerakan moral dan aksi yang dipusatkan di kantor perwakilan BI Purwokerto, apabila hingga akhir bulan tidak terlihat perubahan signifikan terhadap penguatan rupiah.
Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto, Ahmad Fikri Adrianto, menekankan bahwa gerakan tersebut bukan sekadar kritik kepada BI, melainkan wujud kepedulian mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, biaya produksi, hingga stabilitas perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Penulis : Angga Saputra






