Riswo Mulyadi
Menelusuri Jejak Makna dalam Tulisan Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja: ‘Menyembelih Ismail yang Menyamar: Renungan Idul Adha tentang Ego, Keikhlasan, dan Ujian dalam Kesunyian”
Tulisan Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja ini menarik karena tidak berhenti pada kisah kurban sebagai peristiwa agama, tetapi membawanya masuk ke wilayah yang lebih dekat dan lebih sulit: hati manusia.
Ia memulai dari sebuah pengamatan yang sederhana tetapi kuat—bahwa peristiwa Ibrahim dan Ismail berlangsung dalam kesunyian. Tidak ada penonton. Tidak ada pengakuan. Tidak ada panggung. Yang hadir hanya seorang ayah, seorang anak, dan Tuhan.
Dari situ tulisan ini bergerak ke gagasan utamanya: yang sesungguhnya disembelih bukan Ismail, melainkan rasa memiliki.
Di titik ini tulisan menemukan kekuatannya.
Penulis berhasil menggeser makna kurban dari tindakan lahir menjadi peristiwa batin. Hewan kurban dipahami sebagai simbol, sementara pengorbanan yang sebenarnya terjadi di dalam diri: memotong ego, kesombongan, kebutuhan dipuji, dan keterikatan yang berlebihan pada apa yang kita anggap milik kita.
Gagasan ini terasa relevan dengan kehidupan sekarang.
Sebab manusia modern memang tidak selalu terikat oleh hal-hal yang tampak buruk. Sering kali justru terikat oleh hal-hal yang terlihat baik.
Kita ingin dianggap sederhana.
Kita ingin dikenal tulus.
Kita ingin dipuji karena rendah hati.
Bahkan kadang ingin diakui sebagai orang yang tidak lagi mengejar pengakuan.
Di sini metafora “Ismail yang menyamar” menjadi bagian paling kuat dari tulisan.
Karena penulis menunjukkan bahwa ego tidak selalu hadir sebagai keserakahan atau kesombongan yang kasar. Ego bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus: kesalehan, citra diri, bahkan perasaan sudah ikhlas.
Kalimat tentang kemungkinan bahwa merasa sudah tidak punya Ismail justru bisa menjadi Ismail yang baru adalah bagian yang paling tajam dalam seluruh tulisan.
Ia seperti kaca yang tidak menunjuk orang lain, tetapi memantulkan pembacanya sendiri.
Namun di balik kekuatannya, tulisan ini juga memiliki beberapa keterbatasan.
Penulis tampak sangat ingin memastikan pesannya sampai. Akibatnya beberapa gagasan penting diulang cukup sering dengan bentuk yang berbeda. Pengulangan memang bisa memperkuat nuansa renungan, tetapi jika terlalu panjang, pembaca mulai kehilangan daya kejut.
Ada bagian-bagian yang sebenarnya sudah sangat kuat tetapi masih terus diterangkan.
Padahal kadang satu kalimat yang selesai di tempat yang tepat lebih mengendap daripada sepuluh paragraf penjelasan.
Selain itu, tulisan ini sesekali terlihat terlalu cepat menyimpulkan bahwa dunia modern identik dengan pembesaran ego.
Padahal persoalannya mungkin bukan pada media sosial, jabatan, pendidikan, atau popularitas itu sendiri. Yang menentukan tetap hati manusia.
Jabatan bisa melahirkan kesombongan, tetapi juga bisa menjadi jalan pengabdian.
Media sosial bisa menjadi panggung pencitraan, tetapi juga bisa menjadi jalan berbagi manfaat.
Karena yang membuat sesuatu menjadi berhala bukan bendanya—melainkan kadar keterikatan kita kepadanya.
Meski begitu, secara keseluruhan tulisan ini punya satu keberanian yang tidak banyak dimiliki tulisan-tulisan reflektif keagamaan: ia tidak sibuk mengoreksi perilaku orang lain.
Ia mengajak pembaca memeriksa dirinya sendiri.
Dan itu jauh lebih sulit.
Pada akhirnya, tulisan Trisnatun tidak sedang mengajarkan cara menyembelih hewan.
Ia sedang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih sulit disembelih: rasa “aku”.
Sebab mungkin yang paling berat dilepaskan bukan harta, bukan jabatan, bukan pujian.
Melainkan keyakinan diam-diam bahwa semua itu adalah bagian dari diri kita.
Dan Idul Adha, dalam pembacaan ini, menjadi undangan untuk belajar melepaskan—tanpa gaduh, tanpa panggung, tanpa perlu diketahui siapa pun selain Tuhan.
Karang Anjog, 27 Mei 2026
Riswo Mulyadi adalah seorang guru madrasah di pelosok Banyumas yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.








