INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

PINJAM DULU SERATUS

Catatan dari pasar yang serba Mahal 

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 
Rabu, 6 Mei 2026

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Di sebuah pagi yang biasa, seorang bapak berdiri lebih lama di depan rak beras. Tangannya memegang kemasan lima kilo. Ditaruh. Diambil lagi. Ditaruh lagi.

Ia tidak sedang memilih kualitas. Ia sedang menghitung nasib.

Di rumah, anak-anaknya sedang menghitung hari. Tahun ajaran baru hampir datang. Anak yang masih sekolah : Seragam harus ganti. Buku harus beli. Anak yang sudah kuliah : SPP mahasiswa  sudah menunggu, kebutuhan uang seperti tamu tak diundang yang datang tepat waktu—tidak pernah lupa, tidak pernah salah alamat.

Sementara itu, di layar ponselnya, berita berjalan pelan tapi menusuk:korupsi lagi, angka lagi, miliaran lagi.

Negeri ini memang aneh.Harga-harga naik tanpa rasa bersalah.Laporan pejabat ekonomi membaik, pekerjaan ada, rakyat bahagia.

Rasa malu justru semakin hilang. Fakta kehidupan jauh beda dengan bagusnya data yang dilaporkan.

Duit Menjadi Penentu Martabat

Duit hari ini bukan lagi sekadar alat tukar. Ia telah naik pangkat menjadi penentu harga diri.

Anak sekolah dan kuliah bukan lagi ditanya, “Apa yang kamu pelajari?”

Tapi, “Sudah bayar belum?”

Orang tua bukan lagi gelisah tentang masa depan anaknya,

tapi tentang tagihan yang datang beriringan dengan masa depan itu. Tangis itu tak ada yang mendengar , hilang di hingar bingar berita yang tanpa nalar.

Sekolah—yang dulu disebut tempat memanusiakan manusia—pelan-pelan berubah menjadi ruang transaksi. Ilmu dihargai seperti  paket belanja online. Masa depan dihitung seperti cicilan kredit bank.

Dan kita, dengan segala kesadaran yang tersisa, tetap menyebutnya “investasi”.

Dendam yang Disuburkan Sistem

Banyak dari kita tumbuh dari kekurangan. Pernah tidak punya uang jajan. Pernah menunda beli buku. Pernah melihat orang tua menahan kebutuhan sendiri demi anaknya.Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya berubah bentuk.

Kini, kita bekerja lebih keras. Lebih lama. Lebih ambisius.

Katanya untuk masa depan.

Padahal diam-diam, kita sedang membalas masa lalu.Masalahnya, sistem justru menyuburkan dendam itu.

Harga mahal membuat orang takut miskin lagi.Ketidakpastian membuat orang ingin menumpuk lebih banyak lagi.

Akhirnya kita hidup dalam satu kalimat panjang:

“Kalau tidak punya duit, kamu tidak punya pilihan.”

Kaya yang Gelisah, Miskin yang Lelah

Ada yang berhasil. Gajinya besar. Rumahnya bagus. Liburannya rutin.Tapi setiap malam, ia tetap membuka ponsel dan bertanya dalam diam:

“Kenapa rasanya tetap kosong?”

Ada yang belum berhasil.

Bangun pagi dengan tagihan.

Tidur malam dengan kekhawatiran. Dua-duanya sama-sama tidak tenang.

Yang satu dikejar kebutuhan.

Yang satu dikejar keinginan.

Dan di tengah itu semua, duit berdiri sebagai raja yang tidak pernah kenyang disembah.

Pintar Menghitung, Tapi Lupa Mengukur

Kita hidup di negeri yang sangat pandai menghitung:berapa inflasi,berapa anggaran, berapa triliun yang “hilang”.

Tapi kita gagal mengukur sesuatu yang lebih penting:

berapa banyak orang tua yang cemas menjelang tahun ajaran baru,berapa banyak anak yang terancam putus sekolah diam-diam,berapa banyak hati yang retak karena hidup hanya soal biaya.

Korupsi bukan sekadar soal uang yang dicuri.Ia adalah biaya hidup yang dibebankan diam-diam kepada rakyat.

Setiap rupiah yang digelapkan, menjelma menjadi buku yang tak terbeli,seragam yang tertunda,dan mimpi yang dikurangi.

Pinjam Dulu Seratus

Di ujung semua ini, kita sampai pada satu kalimat sederhana, yang dulu terasa bercanda, sekarang terasa nyata:

“Pinjam dulu seratus.”

Ia bukan sekadar kalimat.

Ia adalah simbol.Simbol bahwa hidup hari ini seringkali berjalan dengan tambal sulam.

Gaji datang, langsung habis.

Kebutuhan datang, tidak pernah menunggu.Dan kita, dengan segala harga diri yang tersisa, masih mencoba tersenyum sambil berkata, “Tidak apa-apa, yang penting jalan dulu.”

Belajar Tidak Tunduk

Tulisan ini tidak mengajak kita berhenti mencari duit.Itu mustahil. Bahkan utopis.

Tapi ada satu hal yang perlu kita jaga di tengah kondisi ini:jangan sampai kita kehilangan kendali atas diri sendiri.Karena ketika semuanya mahal—harga barang, harga sekolah, bahkan harga keadilan—yang paling berbahaya adalah ketika nilai diri kita ikut menjadi murah.

Maka mungkin, di tengah kerasnya ekonomi hari ini, kemerdekaan paling sederhana adalah ini:tetap jujur meski sulit,

tetap waras meski tertekan,

tetap manusia meski hidup terasa seperti angka.

Penutup

Negeri ini tidak kekurangan duit.
Yang kurang adalah rasa cukup, rasa adil, dan rasa malu.
Dan kita, rakyat biasa,

masih akan terus berdiri di depan rak beras,menimbang antara kebutuhan dan kemampuan.Sambil sesekali berbisik dalam hati:

“Hidup ini sebenarnya sedang kita jalani,
atau sedang kita bayar?”

Ajibarang, 6 Mei 2026

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Plt Bupati Cilacap Diperiksa KPK sebagai Saksi Kasus Pemerasan Bupati Nonaktif

Selanjutnya

Setelah 30 Truk, Pemkab Banyumas Kembali Salurkan Bantuan Pickup Mahindra untuk Koperasi Desa

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Setelah 30 Truk, Pemkab Banyumas Kembali Salurkan Bantuan Pickup Mahindra untuk Koperasi Desa

Setelah 30 Truk, Pemkab Banyumas Kembali Salurkan Bantuan Pickup Mahindra untuk Koperasi Desa

Rabu, 6 Mei 2026

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 

PINJAM DULU SERATUS

Rabu, 6 Mei 2026

Profil Ammy Amalia: Dari Anggota DPR, Notaris, Kini Jadi Plt Bupati Cilacap

Plt Bupati Cilacap Diperiksa KPK sebagai Saksi Kasus Pemerasan Bupati Nonaktif

Selasa, 5 Mei 2026

Selanjutnya
Setelah 30 Truk, Pemkab Banyumas Kembali Salurkan Bantuan Pickup Mahindra untuk Koperasi Desa

Setelah 30 Truk, Pemkab Banyumas Kembali Salurkan Bantuan Pickup Mahindra untuk Koperasi Desa

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com