INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Kesadaran Injury Time Refleksi atas QS. Al-Munafiqun Ayat 9-11

Kesadaran Injury Time Refleksi atas QS. Al-Munafiqun Ayat 9-11
Jumat, 7 Agustus 2026

Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag.
Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Kehidupan manusia sesungguhnya berjalan di dalam garis waktu yang telah ditentukan Allah SWT. Tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya akan berakhir. Setiap hari yang berlalu adalah pengurangan jatah usia, sementara kematian terus bergerak mendekati setiap manusia tanpa dapat ditunda ataupun dipercepat.

Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia membangun kesadaran hidup sejak dini, bukan ketika kesempatan telah habis. Kesadaran yang datang pada saat-saat terakhir kehidupan ibarat kesadaran pada injury time dalam sebuah pertandingan; waktu hampir selesai, peluang telah banyak terlewat, dan tidak semua yang diinginkan masih dapat dilakukan.

Allah SWT mengingatkan dalam Surat Al-Munafiqun ayat 9-11:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Padahal Allah sekali-kali tidak akan menunda kematian seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa terdapat dua hal yang paling sering melalaikan manusia dari mengingat Allah, yaitu kecintaan yang berlebihan terhadap harta dan keluarga. Keduanya pada hakikatnya merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri, tetapi ketika dijadikan orientasi utama kehidupan hingga menggeser posisi Allah sebagai tujuan tertinggi, maka nikmat tersebut berubah menjadi ujian.

Hidup yang hanya berorientasi pada kenikmatan dunia akan melahirkan pola pikir materialistis dan hedonistis, sehingga ukuran keberhasilan hanya dilihat dari banyaknya harta, jabatan, dan kenyamanan hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang seperti inilah yang termasuk golongan yang merugi.

Sebaliknya, apabila seseorang ingin memperoleh keuntungan hakiki, maka Allah harus menjadi prioritas utama dalam seluruh aktivitas kehidupannya. Harta, keluarga, jabatan, dan seluruh kenikmatan dunia hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan akhir yang menggantikan-Nya.

Keuntungan sejati bukan sekadar bertambahnya kekayaan, melainkan bertambahnya kedekatan kepada Allah dan semakin banyaknya amal saleh yang dipersembahkan selama hidup di dunia.

Kerugian terbesar sesungguhnya bukan kehilangan harta atau jabatan, melainkan kehilangan orientasi hidup. Ketika manusia mengalami disorientasi, ia akan menghabiskan energi, waktu, dan seluruh potensinya untuk mengejar sesuatu yang bersifat sementara, sementara kehidupan akhirat yang kekal justru diabaikan. Padahal seluruh perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu titik yang sama, yaitu kembali menghadap Allah SWT.

Kesadaran ini semakin kuat apabila manusia memahami hakikat kepemilikan. Semua yang ada di dunia pada hakikatnya adalah milik Allah SWT. Bukan hanya rumah, kendaraan, jabatan, atau kekayaan yang kita miliki, tetapi diri kita sendiri juga merupakan milik Allah.

Kepemilikan manusia hanyalah bersifat sementara dan bersifat amanah. Karena itu, klaim kepemilikan manusia sejatinya hanyalah klaim administratif di dunia, sedangkan pemilik yang sebenarnya (the real owner) adalah Allah SWT.

Oleh sebab itu, ketika Allah memerintahkan agar sebagian rezeki dibelanjakan di jalan-Nya, sesungguhnya Allah sedang memerintahkan manusia menggunakan titipan-Nya sesuai dengan kehendak Sang Pemilik. Inilah makna terdalam dari syukur, yaitu memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan tujuan yang Allah tetapkan.

Bersedekah, berinfak, membantu sesama, membangun pendidikan, memakmurkan masjid, dan berbagai bentuk amal kebajikan merupakan manifestasi rasa syukur seorang hamba atas amanah yang diberikan kepadanya.

Menariknya, Allah juga memberikan batas waktu yang sangat jelas, yaitu “sebelum datang kematian.” Inilah timeline kehidupan yang tidak dapat dinegosiasikan. Selama ajal belum tiba, pintu amal masih terbuka. Namun ketika kematian datang, seluruh kesempatan itu tertutup untuk selamanya.

Pada saat itulah penyesalan muncul. Orang yang dahulu enggan bersedekah, menunda berbuat baik, atau terlalu sibuk mengejar dunia akan memohon agar diberi sedikit tambahan waktu untuk memperbaiki dirinya. Akan tetapi, permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan karena hukum Allah berlaku pasti: tidak ada satu jiwa pun yang dapat menunda ajalnya ketika waktunya telah tiba.

Kesadaran inilah yang semestinya membentuk cara pandang seorang mukmin terhadap waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Ia bergerak progresif menuju masa depan, sementara setiap detik yang berlalu berubah menjadi sejarah yang tidak mungkin diulang kembali.

Kesempatan yang hilang hari ini tidak akan pernah datang dengan bentuk yang sama pada hari esok. Oleh sebab itu, setiap detik kehidupan harus diisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan kemanfaatan.

Membangun kesadaran injury time bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap kematian, melainkan hidup dengan penuh kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan yang sangat berharga. Selagi masih sehat, gunakan kesehatan untuk beribadah.

Selagi masih kuat, gunakan kekuatan untuk berkarya dan membantu sesama. Selagi masih memiliki waktu, gunakan waktu untuk menebarkan manfaat. Jangan menunggu tua untuk memperbanyak amal, jangan menunggu kaya untuk bersedekah, dan jangan menunggu lapang untuk berbuat baik.

Salah satu penyakit yang paling berbahaya dalam kehidupan adalah kebiasaan menunda kebaikan. Menunda ibadah, menunda sedekah, menunda meminta maaf, menunda membantu orang lain, bahkan menunda memperbaiki diri.

Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah hari esok masih menjadi bagian dari jatah usianya. Karena itu, setiap kesempatan berbuat baik hendaknya segera diwujudkan sebelum kesempatan tersebut hilang.

Pada akhirnya, penyesalan terbesar manusia bukanlah karena pernah gagal dalam hidup, tetapi karena terlambat menyadari tujuan hidupnya. Kesadaran yang datang ketika waktu telah habis hanyalah penyesalan yang tidak lagi mampu mengubah keadaan.

Oleh sebab itu, marilah membangun kesadaran sejak hari ini. Jadikan Allah sebagai orientasi utama kehidupan, gunakan seluruh nikmat sebagai amanah, manfaatkan waktu sebaik-baiknya, dan jangan pernah menunda melakukan kebaikan.

Sebab, orang yang bijaksana adalah mereka yang hidup seolah-olah setiap hari adalah kesempatan terakhir untuk memperbanyak amal, sehingga ketika panggilan Allah benar-benar datang, ia telah menyiapkan bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI, Demokrat Banyumas dan Warga Bersihkan 50 Meter Kubik Lumpur Irigasi

Selanjutnya

Paradoks: Upacara Kemerdekaan Agustus 2024 dan 2026

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Prespektif Ibnu Khaldun : Membaca Ulang Tiga Era Eksploitasi Hutan Indonesia

Paradoks: Upacara Kemerdekaan Agustus 2024 dan 2026

Jumat, 7 Agustus 2026

Kesadaran Injury Time Refleksi atas QS. Al-Munafiqun Ayat 9-11

Kesadaran Injury Time Refleksi atas QS. Al-Munafiqun Ayat 9-11

Jumat, 7 Agustus 2026

Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI, Demokrat Banyumas dan Warga Bersihkan 50 Meter Kubik Lumpur Irigasi

Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI, Demokrat Banyumas dan Warga Bersihkan 50 Meter Kubik Lumpur Irigasi

Jumat, 7 Agustus 2026

Selanjutnya
Prespektif Ibnu Khaldun : Membaca Ulang Tiga Era Eksploitasi Hutan Indonesia

Paradoks: Upacara Kemerdekaan Agustus 2024 dan 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com