Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Di sebuah pagi yang biasa, seorang bapak berdiri lebih lama di depan rak beras. Tangannya memegang kemasan lima kilo. Ditaruh. Diambil lagi. Ditaruh lagi.
Ia tidak sedang memilih kualitas. Ia sedang menghitung nasib.
Di rumah, anak-anaknya sedang menghitung hari. Tahun ajaran baru hampir datang. Anak yang masih sekolah : Seragam harus ganti. Buku harus beli. Anak yang sudah kuliah : SPP mahasiswa sudah menunggu, kebutuhan uang seperti tamu tak diundang yang datang tepat waktu—tidak pernah lupa, tidak pernah salah alamat.
Sementara itu, di layar ponselnya, berita berjalan pelan tapi menusuk:korupsi lagi, angka lagi, miliaran lagi.
Negeri ini memang aneh.Harga-harga naik tanpa rasa bersalah.Laporan pejabat ekonomi membaik, pekerjaan ada, rakyat bahagia.
Rasa malu justru semakin hilang. Fakta kehidupan jauh beda dengan bagusnya data yang dilaporkan.
Duit Menjadi Penentu Martabat
Duit hari ini bukan lagi sekadar alat tukar. Ia telah naik pangkat menjadi penentu harga diri.
Anak sekolah dan kuliah bukan lagi ditanya, “Apa yang kamu pelajari?”
Tapi, “Sudah bayar belum?”
Orang tua bukan lagi gelisah tentang masa depan anaknya,
tapi tentang tagihan yang datang beriringan dengan masa depan itu. Tangis itu tak ada yang mendengar , hilang di hingar bingar berita yang tanpa nalar.
Sekolah—yang dulu disebut tempat memanusiakan manusia—pelan-pelan berubah menjadi ruang transaksi. Ilmu dihargai seperti paket belanja online. Masa depan dihitung seperti cicilan kredit bank.
Dan kita, dengan segala kesadaran yang tersisa, tetap menyebutnya “investasi”.
Dendam yang Disuburkan Sistem
Banyak dari kita tumbuh dari kekurangan. Pernah tidak punya uang jajan. Pernah menunda beli buku. Pernah melihat orang tua menahan kebutuhan sendiri demi anaknya.Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya berubah bentuk.
Kini, kita bekerja lebih keras. Lebih lama. Lebih ambisius.
Katanya untuk masa depan.
Padahal diam-diam, kita sedang membalas masa lalu.Masalahnya, sistem justru menyuburkan dendam itu.
Harga mahal membuat orang takut miskin lagi.Ketidakpastian membuat orang ingin menumpuk lebih banyak lagi.
Akhirnya kita hidup dalam satu kalimat panjang:
“Kalau tidak punya duit, kamu tidak punya pilihan.”
Kaya yang Gelisah, Miskin yang Lelah
Ada yang berhasil. Gajinya besar. Rumahnya bagus. Liburannya rutin.Tapi setiap malam, ia tetap membuka ponsel dan bertanya dalam diam:
“Kenapa rasanya tetap kosong?”
Ada yang belum berhasil.
Bangun pagi dengan tagihan.
Tidur malam dengan kekhawatiran. Dua-duanya sama-sama tidak tenang.
Yang satu dikejar kebutuhan.
Yang satu dikejar keinginan.
Dan di tengah itu semua, duit berdiri sebagai raja yang tidak pernah kenyang disembah.
Pintar Menghitung, Tapi Lupa Mengukur
Kita hidup di negeri yang sangat pandai menghitung:berapa inflasi,berapa anggaran, berapa triliun yang “hilang”.
Tapi kita gagal mengukur sesuatu yang lebih penting:
berapa banyak orang tua yang cemas menjelang tahun ajaran baru,berapa banyak anak yang terancam putus sekolah diam-diam,berapa banyak hati yang retak karena hidup hanya soal biaya.
Korupsi bukan sekadar soal uang yang dicuri.Ia adalah biaya hidup yang dibebankan diam-diam kepada rakyat.
Setiap rupiah yang digelapkan, menjelma menjadi buku yang tak terbeli,seragam yang tertunda,dan mimpi yang dikurangi.
Pinjam Dulu Seratus
Di ujung semua ini, kita sampai pada satu kalimat sederhana, yang dulu terasa bercanda, sekarang terasa nyata:
“Pinjam dulu seratus.”
Ia bukan sekadar kalimat.
Ia adalah simbol.Simbol bahwa hidup hari ini seringkali berjalan dengan tambal sulam.
Gaji datang, langsung habis.
Kebutuhan datang, tidak pernah menunggu.Dan kita, dengan segala harga diri yang tersisa, masih mencoba tersenyum sambil berkata, “Tidak apa-apa, yang penting jalan dulu.”
Belajar Tidak Tunduk
Tulisan ini tidak mengajak kita berhenti mencari duit.Itu mustahil. Bahkan utopis.
Tapi ada satu hal yang perlu kita jaga di tengah kondisi ini:jangan sampai kita kehilangan kendali atas diri sendiri.Karena ketika semuanya mahal—harga barang, harga sekolah, bahkan harga keadilan—yang paling berbahaya adalah ketika nilai diri kita ikut menjadi murah.
Maka mungkin, di tengah kerasnya ekonomi hari ini, kemerdekaan paling sederhana adalah ini:tetap jujur meski sulit,
tetap waras meski tertekan,
tetap manusia meski hidup terasa seperti angka.
Penutup
Negeri ini tidak kekurangan duit.
Yang kurang adalah rasa cukup, rasa adil, dan rasa malu.
Dan kita, rakyat biasa,
masih akan terus berdiri di depan rak beras,menimbang antara kebutuhan dan kemampuan.Sambil sesekali berbisik dalam hati:
“Hidup ini sebenarnya sedang kita jalani,
atau sedang kita bayar?”
Ajibarang, 6 Mei 2026







