PURWOKERTO – Di tengah tekanan kenaikan harga pangan, warga Purwokerto menemukan cara baru untuk berhemat: berburu voucher diskon makanan lewat TikTok. Platform yang awalnya dikenal sebagai media hiburan kini bertransformasi menjadi pasar digital promo kuliner.
Melalui fitur pencarian, pengguna bisa menemukan berbagai voucher dari puluhan merek makanan dan minuman. Promo yang ditawarkan beragam, mulai dari potongan harga hingga 50 persen, paket bundling, hingga limited offer yang sedang viral.
Berburu Promo Sebelum Makan
Fenomena ini mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat. Jika dulu orang membeli makanan berdasarkan kebutuhan, kini banyak yang justru mencari promo dulu sebelum menentukan pilihan.
Tak sedikit pengguna yang sengaja mengetik kata kunci “voucher makanan” atau nama merek tertentu demi mendapatkan harga terbaik.
Sebagai contoh, promo dari merek seperti KFC kerap menawarkan potongan hingga 50 persen. Satu paket makanan yang biasa dijual sekitar Rp95.000 bisa turun menjadi Rp50.000, bahkan hingga Rp30.000. Selisih harga ini membuat banyak orang tertarik membeli meski awalnya tidak berencana.
Testimoni Warga: Makan Enak Tanpa Perlu Merogoh Kocek Dalam
Salah seorang warga, Mia (21), mengaku pernah memanfaatkan promo tersebut.
“Saya pernah membeli voucher KFC saat ada promo diskon 35 persen. Waktu itu saya dapat paket ayam, nasi, dan yakiniku dengan harga sekitar Rp27.000. Voucher itu saya tukarkan di salah satu outlet KFC di Sumampir,” ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Agatha (20). Ia menilai keberadaan voucher di TikTok cukup membantu menghemat pengeluaran.
“Menurut saya lumayan membantu, apalagi kalau lagi banyak promo. Bisa makan enak lebih murah tanpa keluar banyak uang,” katanya.
Senada dengan itu, Wiwik (32) mengaku kini cukup sering memanfaatkan promo sebelum membeli makanan.
“Sekarang jadi kebiasaan cek TikTok dulu sebelum beli, apalagi kalau makanan yang lumayan mahal. Kalau ada diskon, pasti lebih pilih yang itu karena lebih hemat,” ujarnya.
Efek Samping: Perilaku Impulsif dan Tekanan Psikologis
Namun, di balik kemudahan ini, muncul kecenderungan perilaku impulsif. Banyak pengguna yang awalnya hanya berniat melihat-lihat, justru berakhir membeli karena tergoda diskon terbatas.
Selain itu, masa berlaku voucher yang singkat turut mendorong keputusan cepat. Akibatnya, aktivitas berburu diskon tak hanya soal hemat, tetapi juga dipengaruhi tekanan psikologis agar tidak melewatkan kesempatan.
Peluang Besar bagi Pelaku Usaha
Bagi pelaku usaha, tren ini menjadi peluang besar. Dengan memanfaatkan TikTok sebagai media promosi, mereka dapat menjangkau lebih banyak pembeli dalam waktu singkat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok tidak lagi sekadar hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi masyarakat. Di Purwokerto, berburu diskon makanan lewat TikTok menjadi strategi baru menyiasati harga yang terus meningkat.
Imbauan: Bijak dalam Berburu Diskon
Meski demikian, masyarakat diimbau tetap bijak. Tanpa perencanaan, kebiasaan berburu diskon justru dapat meningkatkan pengeluaran, bukan menghemat. (Salwa Reghina Aulia)








