Nadia Hasna Hapsari Putri
(Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas sebelas Maret solo)
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, keberadaan komunitas adat Bonokeling di Banyumas menjadi pengingat bahwa tradisi dan kepercayaan lokal tidak serta-merta hilang ditelan zaman.
Di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, jejak ajaran Bonokeling masih hidup dan dijalankan oleh masyarakat secara turun-temurun. Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sebagai sisa masa lalu. Namun, bagi para pengikutnya, Bonokeling adalah identitas, pedoman hidup, sekaligus warisan leluhur yang terus dijaga.
Asal Usul dan Sejarah Bonokeling
Secara historis, Kyai Bonokeling merujuk pada sosok tokoh leluhur yang diyakini sebagai penyebar ajaran spiritual di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Kyai Bonokeling, begitu dikenal, dan dipercaya hidup pada masa awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Ajarannya sering dipahami sebagai bentuk akulturasi antara nilai-nilai Islam dengan tradisi Jawa yang lebih tua. Hal ini membuat praktik kepercayaan Bonokeling memiliki ciri khas tersendiri yang tidak sepenuhnya sama dengan ajaran agama formal, tetapi juga tidak sepenuhnya terlepas darinya.
Kyai Bonokeling dikenal memiliki ajaran simbolis yang diwakili oleh lima jari manusia yaitu:
1.Jari kelingking: Melambangkan doa sebagai wujud penghambaan kepada Tuhan.
2.Jari manis: Melambangkan rasa syukur yang diwujudkan dalam tradisi slametan.
3.Jari tengah: Melambangkan ilmu sebagai panduan dalam membedakan yang baik dan buruk
4.Jari telunjuk: Melambangkan kearifan dan keadilan dalam bersikap
5.Ibu jari: Melambangkan pengendalian hawa nafsu sebagai simbol kebijaksanaan.
Tradisi dan Ritual Adat Bonokeling
Tradisi dan ritual adat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ajaran ini. Salah satu yang paling dikenal adalah ritual nyadran atau ziarah ke makam leluhur yang dilakukan mejelang bulan Ramadan. Dalam ritual ini, masyarakat berjalan kaki dari rumah menuju pusat ritual di desa Pekuncen, kecamatan Jatilawang sambil membawa makanan, seperti makanan tradisional atau hasil bumi sebagai bentuk penghormatan.
Setibanya di lokasi, mereka berkumpul untuk melaksanakan doa bersama dan membersihkan makam leluhur. Selain itu, terdapat pula aturan adat yang mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari tata cara berpakaian hingga pelaksanaan upacara tertentu.
Bagi komunitas Bonokeling, ritual bukan sekadar simbol, melainkan sarana untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Sistem Kepercayaan Masyarakat Bonokeling
Sistem kepercayaan masyarakat Bonokeling sendiri menekankan pada harmoni dan kesederhanaan hidup. Nilai-nilai seperti saling menghormati, menjaga hubungan dengan sesama, serta tidak melupakan asal-usul menjadi landasan utama. Mereka meyakini bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan dunia nyata, tetapi juga memiliki keterhubungan dengan dimensi spiritual dan leluhur.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang layak diajukan: apakah sistem kepercayaan seperti ini harus dipandang sebagai sesuatu yang tertinggal, atau justru sebagai bentuk kearifan lokal yang relevan di tengah krisis nilai modern?
Kehidupan Masyarakat Bonokeling
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Bonokeling hidup berdampingan dengan masyarakat umum tanpa sekat yang kaku. Mereka beraktivitas seperti biasa bertani, berdagang, dan berinteraksi sosial sambil tetap memegang teguh ajaran leluhur. Menariknya, di tengah penetrasi teknologi dan perubahan gaya hidup, sebagian generasi muda masih memilih untuk mempertahankan tradisi ini.
Namun, di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan modernitas juga mulai memengaruhi pola pikir dan praktik mereka. Di sinilah dilema muncul: antara menjaga tradisi atau beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pada akhirnya, keberadaan Bonokeling di Banyumas tidak hanya berbicara tentang sebuah komunitas adat, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memaknai identitas dan warisan budaya. Alih-alih melihatnya sebagai sesuatu yang usang, mungkin lebih tepat jika Bonokeling dipahami sebagai cermin keberagaman cara manusia mencari makna hidup.
Tantangan ke depan bukan hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana tradisi itu dapat tetap relevan tanpa kehilangan esensinya di tengah dunia yang terus berubah.(**)








