PURWOKERTO – Rencana Pemerintah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) penuh bagi mahasiswa semester 5 ke atas mulai April 2026 mulai memantik kekhawatiran di kalangan pedagang kecil di Kota Pendidikan.
Bukan tanpa alasan. Para pelaku UMKM di sekitar kampus Purwokerto mengaku cemas omzet bakal anjlok drastis jika mahasiswa memilih tinggal di kampung halaman masing-masing.
Kebijakan dari Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Kemendiksaintek) itu memang memberi fleksibilitas bagi mahasiswa tingkat akhir untuk riset, magang, atau menyusun skripsi. Namun di kampus-kampus seperti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), kebijakan ini belum sepenuhnya diterapkan—justru menimbulkan ketidakpastian.
“Beli Nasi Bungkusnya Siapa?”
Santi (35), pedagang nasi bungkus di sekitar kampus Unsoed, tak bisa menyembunyikan rasa was-was.
“Kalau nanti benar-benar PJJ penuh, mahasiswa kan milih di rumah, nggak di Purwokerto. Takutnya pembeli jadi sepi. Soalnya yang beli kebanyakan mahasiswa,” keluhnya.
Bagi Santi, ritme harian yang bergantung pada suara motor dan antrean mahasiswa pulang kuliah adalah nafkah utama. Jika itu hilang, ia tak tahu harus berjualan pada siapa.
Fotokopi dan Print Tugas Akhir Terancam Sepi
Kekhawatiran serupa juga dirasakan M (27), pemilik usaha jasa fotokopi. Menurutnya, mahasiswa lama adalah pelanggan setia untuk print skripsi, fotokopi modul tebal, hingga jilid laporan.
“Kalau dipikir-pikir ya kayanya ngaruh banget ke pendapatan. Yang paling sering fotokopi sama nge-print kan mahasiswa lama yang lagi skripsi,” ujarnya.
Kedai Kopi: Dari Tempat Nongkrong ‘Mumet’ Jadi Sepi
Tak hanya warung makan dan fotokopi, kedai kopi kampus pun ikut merasakan ancaman. Kiki (24), seorang karyawan kedai kopi, mengaku perubahan skema PJJ akan berdampak signifikan.
“Sayang banget sih. Di sini rame tuh karena mahasiswa yang pada mumet nugas akhir tapi tetep pengen nongkrong. Kalau PJJ ya bakalan sepi,” tuturnya.
Ia menambahkan, suasana nongkrong sambil mengerjakan tugas akhir sudah menjadi bagian dari budaya mahasiswa. Jika mereka tak hadir fisik, maka denyut ekonomi di kedai kopi akan berhenti.
Meski saat ini aktivitas kampus masih berjalan normal, para pelaku UMKM menilai potensi perubahan sistem pembelajaran bisa langsung berdampak pada pendapatan mereka.
Ketidakpastian inilah yang menjadi tantangan terbesar. Sebab, mereka tidak hanya menjual barang atau jasa—mereka hidup dari denyut ekonomi kampus yang setiap hari diisi oleh kehadiran mahasiswa.
Pertanyaannya kini: apakah pemerintah dan kampus akan mempertimbangkan ulang dampak sampingan kebijakan PJJ terhadap ekonomi rakyat di sekitar pendidikan? Atau para pedagang harus bersiap mencari nafkah dari cara lain?
Sambil menunggu kepastian, warung nasi bungkus, kedai kopi, dan tempat fotokopi di Purwokerto kini hanya bisa berharap agar mahasiswa tak benar-benar pulang kampung. (Salwa Kamila)








