Rangga Sujali | Freelance Writer
Gesang niku namung ndherek Dhawuh. Ada pemahaman yang mudah tentang kehidupan. Hidup hanya sekadar mengikuti perintah. Jika engkau lahir dari vagina kucing, maka tak mungkin akan menjadi anjing. Maka jangan mengaku macan jika gigi tengah yang muncul dominan sebagai pengerat, dari pada gigi taring.
Beberapa bulan terakhir, setidaknya lebih dari sebulan, saya memilih menonton drakor-dracin. Kendati paham dan bisa menebak alur cerita, setelah 30 detik menontonnya. Keajaiban, penyamaran, keberuntungan, hanya itu. China dan Korea paham algoritma dan target market. Maka satu ide cerita bisa dikemas dengan berbagai setting panggung dan make up artis.
Fantasi keberuntungan setelah mengalami keputusasaan sosial akut. Jalan Tuhan tak memberi jawaban, bernegara hanya bergelimang korupsi, politik nan penuh intrik. Lain sisi, putih, tinggi, payudara besar adalah insting sosial yang menjadi peluang eksplorasi. Dan pemenuhan kebutuhan insting itu dipahami betul oleh China.
Angkanya fantastis. Konten mikrodrama durasi 1–5 menit sangat populer dan ditonton oleh lebih dari 830 juta pemirsa di Asia secara umum. Dan gilanya Indonesia memimpin konsumsi drama pendek (mikrodrama) di Asia Pasifik dengan pangsa 39%, dengan pertumbuhan penonton mencapai 50% hingga 200% per kuartal sejak akhir 2023.
China menjadi super power. Jenang, perlambang sesuatu yang dimakan, didapat dengan melimpah. Jeneng, nama besar bukan hasil klaim pun dia peroleh. Dari pasar micro-drama Tiongkok diproyeksikan menghasilkan pendapatan signifikan, dengan laporan menyebutkan potensi mencapai US $ 16,2 miliar (sekitar Rp265 triliun). Pada tahun 2024, industri ini menembus 50 miliar yuan (sekitar US $ 6,9 miliar).
Dan kita tetap sebagai pasar yang putus asa.








