FOKUS- Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dinilai masih belum diamalkan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Minimnya pemahaman mendalam tentang Pancasila, khususnya di kalangan generasi muda, menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
Hal tersebut menjadi salah satu poin penting dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema “Pancasila Sebagai Alat Pemersatu Bangsa” yang diinisiasi oleh Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah, H. Bambang Hariyanto Baharudin (BHB), pada Selasa (25/2/2025) di Aula Kecamatan Gumelar.
“Karena itulah, sosialisasi tentang nilai-nilai Pancasila harus terus diperbanyak dan digencarkan, baik melalui pendidikan formal di sekolah maupun kegiatan di luar pendidikan formal,” ujar BHB dalam forum tersebut.
BHB juga menekankan pentingnya pembaruan metode pembelajaran agar Pancasila tidak hanya menjadi materi hafalan, tetapi benar-benar tertanam dalam perilaku dan karakter anak sejak dini.
“Pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila harus menjadi prioritas. Dengan begitu, kita bisa menciptakan generasi penerus yang memiliki semangat persatuan, toleransi, dan cinta tanah air,” tambahnya.
FGD tersebut dihadiri oleh peserta dari kalangan warga, aparatur desa, dan tokoh masyarakat di seluruh wilayah Kecamatan Gumelar. Forum ini dimoderatori oleh Julian Hariyadi dari Komunitas Juang dan dihadiri oleh jajaran Forkopimcam Gumelar.
Dwi Andika Barnabas dari PA GMNI Banyumas dan Angga Saputra, Pemimpin Redaksi portal berita indiebanyumas.com, hadir sebagai narasumber dalam forum ini.
Dalam pemaparannya, Dwi Andika Barnabas menegaskan bahwa Pancasila adalah ideologi yang secara eksplisit menempatkan persatuan sebagai nilai dasar.
“Semangat persatuan ini ditujukan untuk menciptakan kehidupan kebangsaan yang merdeka tanpa adanya penindasan antara satu manusia dengan manusia lain atau satu kelompok terhadap kelompok lain,” ujar Andika.
Ia menilai pentingnya menumbuhkan nasionalisme yang tidak bersifat chauvinisme, agar tidak menjurus pada penindasan bangsa lain. Menurutnya, semangat persatuan ini harus diarahkan untuk menghindari bentuk-bentuk kolonialisme kapitalis.
Andika juga menegaskan bahwa semangat persatuan adalah “ruh” atau “jiwa” perjuangan untuk mencegah dan melawan eksploitasi manusia serta kekayaan alam demi kepentingan segelintir golongan tertentu.
“Oleh karena itu, semangat persatuan harus sejalan dengan upaya mewujudkan nilai gotong royong dari semua untuk semua,” tegasnya.
Sementara itu, Angga Saputra menyoroti pentingnya implementasi sila kelima Pancasila, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, yang seharusnya memastikan setiap warga negara mendapatkan hak yang sama tanpa diskriminasi.
“Kenyataannya, masih terjadi disparitas yang semakin melebar antara kelompok elit, kelas menengah, dan masyarakat kecil, baik dalam konteks ekonomi, pendidikan, maupun aspek lainnya,” ungkap Angga.
Meski demikian, Angga tetap optimistis bahwa Pancasila adalah solusi bagi bangsa Indonesia sebagai alat pemersatu menuju keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
“Dalam sejarahnya, Pancasila telah terbukti menjadi pemersatu bangsa, mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda, proklamasi kemerdekaan, hingga era reformasi,” jelasnya.
Angga juga menegaskan pentingnya peran setiap generasi dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga serta menuntaskan hal-hal yang belum sepenuhnya terlaksana dalam pengamalan Pancasila. (indiebanyumas)









