BANYUMAS – Potensi Purwokerto untuk menjadi pusat ekosistem kreatif dalam dunia perfilman semakin nyata. Hal ini mengemuka dalam diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film, di mana berbagai pihak menyatakan komitmennya untuk mendukung perkembangan industri film di kota ini.
Wasis Wardhana, salah satu sineas yang hadir dalam diskusi, menekankan bahwa modal utama seorang pembuat film adalah kepekaan dalam melihat realitas sosial dan kreativitas dalam menerjemahkannya ke dalam medium film, baik fiksi maupun dokumenter.
“Karena kerja film adalah kerja kolektif, maka adanya ekosistem kreatif sangat penting untuk menjamin keberlanjutan dalam dua aspek, yaitu peningkatan kualitas melalui peningkatan kapasitas dan penguatan jejaring pendistribusian film yang telah diproduksi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Purwokerto memiliki potensi besar untuk membangun ekosistem kreatif tersebut. Dengan banyaknya kampus yang memiliki disiplin ilmu terkait film dan tayangan audio visual, serta banyaknya SMK yang memiliki jurusan yang berfokus pada produksi audio visual, peluang untuk membangun ekosistem ini sangat terbuka. Selain itu, kehadiran berbagai komunitas yang bergerak di bidang produksi film dan pengelolaan database serta networking semakin memperkuat potensi tersebut.
“Tinggal bagaimana pemerintah mau mengambil peran dalam inisiasi ekosistem ini,” tambahnya.
Mendukung pernyataan tersebut, Bahrudin SE MM dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyumas menyatakan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Purwokerto memiliki sineas-sineas berbakat dengan karya luar biasa. Kami siap untuk menjadi bagian dari ekosistem ini,” tegasnya.
Senada dengan itu, Nanki, Direktur Festival Film Purbalingga (FFP), menekankan pentingnya konsistensi dan komitmen dalam membangun ekosistem kreatif film.
“Festival Film Purbalingga kini sudah memasuki tahun ke-19. Artinya, konsistensi dan komitmen untuk terus tumbuh adalah kunci dalam membangun ekosistem ini,” ujarnya.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Universitas Islam Negeri (UIN), hingga Amikom, serta pelajar dari SMK dan SMA. Perwakilan dari Disbudpar Banyumas dan Cilacap juga turut hadir dalam acara ini.
Alfin, seorang guru jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK Kesatria, turut memberikan pandangannya. Ia menekankan pentingnya ekosistem kreatif agar siswa tidak hanya mendapatkan ilmu di sekolah, tetapi juga memiliki kesempatan belajar secara langsung dari praktisi.
“Lebih penting lagi, mereka dapat pengetahuan berbasis pengalaman dari para praktisi. Ini jelas sesuai dengan semangat Merdeka Belajar,” pungkasnya.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan ekosistem kreatif film di Purwokerto dapat segera terwujud, memberikan manfaat bagi sineas muda dan mengembangkan industri kreatif di wilayah tersebut.
Seperti diketahui acara ‘Nonton & Ngobrol Bareng Filmmaker’, tersebut digelar ditengah tengah Festival Kosa Kata.
Kosa Kota Festival (KKF), festival literasi, seni, dan budaya terbesar di wilayah ini. Digelar selama 10 hari penuh di Taman Mas Kemambang, festival ini berlangsung dari 14 hingga 23 Februari 2025, setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB.
Mengusung tema “Keyeng Maca, Urip Sentosa”, yang berarti rajin membaca membuat hidup sejahtera, KKF menghadirkan perpaduan edukasi dan hiburan dalam satu perayaan
besar.
Festival ini menjadi ajang kolaborasi antara komunitas literasi, penerbit, seniman,budayawan, serta pelaku UMKM Banyumas, dengan berbagai kegiatan menarik, termasuk bazar buku, kelas menulis, festival seni dan budaya, simposium, perlombaan, bazar UMKM,
serta donasi buku.
Koordinator Umum KKF, Mahéng, mengatakan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajanghiburan, tetapi juga sebuah gerakan sosial yang berdampak luas. “Literasi adalah fondasi agarbangsa kita mandiri, seni menjaga kita tetap peka, dan budaya adalah cara agar kita terusberkarya. Ketiganya harus berjalan bersama agar generasi muda tidak melupakan cita-cita pendiri bangsa,” katanya.
Sementara itu acara ‘Nonton & Ngobrol Bareng Filmmaker’, ini menampilkan karya-karya sineas Banyumas sekaligus menjadi ajang diskusi tentang pengembangan ekosistem kreatif, khususnya di bidang film.
Salah satu film yang akan diputar dalam acara ini adalah Home for All, karya Wasis Wardhana, yang berhasil meraih penghargaan Best Film kategori Living with Wildlife di International Wildlife Film Festival 2021, Montana. Film ini akan diputar di Banyumas sebagai bagian dari upaya memperkenalkan karya-karya lokal yang mendunia.
Selain Home for All, acara ini juga akan menayangkan beberapa film lain yang tidak kalah menarik, di antaranya:
MBATIN (JIWA) – Gilang Akbar . SAJEN – Nisa Roiyasa/Wasis Wardhana (FIB Unsoed). HIKAYAT RUPA SOKARAJA – Seno Aulia Wijayanto (SMAN 2 Purwokerto). (Angga Saputra)









