Angga Saputra
Zoroastrianisme, agama kuno pra-Islam Iran, hingga kini masih bertahan di sejumlah kantong terpencil dan berkembang lebih subur di India. Di Negeri Anak Benua itu, keturunan imigran Zoroastrian Iran dikenal sebagai komunitas Parsi atau Parsis.
Agama yang didirikan oleh Nabi Zarathushtra—yang lebih dikenal di dunia Barat sebagai Zoroaster—ini mengandung ciri-ciri monoteistik dan dualistik yang khas. Para ahli meyakini Zoroastrianisme kemungkinan besar memengaruhi perkembangan agama-agama besar Barat lainnya, termasuk Yudaisme, Kristen, dan Islam .
Monoteisme dan Dualisme dalam Satu Bingkai
Dilansir dari britannica.com, Zoroastrianisme menghadirkan keunikan teologis dengan menggabungkan dualisme kosmogonik dan monoteisme eskatologis. Keyakinan ini menggambarkan pergerakan melalui waktu dari dualisme menuju monoteisme, di mana kebaikan pada akhirnya akan menang atas kejahatan .
Dalam ajaran ini, Ahura Mazda—Tuhan yang Maha Bijaksana—berada dalam pertarungan melawan Angra Mainyu, roh perusak. Namun berbeda dengan dualisme ketat, Zoroastrianisme meyakini bahwa kebaikan pada akhirnya akan meraih kemenangan mutlak. Inilah yang membuat agama ini tidak dapat dikategorikan secara sederhana sebagai monoteistik atau dualistik murni .
Warisan yang Mempengaruhi Peradaban Dunia
Pengaruh Zoroastrianisme terhadap peradaban dunia sangatlah luas. Orang Yunani kuno memandang ajaran ini sebagai arketipe pandangan dualistik tentang dunia dan takdir manusia. Bahkan, Zarathushtra diyakini telah mengajar Pythagoras di Babilonia dan menginspirasi doktrin astrologi serta sihir Kaldea .
Tradisi Yahudi dan Kristen pun mengidentifikasi Zoroaster dengan tokoh-tokoh seperti Yehezkiel, Nimrod, dan bahkan Yesus Kristus melalui keterkaitan dengan Barukh. Di sisi lain, karena dianggap sebagai pendiri astrologi dan sihir, Zarathushtra juga dipandang sebagai bidat utama oleh sebagian kalangan .
Perjalanan Panjang di Bawah Kekuasaan
Di bawah Kekaisaran Akhemenid, agama ini berada di tangan kaum Majus, yang oleh sejarawan Yunani Herodotus digambarkan sebagai suku Media dengan adat istiadat khusus. Namun, hubungan historis antara Majus dan ajaran Zarathushtra masih menjadi perdebatan para sejarawan .
Pada masa Kekaisaran Sasaniyah, Zoroastrianisme mencapai puncak kejayaannya sebagai agama negara. Namun, penaklukan Islam pada abad ke-7 M mengubah segalanya. Meskipun Islam pada prinsipnya mentoleransi agama kuno ini, konversi besar-besaran terjadi di banyak provinsi, dan Zoroastrianisme perlahan menyusut menjadi agama minoritas yang terpinggirkan .

Komunitas Parsi: Bertahan di Tanah Asing
Sejak abad ke-10, kelompok-kelompok Zoroastrian mulai beremigrasi ke India, di mana mereka menemukan suaka di Gujarat. Di bawah perlindungan penguasa Hindu setempat, komunitas ini kemudian dikenal sebagai Parsi—yang berarti “Persia” dalam bahasa Gujarat .
Di bawah pemerintahan Inggris, kaum Parsi berkembang pesat. Dari petani sederhana, mereka menjelma menjadi komunitas pedagang dan industrialis yang makmur, terutama di Bombay (kini Mumbai). Mereka mengadopsi berbagai kebiasaan modern: pakaian ala Inggris, pendidikan untuk anak perempuan, dan penghapusan pernikahan anak. Dalam kegiatan amal dan bisnis, mereka mengikuti jejak Barat .
Menyongsong Masa Depan dengan Tradisi dan Modernitas
Komunitas Parsi menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Mereka meminimalkan praktik-praktik yang dianggap menjijikkan bagi umat Hindu, seperti pengorbanan darah, sambil tetap mempertahankan ritual-ritual inti keagamaan. Serangan misionaris Kristen yang mengkritik dualisme dalam agama mereka justru mendorong komunitas ini untuk semakin menekankan aspek monoteistik dari doktrin mereka .
Saat ini, Zoroastrianisme diperkirakan memiliki kurang dari 150.000 penganut di seluruh dunia . Namun, warisan intelektual dan spiritualnya tetap terasa dalam peradaban global.
Di Iran, komunitas Zoroastrian masih bertahan di kantong-kantong kecil, meskipun menghadapi diskriminasi di bawah pemerintahan Republik Islam. Sementara di diaspora, mereka terus menjaga api tradisi tetap menyala—sebuah metafora yang tepat bagi agama yang sejak ribuan tahun lalu menjadikan api sebagai simbol utama kesucian dan cahaya pengetahuan.






