INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas: Ketika Tionghoa dan Jawa Bersatu dalam Satu Kesakralan

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas: Bukti Langka Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa

Suasana di kawasan Klenteng Boen Tek Bio Banyumas pada Sabtu (16/5/2026). Pada hari itu, ratusan peserta mengikuti kirab budaya dalam rangka peringatan 200 tahun kepemilikan tanah serta syukur atas hari jadi tempat ibadah Tri Dharma tersebut.

Minggu, 9 Agustus 2026

Di tengah hiruk-pikuk wisata religi yang cenderung homogen, Klenteng Boen Tek Bio di Banyumas berdiri sebagai bukti nyata akulturasi dan harmonisasi budaya Tionghoa dan Jawa. Keunikan ritual serta kedalaman nilai keharmonisan antarbudaya ini jarang ditemukan di Indonesia.

Berlokasi di kawasan yang dikenal masyarakat setempat sebagai Desa Pecinan, kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi etnis Tionghoa, tetapi juga ruang sakral bagi penghormatan terhadap leluhur Jawa.

Dua Kultur dalam Satu Kesakralan

Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, Sobita Nanda, menjelaskan bahwa kebanyakan kelenteng di Indonesia hanya mengangkat satu kultur budaya. Namun, Boen Tek Bio berbeda.

“Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas adalah sedikit kelenteng yang ada di Indonesia yang memiliki akulturasi budaya. Ia mengangkat dua kultur budaya dengan kesakralannya masing-masing, yaitu budaya leluhur dari tanah Tiongkok dan budaya Banyumasan atau budaya Jawa,” ujar Sobita.

Pendopo Jawa dan Altar Mbah Kuntjung

Salah satu bukti nyata akulturasi tersebut adalah keberadaan bangunan pendopo bergaya Jawa lengkap dengan atap limasan, rempe-rempe, serta ornamen ukiran yang mengacu pada Keraton Surakarta Hadiningrat. Pendopo ini dibangun pada tahun 1992 berdasarkan petunjuk yang memperbolehkan adanya bangunan tradisional Jawa di area kelenteng.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1993, pihak kelenteng mendapatkan petunjuk adanya energi leluhur asli Banyumas yang dikenal dengan nama Mbah Kuntjung.

“Sejak saat itu, kita mendirikan satu meja sembahyang untuk pendopo, untuk meluhurkan leluhur orang Banyumas, yaitu Mbah Kuntjung. Sampai saat ini kita meluhurkan beliau,” kata Sobita.

Ritual Ala Kejawen, Tanpa Daging

Sobita menjelaskan, ritual sembahyang di altar Mbah Kuntjung sepenuhnya mengacu pada budaya Jawa. Sajian yang digunakan adalah jajanan pasar. Karena Mbah Kuntjung diketahui sebagai leluhur yang vegetarian, maka tumpeng kuning yang disajikan pun tanpa menggunakan daging.

Prosesi ibadah juga menggunakan kemenyan, kembang telon, serta dupa berwarna hitam dengan gagang merah, yang merupakan jenis dupa yang biasa digunakan untuk ritual kejawen atau Hindu.

“Ini berbeda dengan ritual kepada leluhur Tionghoa yang biasa menggunakan dupa merah dengan gagang merah,” imbuhnya.

Keris sebagai Simbol Luhur Budaya Jawa

Di altar Mbah Kuntjung, tidak ada patung atau wajah karena wujud asli Mbah Kuntjung tidak diketahui. Sebagai gantinya, ditempatkan tiga buah keris. Namun Sobita menegaskan, keris tersebut bukanlah Mbah Kuntjung, melainkan lambang luhurnya budaya Jawa.

Ia menjelaskan bahwa keris pada masa lalu dibuat dari batu meteorit, bukan besi. Proses pembuatannya dilakukan sambil memanjatkan doa dalam bahasa Jawa yang dikenal sebagai mantra atau kidung, seperti kidung reksa bumi dan kidung kolosebo.

“Leluhur kita sudah berpikir canggih saat itu. Mereka memanjatkan doa dengan lagu. Lama-kelamaan, alat yang dibentuk itu pun menyimpan energi. Ini logis, bukan hal yang klenik,” jelas Sobita.

Ia menganalogikan hal tersebut dengan Alkitab bagi umat Kristen, Al-Qur’an bagi Muslim, serta tasbih dan rosario bagi umat Katolik yang sering digunakan pun turut menyimpan energi ketenangan.

“Keris bukan dimusyrikkan. Energi itu real, itu kuasa ilahi. Tidak perlu ada pengkultusan berlebihan karena keris adalah luhurnya budaya Jawa,” tegasnya.

Dikunjungi Berbagai Kalangan hingga Pejabat

Altar Mbah Kuntjung tidak hanya dikunjungi oleh komunitas Jawa, tetapi juga etnis Tionghoa yang ikut bersembahyang di sana. Beberapa tokoh yang kerap berkunjung antara lain Kanjeng Sinuwun Tejowulan, Ibu Popi Darsono, Mbak Mitro dari Bonokling, serta komunitas pencinta keris dan desa-desa adat di Banyumas.

“Etnis Tionghoa pun pada saat melakukan sembahyang, altar Mbah Kuntjung juga ikut disembahyangi. Karena sesungguhnya doa yang baik kepada leluhur, kebaikan itu akan kembali kepada diri kita. Itu nyata, bukan karena hal-hal yang klenik,” ujar Sobita.

Dari Sejarah ke Realitas: Klenteng Sebagai Ruang Belajar dan Ibadah

Sebelum menjadi simbol akulturasi seperti sekarang, kelenteng atau Miao telah ada sejak zaman Raja Suci Yao dan Shun (2356–2205 SM) sebagai tempat sembahyang kepada Tian dan leluhur. Pada zaman itu, hanya raja dan anggota kerajaan yang dapat bersembahyang di dalam kelenteng. Rakyat biasa hanya dapat bersembahyang kepada arwah leluhurnya.

Menyadari ketimpangan ini, Nabi Kongzi mulai memikirkan cara agar rakyat biasa juga dapat menerima ajaran ibadah. Ia menjadikan kelenteng sebagai tempat masyarakat menjalankan ibadah sekaligus belajar membina kehidupan rohani. Dengan memasukkan unsur Ketuhanan dalam kelenteng, Kongzi berhasil memberikan kesempatan kepada rakyat biasa untuk bersembahyang kepada Tian.

Tokoh selanjutnya, Xunzi (326-233 SM), mewajibkan para kaisar membangun tujuh kelenteng besar sebelum naik takhta, gubernur membangun lima, dan bupati membangun tiga di wilayahnya. Sejak itulah pembangunan kelenteng berkembang pesat di seluruh Tiongkok.

Tiga Klenteng di Banyumas

Eksistensi klenteng di Banyumas cukup signifikan. Terdapat tiga klenteng di wilayah Kabupaten Banyumas: di Purwokerto, Sokaraja, dan Banyumas.

Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto didirikan pada tahun 1831 oleh Oey Yoe Wan, seorang pemimpin pedagang China. Berada di Jalan Pemotongan No. 3, tepat di belakang Pasar Wage Purwokerto, gerbangnya didominasi warna merah dan kuning—simbol keberanian dan kesetiaan. Di dalamnya terdapat ornament khas: sepasang naga berebut mustika di atas gerbang serta patung singa (ciok say) hijau di depan gerbang yang berfungsi mengusir roh jahat.

Klenteng Hok Tek Bio Sokaraja dibangun sekitar tahun 1826 di atas tanah hibah dari tokoh Tionghoa bernama Koli Ki. Terletak strategis di Jalan Jenderal Sudirman, pusat Kecamatan Sokaraja, klenteng ini memiliki arsitektur khas Tionghoa dengan dominasi warna merah dan hiasan naga megah. Selain menjadi pusat ibadah dan perayaan hari besar seperti Imlek, klenteng ini juga menjadi daya tarik wisata budaya karena keindahan bangunannya yang terawat.

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas menjadi yang paling istimewa. Ia tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan ruang di mana dua budaya—Tionghoa dan Jawa—bersatu dalam kesakralan yang saling menghormati.

Barongsai memukau ribuan pasang mata dalam kirab budaya Klenteng Boen Tek Bio Banyumas.

Merawat Toleransi dari Akar Budaya

Di tengah gempuran modernitas dan homogenisasi budaya, Klenteng Boen Tek Bio Banyumas mengajarkan sebuah pelajaran berharga: harmoni tidak harus berarti menghilangkan perbedaan, tetapi justru memberi ruang bagi setiap identitas untuk hadir dengan caranya masing-masing.

Di sinilah nilai toleransi tidak diucapkan, tetapi dipraktikkan. Ia hadir dalam aroma dupa hitam dan merah yang sama-sama mengepul ke langit. Ia terpahat dalam ukiran Keraton Surakarta yang berdiri berdampingan dengan altar dewa-dewi Tionghoa.

Klenteng Boen Tek Bio bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah percakapan panjang antara dua peradaban yang memilih untuk saling mendengar. Dan di ruang itu, semua doa—dalam bahasa apa pun—naik ke tempat yang sama.

Tim Redaksi 

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Zoroastrianisme: Warisan Monoteisme Kuno yang Bertahan Hingga Kini

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas: Bukti Langka Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa

Klenteng Boen Tek Bio Banyumas: Ketika Tionghoa dan Jawa Bersatu dalam Satu Kesakralan

Minggu, 9 Agustus 2026

Zoroastrianisme: Warisan Monoteisme Kuno yang Bertahan Hingga Kini

Zoroastrianisme: Warisan Monoteisme Kuno yang Bertahan Hingga Kini

Minggu, 9 Agustus 2026

Simfoni yang Terputus di Usia 27

Simfoni yang Terputus di Usia 27

Minggu, 9 Agustus 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com